Pengantin Remaja

DI udara tercium bau sangit seperti ada daging terbakar. Tok Beko baru saja terjaga, matanya terbuka, menangkap corak pada langit-langit pondok. Dihidunya bau sangit itu dengan lebih teliti, hidungnya mengendus-endus, sementara pandangannya tetap tertancap pada corak tribal yang melingkar-lingkar merupa akar tanaman liar. Kemudian dipusatkannya perhatian pada pendengarannya, namun tak ada suara apa-apa. Dia menengok ke samping dan hanya melihat selimut tebal dari kulit binatang; rupanya Cik Nuna sudah bangun sejak tadi.

Mereka menikah enam purnama lalu. Dengan suatu prosesi singkat, Ambe Balang, pendeta di Barajui, meresmikan Tok Beko jadi suami, dan Cik Nuna jadi istri. Prosesi itu dilakukan malam hari, di pondok tempat Ambe Balang tinggal, di kaki bukit sebelah utara permukiman. Tak ada siapa-siapa kecuali mereka bertiga. Sepasang calon pengantin berbaring di lasah yang terbuat dari bambu betung. Ambe Balang menyodorkan pada mereka dua butir buah berbentuk jantung manusia untuk dimakan. Setelah itu mereka harus tetap berbaring sampai matahari terbit. Jika mereka selamat; artinya jika gerombolan Njanje tak datang memangsa, resmilah mereka jadi suami-istri. Kata Ambe Balang, gerombolan Njanje akan memangsa mereka, jika hati mereka tak tulus dan berserah.

Orang-orang di Barajui tahu apa itu Njanje; hewan yang serupa kalong namun bertubuh sebesar lebah tanah, memiliki cakar di enam kakinya, serta moncong yang mengeluarkan getah racun. Hewan itu keluar pada malam hari dalam suatu kelompok besar, menyebar mencari mangsa. Bukan cuma tanaman atau ternak, Njanje kabarnya juga gemar memangsa manusia. Namun, tak setiap malam hewan itu keluar, mereka hanya keluar jika Barajui sedang dilanda aib.

Menyadari bau sangit makin tajam, Tok Beko segera bangkit. Dibukanya jendela kecil di dinding sebelah kiri. Pemandangan tampak segar; rerimbun pepohonan di bawah langit yang sedikit mendung. Hujan rupanya baru saja rampung, dedaunan basah menetes-neteskan air, dan bila pandangan diarahkan sedikit ke bawah, di kejauhan, di balik daun-daun itu tampaklah atap-atap rumah penduduk. Sejak enam purnama lalu, dia dan istrinya tak lagi tinggal di permukiman. Mereka membangun sebuah rumah kecil di atas pohon Malolo, yang seturut Ambe Balang, adalah pohon tertua di perbukitan itu. Pohon Malolo hanya berbuah pada waktu-waktu tertentu. Pohon itu, kata Ambe Balang, adalah pohon asmara, diturunkan dari Nirvana bersama manusia pertama, karena itu buahnya menyerupai jantung manusia, merah dan berdenyut-denyut. Tapi orang-orang di permukiman tak percaya, mereka bahkan mengatakan pohon itu simbit; tempat berdiamnya mambang dan demit.

Dari bawah pohon, manakala Tok Beko menengok, dilihatnya asap tipis mengepul. Seketika ingatannya melayang ke enam purnama sebelumnya. Beberapa saat setelah menelan buah Malolo, Tok Beko melihat asap tipis yang sama, yang mula-mula disangkanya utas benang, menutupi tubuh telanjang seorang perempuan. Pelan-pelan disadarinya bahwa perempuan itu adalah ibunya. Matanya biru, kulitnya putih kemerahan seperti kulit sapi yang banyak dipelihara penduduk. Ibunya tak berkata apa-apa, hanya menatapnya dengan pandangan yang tak mampu ia baca maknanya. Lalu Tok Beko mendengar bunyi dengung yang makin lama makin dekat. Sebentar kemudian tahulah Tok Beko bahwa bunyi dengung itu ditimbulkan oleh gerombolan Njanje yang dalam waktu singkat telah merubung tubuh telanjang ibunya. Tok Beko hendak menjerit, tapi suaranya tercekat di batang tenggorokan.

