Puntung Rokok

Cerpen Yusab Alfa Ziqin (Radar Bojonegoro, 01 Agustus 2021)

SUDAH bertahun-tahun tak pernah ada pasar malam lagi di alun-alun kota. Hiburan rakyat mampu dinikmati oleh kelas masyarakat paling miskin itu kini lenyap. Kabar meniup, sejak ada wahana permainan eksklusif berdiri di kota, pasar malam buat rakyat itu harus mampus.

Hanya sedikit orang sadar akan keadaan ini dan mulai bertanya, “Mengapa alun-alun tak pernah ada acara sekarang? Mengapa alun-alun hanya digunakan kampanye pemilu saja tiap lima tahun sekali? Mengapa, hehehe?!”

Sementara itu, di rukonya, Indri seorang ibu muda menyisir rambut anaknya. Tiara, bocah kelas dua sekolah dasar itu memerlukan bertanya perihal alun-alun pada ibunya. “Mama, mengapa alun-alun selalu sepi kalau malam?”

“Banyak hantu di sana, Cantik. Sekarang ini alun-alun hanya boleh dipakai pagi sampai sore,” jawab Indri sekenanya sambil tertawa.

“Mengapa begitu, Mama?”

“Ah, Mama juga tidak tahu. Nanti tanya sama Om Danang saja, ya,” ibu muda itu menciumi anaknya.

Selang setengah jam, sebuah mobil berhenti di depan ruko Indri. Seorang pria berseragam turun dari sana dan masuk ke dalam ruko. “Mama … turun … Om Danang datang,” seru Tiara pada ibunya di lantai atas.

Pria bernama Danang itu tersenyum ceria, menggendong badan Tiara dan bertanya, “Baru jam sepuluh kok sudah pulang, Cantik?”

“Guru-guru sedang rapat, Om. Jadi pulang lebih cepat.”

Danang menurunkan Tiara, “Sudah beli es krim?” tanyanya, “Dan … Tiara apa tidak ingin pergi main?”

“Es krim belum beli, Om. Habis ini mau minta uang dulu ke mama, terus beli es krim, terus main kucing di rumah Kayla,” telunjuk kecil Tiara mengarah ke seberang jalan, pada sebuah rumah kecil berwarna biru.

“Tidak usah minta ke mama, Cantik. Ini om kasih,” pria berseragam itu merogoh sakunya.

“Sekarang Tiara belilah es krim terus ke rumah Kayla, ya. Hati-hati kalau menyeberang,” pria berseragam itu berlutut, menciumi pipi Tiara kemudian bocah itu melompat-lompat meninggalkan ruko ibunya dan Danang bernafas lega.

“Indri? Indri?” seru pria berseragam itu mengharap jawaban.

“Naik, Mas. Di kamar.”

***

Indri terbaring di atas kasur. Penampilannya sudah berbeda dengan beberapa menit lalu. Kini rambutnya menjadi lusuh dan matanya sayu. Sementara pria berseragam tadi duduk menghadapi jendela terbuka dan menghisapi sebatang rokok. “Aku tak mengerti, Mas,” Indri bersuara.

“Apa yang tak kau mengerti?” balas Danang.

“Mengapa kau mencintai janda sepertiku dan mengapa aku mencintaimu pula?”

“Apa hebatnya manusia yang punya pengetahuan tentang cinta?” jawab Danang.

Indri menarik nafas panjang dan melepaskannya, “Sejak almarhum suamiku meninggal, Mas, mengapa engkau yang menolong aku?”

Dada Danang berdesir. Sebatang rokok masih menyala ditangannya ia lempar kuat-kuat ke luar jendela, “Mengapa kau masih mengingat-ingat suamimu? Selalu. Setelah peristiwa seperti ini kau selalu bicara tentang suamimu. Aku tak mengerti dan tak sudi mengerti pula.”

“Bagaimanapun, Tiara anakku, juga anaknya, Mas.”

Danang bangkit dari duduknya menuju pembaringan Indri, “Sebenarnya, ada yang ingin kusampaikan padamu. Tentu lebih penting daripada ingatanmu terhadap almarhum suamimu.”

Indri mencoba duduk, bersandar di kepala ranjang dan menutup kancing bajunya, “Engkau marah, Mas?”

