Di Ujung Batas Kota

DARI langit gerimis masih terus turun meneritis. Mengguyur kota, membuat lelaki setengah kurus itu kuyub menggigil kedinginan. Wajah lelaki itu terlihat basah tertimpa gerimis. Jaket dan Kaos yang membungkus tubuhnya pun, ikutan basah. Lelaki itu terus memacu motornya bertaruh pada waktu, berharap dapat melihat wajah ayahnya sebelum disemayamkan.

Ilham adalah mahasiswa semester lima di salah satu perguruan tinggi terbaik di Jawa Tengah. Dia memutuskan untuk merantau karena sadar bahwa pendidikan harus ditempuh di tempat dimana pengetahuan itu bermuara.

Beberapa menit yang lalu dia membuka HP. Pesan singkat dari kakaknya membuat dia pulang, meningglkan kota yang selama ini telah memberikan banyak kenangan. Pesan itu terlampau singkat untuk kabar yang amat penting Dik Pulang, Ayah sudah tidak ada.

Tiba-tiba dadanya bergemuruh, wajahnya lesu, pikirannya berkabut, badannya bergetar—setengah tak percaya. Dia berkali-kali menelpon kakaknya -sayang jaringan tak bersahabat dengannya. Sedang dia harus memastikan, sebab bisa saja hape kakaknya lagi di-hack orang tak dikenal.

Sore ini tak ada mega yang bergelayut diufuk barat hanya kabut yang berkelabut di pondasi hatinya yang membuat semua tampak gelap dan suram. Hanya seminggu yang lalu dia meninggalkan desa dan bertutur pamit pada ayahnya. Rupanya itu adalah hari terahir. Ayahnya wafat setelah hasil medis menyatakan Corona Virus Disease, Hipoalbuin, Hiponatramia dan respiratory failure. Dengan pertimbangan yang alot keluarga harus rela bahwa dia harus dimakamkan dengan mengikuti protokol kesehatan.

Orang-orang desa banyak mencibir, bercerita kanan-kiri, Warung kopi yang biasanya ramai untuk bercerita aib orang, kini lebih banyak bercerita kematian Haji Muhidin. Pak haji terkenal bersahabat dengan warga, memiliki lembaga, masjid berukuran besar, berlantaikan marmer dan puluhan hektar tanah. Dia adalah tokoh terkenal di desa. Sayang caranya meninggalkan kehidupan bukanlah harapan semua orang, terlebih warga desa. Tapi bukankah kematian adalah niscaya, hanya caranya yang berbeda.

Maklum, orang-orang desa lebih banyak mendengar cerita lewat Hoax. Dia belum meiliki kemampuan dalam menyaring informasi sehingga tak banyak dari mereka yang termakan Hoax dan mengamini.

“Tadi malem, pak Haji dimakamkan pakai protocol,” sahut pak kades

“Wajarlah pak, jika dimakamkan dengan protokoler, beliau kan tokoh,” Asep menimpali

“Protokoler endasmu. Protokol kesehatan maksudnya, semua yang datang menggunakan alat pelindung diri lengkap. Pak haji dimakamkan pakai peti.”

“Yang bener pak?” Asep terkejut.

“Desa kita sudah terpapar virus corona berarti, itu bisa bahaya pak Tinggi?” lanjut Asep, pemuda gagal sarjana yang lebih memilih untuk menjadi aparat desa.

“Bahaya ini pak Tinggi, seharusnya tidak dikuburkan disini, corona itu bisa buat orang meninggal, cepat lagi menyebarnya,” katanya. Komar setengah teriak sambil bertutur, dia hanya lulusan Sekolah Dasar.

Pengunjung kedai kopi bu Lastri diam sejenak. Mereka setengah berpikir antara takut dan iba. Tidak mungkin dia harus menggali kembali jasad pak Haji Muhidin.