“Turunlah! Tadi Ambe membawa daging buat kita.” Terdengar seruan dari bawah. Itu suara Cik Nuna. Tok Beko segera meraih akar Malolo yang berjuntai serupa rambut raksasa lantas menggunakannya untuk turun. Tubuhnya berayun-ayun beberapa kali sebelum terjun ke tanah. Dilihatnya Cik Nuna berjongkok di hadapan bara api. Punggungnya yang terbuka tegak lurus, muda, dan berpendar-pendar. Di atas bara, melintang beberapa batang bambu yang di tengahnya masing-masing terdapat potongan-potongan daging.

“Daging apa?” tanya Tok Beko. Istrinya bangkit. Tok Beko melepas senyumnya. Meski sudah menikah selama enam purnama, rasanya masih sulit dipercaya mereka sekarang berdiri telanjang bulat di luar ruangan, di tengah bentangan alam. Sebelumnya, tentu saja, mereka hidup sebagaimana semua orang di permukiman. Lahir dan tumbuh di desa yang penuh dengan hasil-hasil pertanian juga hewan-hewan ternak yang sehat, mereka telah diajari memakai pakaian sejak bayi, berlaku sopan di hadapan orang, dan belajar menanam palawija, atau memerah susu sapi. Keluarga mereka bukan hanya saling mengenal, tapi juga berkerabat. Ketika mereka beranjak remaja, Cupid mulai melepas panahnya seperti juga pada remaja-remaja lainnya, dan mereka pun dilanda asmara. Semula tak ada larangan bagi hubungan mereka, sampai mereka memutuskan menikah di hadapan Ambe Balang.

“Cobalah,” ujar Cik Nuna sembari menyodorkan batang bambu berisi daging. Tok Beko mengambil sepotong. Daging itu masih panas dan terasa empuk di jarinya. Cepat-cepat dimasukkannya ke dalam mulut. Sambil sesekali mendesis, dikunyahnya daging itu. Meski amis namun terasa manis. “Daging apa?” kata Tok Beko mengulang pertanyaannya.

“Ambe tak memberitahuku. Dia cuma bilang daging ini baik untuk orang hamil.”

“Hamil?”

“Apakah kau tak merasakannya?” tanya Cik Nuna. Senyumnya mengembang.

Orang-orang di Barajui bilang bahwa nama Ambe Balang yang sebenarnya adalah Lusife; iblis yang melarikan diri dari Hella, neraka abadi di alam sana. Dia sudah bermukim di perbukitan jauh sebelum mereka yang mendirikan permukiman tiba di kawasan itu. Bahkan sebelum mendirikan permukiman, para penghuni awal itu membuat perjanjian dengan Lusife. Perjanjian itu kurang-lebih berbunyi: di masa-masa tertentu, salah seorang anak yang lahir di Barajui akan tumbuh menjadi seseorang dengan watak yang buruk; menjadi seorang begundal atau pemberontak, selalu menentang aturan, dan tak peduli pada kesopanan. Sejak remaja, anak itu akan mewakili dosa dan aib Lusife. Itu akan berlangsung sepanjang hidupnya, dan kelak bila anak itu mati, rohnya akan diseret ke Hella untuk menggantikan Lusife.

Karena dosa dan aib Lusife sangat banyak, dibutuhkan pula banyak pengganti, sampai nanti Lusife bersih dari dosa, dan bisa naik ke Nirvana sebagai malaikat suci. Kepada para penghuni awal Barajui, Lusife meminta dirinya dipanggil Ambe Balang, yang berarti “pendeta bijak”.

Sejak perjanjian tersebut, tiap ada bayi yang lahir, orang tuanya pasti khawatir kalau anak merekalah yang akan jadi pengganti Lusife. Karena itu mereka sudah mulai mengajarkan kesopanan sejak anak-anak mereka masih bayi. Hal lain yang mereka cemaskan adalah calon pengganti Lusife akan punya kemampuan menggoda dan merayu teman-teman sebaya untuk mengikuti perbuatannya. Jika di permukiman sudah mulai tampak ada anak yang nakal, orang-orang juga mulai cemas gerombolan Njanje akan muncul, merusak pertanian atau memangsa ternak, bahkan memangsa mereka. Kemunculan Njanje adalah tanda utama munculnya calon pengganti Lusife.