“Rukomu ini, ruko yang dibeli oleh almarhum suamimu ini berdiri di atas tanah negara. Kau pasti sudah tahu,” Danang tidak peduli pertanyaan Indri.

“Mas, engkau betul marah?”

“Dalam waktu dekat ini, bangunan di sepanjang jalan ini harus rata oleh tanah. Pemerintah sudah memberi suratnya satu tahun lalu. Akan ada proyek pembikinan taman dan pelebaran jalan di sini.”

“Mengapa marah, Mas? Engkau cemburu?” Indri coba meraih tangan Danang tapi Danang menolaknya.

“Siapkan segala sesuatunya, aku tidak bisa menolongmu lagi. Pangkatku rendah. Setidaknya lebih tinggi dari almarhum suamimu yang tak berpangkat apa-apa,” Danang duduk lagi menghadapi jendela. Menyalakan sebatang rokok lagi.

Indri gelisah bangkit membenahi diri kemudian turun dari pembaringan dan merangkul Danang dari belakang, “Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Tidak sama sekali,” rangkulan Indri menjadi erat dan ia mulai tersedan-sedan.

“Mama… mama… mama…,” teriak Tiara setengah menangis dari lantai bawah. Indri dan Danang segera terurai. Ibu muda itu bergegas turun ke lantai bawah.

***

Lutut Tiara terkoyak mengeluarkan darah. Indri segera membersihkan luka itu dan buru-buru mengobatinya dengan obat merah. “Mengapa bisa, Cantik, kenapa?”

“Tiara lari ketika menyeberang ke sini. Tidak tahu, Ma, mengapa bisa tersandung dan jatuh dan lutut Tiara berdarah seperti ini,” bocah itu masih setengah menangis.

Indri merangkul, menciumi anaknya, “Sudah, diam … tak apa, Sayang. Besok luka ini segera sembuh.”

Danang baru sampai di lantai bawah ketika Indri sibuk memijati kaki anaknya. Dia sudah mengenakan tas dan memakai topinya, “Ya ampun, Cantik, kenapa kakinya?” tanyanya pada Tiara.

“Engkau balik sekarang, Mas?” Indri yang menjawab, matanya menyerah memandang Danang.

“Iya, ada yang harus kuselesaikan di kantor lima belas menit lagi,” balasnya. “Hati-hatilah di jalan, Mas.”

Danang tidak menyahuti. Ia mendekat pada Tiara dan menciumi bocah itu kemudian berlalu.

***

Malam hari Indri sibuk melamun. Dia sebetulnya sudah tahu rencana perataan lahan di sepanjang jalan itu. Dia tahu dalam waktu dekat inilah perataan lahan itu akan dilakukan. Tapi dia belum lagi menyiapkan apapun. Dia tak tahu akan hidup di mana kalau ruko dirobohkan. Ruko peninggalan almarhum suaminya ini benar-benar ia sayangi.

Kemungkinan mengelak dari perataan lahan betul-betul sudah tiada bagi Indri. Surat peringatan sudah diterimanya setahun lalu ketika suaminya masih hidup. Di sampingnya kini, Tiara tertidur pulas. Sementara kecemasan betul-betul mengganggunya. Bolak-balik Indri berganti posisi tapi tak juga menemukan kenyamanan. Akhirnya dia bangkit dan turun dari pembaringan membuka jendela dan duduk menghadapinya.

Lama ia melamun ke langit gelap. Dan ketika tersadar dari lamunan, di kusen jendela ia melihat puntung rokok milik Danang tadi siang. Dipandanginya puntung rokok itu dan diajaknya bicara, “Kalau dengan pangkatmu kau tak bisa menolong tempat tinggalku ini, Mas, setidaknya jangan kau hancurkan pula hatiku. Apa gunanya, Mas, apa gunanya pangkat bagi perempuan yang kau sakiti hatinya? Kau memang tidak pernah benar-benar mengerti.” ***

.

.

20 Juni 2021

Yusab Alfa Ziqin, tinggal di Bojonegoro. Buku pertamanya terbit pada 2020, kumpulan cerpen berjudul Mereka yang Tak Menduga.

.

Puntung Rokok. Puntung Rokok.

Arsip Cerpen di Indonesia