“Nah, begini bapak-bapak kita tidak boleh langsung menghakimi begini. Biarkan saja dimakamkan di desa kita, dan tidak ada yang salah. Tapi kita haram untuk melaksanakan tahlilan, melayat dan berkunjung ke rumah almarhum,” pak kades dengan tegas menyampaikan kebijaksanaanya, meski setengah takut terdengar oleh sanak keluarga almarhum.

“Ngawur sampean pak kades! Tahilan dan melayat adalah penghormatan terahir untuk keluarga. Apalagi, keluarga mereka lagi duka pak. Kita sebagai masyarakat di sini harus pandai menghibur. Nah, bagaimana kita bakal menghibur kalau kesana saja kita dilarang. Pak kades ini ngawur. Gak peduli ke warganya,” Bu Lastri yang sedari tadi diam turut menyampaikan pendapat.

“Ini urusan kemanusiaan pak kades. Pak kades kita ini mungkin sudah berpindah agama kali ya? Atau karena sering nimbrung sama cukong? Tak ada yang tertawa dengan joke bu Lastri kecuali dirinya sendiri. Kadangkala joke harus dilemparkan di saat yang tepat.

“Baik-baik saya ngerti bu Lastri. Urusan ini akan di bicarakan dulu di musyawah rembug desa nanti malam. Sudah ya jelas ya!! Saya pamit dulu, terima kasih.”

Pak kades pun berlalu dengan motor trilnya. Me ning galkan setiap tanya pada pengunjung warung bu Lastri. Dia harus bijak mengambil keputusan antara menghormati keluarga mendiang sekaligus mengikuti anjuran pemerintah taat protokol kesehatan: jaga jarak dan menghindari kerumunan. Pemimpin memanglah haruslah begitu, tidak boleh gegabah dan yang paling penting dia harus peduli pada semua warga. Jika tidak, dia tidak akan terpilih lagi.

***

Setelah beberapa potret kenangan bersama sang ayah terlintas di benak Ilham. Jalanan kota tampak sepi, dia lebih mirip kuburan besar dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Mobil, motor dan beberapa angkutan kota bahkan bus terhitung hanya sejumlah jari. Jalanan membawa duka pada persemayaman terakhir ayahnya yang tak bisa dia saksikan.

Kota seolah menjadi kota mati. Kios kios disepanjang jalan ditutup, hanya merkuri yang berdiri rapi, tegak melengkung menerangi sisi jalan di ujung Jalan Soekarno-Hatta. Jalanan tampak juga berkabung pada kepergian ayah Ilham. Langit pun juga masih mendung. Ilham menelan mendungnya langit, perlahan mendung menyelimuti gemelut hatinya yang remuk -meninggalkan goresan luka yang menganga pada takdir yang tak pernah dia harapkan.

Jarak yang tak biasa harus dia lewati; satu provinsi, dua belas kota, empat kabupaten dan puluhan portal penjaga. Di setiap ujung batas kota dia harus berjumpa dengan petugas kesehatan, polisi dan tentara. Menjelaskan prihal tentang ayahnya yang tiada. Mengharap iba para penjaga yang tiada sungkan menggertak dan menyuruhnya kembali.

Hari ini kota sedang melaksanakan program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), sampai batas waktu yang lumayan panjang. Beberapa orang mengeluh, PPKM diterapkan namun bantuan tak kunjung datang. Sebagian besar terpaksa menjadi pengangguran, beberapa yang tidak siap dengan keadaan menjadi maling ayam. Pengusaha kecil mengeluh—gerainya ditutup karena melanggar protokol kesehatan, sementara dapur harus tetap ngebul, gaji kariawan harus tetap dibayar, dan pajak tak pernah ditangguhkan.

Di sudut batas kota petugas prokes dengan pakaian alat pelingdung diri lengkap, memimta lelaki itu menunjukkan syarat-syarat perjalanan: KTP, Kartu vaksin yang menyatakan negative, surat pengantar desa dan tentu juga pesan singkat dari kakaknya.