Di masa-masa seperti itu Lusife akan sering menyebarkan sihirnya. Banyak peristiwa yang terjadi tak bisa dicerna akal. Ada orang sehat yang tiba-tiba mati, sementara yang sakit jadi seketika sehat. Ada orang yang menetak-netak pohon dengan parang untuk menebangnya, tapi pohon itu tak tergores sedikitpun, sementara di rumah, istri orang itu meraung-raung dengan tubuh penuh luka seakan-akan dialah yang ditetak suaminya.

Namun bagi Tok Beko dan Cik Nuna, Ambe Balang bukanlah Lusife Sang Iblis. Sebaliknya, dia adalah peri penyelamat. Mereka telah bertemu dengannya jauh sebelum mereka memutuskan menikah. Waktu itu, seratus dua puluh purnama sebelumnya, mereka bermain terlalu jauh dari ladang hingga tersesat di dalam hutan perbukitan. Ambe Balang menyelamatkan mereka, dan menunjukkan jalan pulang setelah memberi masing-masing sebatang kembang Malolo untuk dimakan. Ambe Balang juga bilang, Tok Beko dan Cik Nuna adalah titisan Ammad dan Avve, sepasang manusia pertama yang diturunkan dari Nirvana.

Setelah memakan kembang Malolo, Tok Beko dan Cik Nuna tertidur, dan ketika terjaga mereka sudah berada di rumah masing-masing. Sejak itu, Tok Beko dan Cik Nuna diam-diam memuja Ambe Balang. Maka ketika mereka beranjak remaja dan dilanda asmara, mereka memutuskan menikah di depan sang penyelamat itu.

Keputusan itu tentu saja ditentang oleh keluarga mereka, bahkan kemudian terjadi pertengkaran. Ayah Cik Nuna menuduh Tok Beko sebagai calon pengganti Lusife, yang menyebar tipu daya pada Cik Nuna. Begitu pula sebaliknya, ibu Tok Beko menuduh Cik Nuna sebagai calon pengganti Lusife yang berusaha merayu Tok Beko untuk mengikuti langkahnya. Pertengkaran keluarga justru makin menguatkan keinginan Tok Beko dan Cik Nuna untuk sesegera mungkin menemui Ambe Balang. Maka begitulah, diam-diam mereka menemui Ambe Balang untuk melaksanakan prosesi pernikahan. Dan setelah enam purnama, tak seorang pun, bahkan kerabat mereka sendiri, yang mencari mereka ke bukit, seakan-akan mereka tak pernah ada di permukiman itu.

“Mungkin aku merasakan tanda-tanda, tapi aku tak berpikir itu berhubungan dengan kehamilan,” ujar Tok Beko. Kali ini diambilnya batang bambu dari tangan Cik Nuna. Dicabutnya satu potong utuh daging tadi dan dilahapnya dengan rakus. “Bagaimana denganmu?” lanjutnya.

“Aku bukan hanya merasakannya, aku juga melihatnya dengan jelas. Beberapa waktu belakangan kau kelihatan lesu, tapi aku melihat suatu pancaran yang lain di wajahmu. Itu tanda-tanda yang jelas,” jawab Cik Nuna. Tok Beko menghentikan kunyahannya, “Maksudmu?” Cik Nuna kembali tersenyum. Diambilnya lagi sebatang bambu, tapi semenjak tadi, dia belum sedikit pun memakan daging bakar itu.

“Ambe sudah mengatakan padaku bahwa setelah menikah kita akan punya anak. Tapi anak itu tidak akan lahir dariku. Kaulah yang akan hamil dan melahirkan.”

Tok Beko terdiam. Tatapannya berpindah dari Cik Nuna ke perutnya sendiri. Dia… merasakan ada yang bergerak-gerak dalam perutnya, seakan ribuan Njanje bergumpal-gumpal di sana, siap untuk menghambur keluar.

“Tidakkah kau merasa bahagia? Kita akan punya anak dan kau akan menjadi seorang ibu,” ujar Cik Nuna. Kali ini senyumnya tak lagi mengembang. ***

Kekalik, Juli 2021

Kiki Sulistyo lahir di Ampenan, Lombok. Dua kumpulan cerpennya akan segera terbit, Bedil Penebusan dan Muazin Pertama di Luar Angkasa. Sehari-hari ia bekerja di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Arsip Cerpen di Indonesia