“Anda sudah tahu peraturannya? Dilarang melewati batas kota, negara lagi darurat Covid” petugas lebih dulu menegurnya sebelum dia menyampaikan maksud kepulangan.

“Inggih pak saya mengerti, tapi Ayah saya meninggal dan saya harus pulang.”

Petugas tampak mengiba tapi protokol penyebarangan melewati batas kota harus ditegakkan. Petugas lain datang menyambung obrolan.

“Adik, asalnya dari mana?”

“Probolinggo pak. Diujung desa A, penyuplai terbesar kemiskinan di negeri ini.”

Meski Ilham tidak melihat wajahnya. Ilham tahu bahwa petugas itu tertawa. Terlihat dari cara mereka menutup mulut.

Petugas itupun turut menimpali, “Adik, kalau bercanda suka serius hehehe…”

Ilham pun berlalu dari satu portal penyegatan. Dia akan melihat banyak lagi petugas yang berjaga di ujung perbatasan kota; bertanya hal yang sama, menunjukkan berkas yang sama dan juga alasan yang sama.

Dia melanjutkan perjalanannya bak melewati labirin panjang tanpa ujung. Lampu-lampu kota menyoroti bahu jalan. Cahaya-cahaya saling berpapas melewati jalanan sepi. Sesekali melewati jalan tanpa cahya hanya sinar rembulan yang kabur karena germis masih setia menangis. Kota-kota diam, dibungkam secuil virus bernama Corona.

Ilham kembali menghitung sudah berapa kilo dia memacu motornya, berapa portal penjaga, berapa alasan, berapa tangis, bahkan air matanya menangisi nasibnya.

Sebelum sampai di kota tujuan dia mengingat alotnya perjalanan. Seorang aparatur Negara memintanya untuk kembali, hari sudah gelap. Tapi bayang ayahnya menyelinap diujung matanya yang redup.

Lelah mengantarkannya pada peristira hatan pertama di pom bensin sebelum sampai di kota tujuan. Dia mendongak. Menantang langit. Menggeram marah pada langit yang masih juga berwarna kelam kelabu. Dia mengutuk secuil virus itu.Dia pun mulai menyalahkan negara, mentri, aparat dan bahkan menyalahkan dirinya sendiri.

***

Ilham tiba di rumah manaka gelap berganti fajar. Di rumah dia dapati kakak dan ibunya yang belum tertidur. Ilham sadar bahwa kepergian selalu mendatangkan luka. Ibunya masih meratapi tangis. Ilham melihat sekeliling, tiada orang yang datang berkunjung bahkan di hari dimana dia berkabung. Tidak ada ucapan belasungkawa. Sepi. Dia pun memutuskan berkunjung ke pusara ayahnya.

Ketika Ilham siap berangkat, tiba-tiba terdengar suara pintu dari luar. Seorang petugas kesehatan, polisi dan tentara berkunjung. Tak ada yang tahu rahut wajah mereka, hanya saja suara yang tinggi menunjukkan jika ini perintah tegas.

“Untuk sementara selama dua pekan adik, kakak dan ibu diperintahkan tidak keluar rumah. Isolasi mandiri. Desa dan kecamatan memberlakukan darurat Covid. Tidak ada tahlilan, melayat dan kunjungan. Silahkan berdiam diri dan memutus penyebaran virus Corona.”

Ilham mengangguk sembari menarik kembali wajahnya. Pintu sudah dia tutup. Ilham membisik pelan pada ibunya.

“Jangan menangis bu, kita tak punya pilihan, satu-satunya jalan adalah mengikuti program pemerintah. Meski tak ada penghormatan untuk mendiang ayah, kita tetap bersabar dan jangan memberontak. Di negeri ini pemberontak selalu berahir dibalik jeruji besi. ***

MA Rahman. Penulis adalah pegiat sastra di Komunitas Pena Bulir Padi.

Arsip Cerpen di Indonesia