Lebaran Kematian

KAU melihat jasadmu terbaring kaku dibungkus tiga lembar kain kafan. Kain yang tak pernah kau pesan, kini telah menyelimuti tubuhmu.

Kau meyakini semua mahluk akan mati. Tapi tidak begini juga. Mati di tanah perantauan jelas sangat menyakitkan. Apalagi setahun penuh kau tak pernah melabuhkan rindu pada istrimu, juga pada si kecil, Aska, apakah dia sudah tumbuh besar?

Dua hari yang lalu kau sempat mengabari istrimu. Kua bilang tak bisa pulang karena ada larangan mudik. Bukan kau tak rindu. Tapi ini demi kepatuhan pada pemerintah yang saat ini setengah mati memutus menyebaran viruscorona. Dari serak suara istrimu yang parau, diam-diam kau menitikkan air mata. Kau mengerti, di sana dia pasti sangat kecewa.

“Alasan apalagi? Bilang saja kalau kau tak mau pulang.” Ujarnya dalam telepon.

“Bukan begitu, tapi ini demi keselamatan keluarga kita di kampung. Apa kau mau kampung kita menjadi sarang penyakit karena kedatanganku?” Kau berusaha menjelaskan dengan nada pelan. Hingga beberapa saat tak ada jawaban. Hanya desah napasnya yang kau dengar mengembus di mikrofon telepon.

“Ikut travel gelap saja, pasti selamat dari razia.” Pintanya gusar.

Kau menjatuhkan diri di atas kasur. Matamu lekat menatapi langit-langit kontrakan dengan tangan kanan tetap menempelkan telepon ke telinga. Jelas ini bukan perkara mudah, mengingat lebaran Idul Fitri beberapa bulan lalu kau juga tak bisa pulang karena ada penyekatan.Gejolak di hatimu selalu meronta ingin berziarah ke makam ayahmu di kampung halaman.

Tiga malam yang lalu, kau bermimpi didatangi ayahmu. Wajahnya berbinar, pakaian putih membalut tubuhnya yang bersih. Dalam mimpi itu kau tak sempat mencium tangannya. Entahlah, kau tak tahu pasti apa sebabnya ayahmu datang mendatangimu malam itu. Barangkali rindu. Ya, rindu karena kau tak pernah pulang barang sebentar selama setahun ini.

Terakhir kau ingat, sehari sebelum berangkat ke kota kau membaca surat yaasin di samping makam ayahmu yang membujur kaku. Dan entah bagaimana sekarang, siapa yang mengurus makamnya. Masihkah bunga kamboja mekar indah di sampingnya. Atau barangkali pohon kenanga dekat pintu masuk pemakaman masih menunduk rindang dengan kembang-kembangnya. Atau mungkin, pohon itu telah hilang tergusur pelebaran jalan.

“Kau tahu, sebulan terakhir ibu kembali sakitsakitan. Batuk selalu mengguncang dadanya. Pulanglah. Demi ibu, Mas,” pintanya, mengiba setelah beberapa detik tak ada suara.

“Kau jangan khawatir, habis lebaran aku pas…”

“…kapan, pemberlakuan pembatasan kegiatan kan masih belum tahu sampai kapan akan dibuka kembali. Ya sadah tersarah kamu.”

Telepon istrimu terputus. Kau pejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam. Ucapannya masih terngiang di kepala, seakan meruntuhkan ketegaranmu yang berusaha menahan gumpalan rindu di dada. Angin menghempas kelambu di antara celah kisi-kisi jendela, menerpa wajahmu yang perlahan berkeringat.

Semula kau merasa bingung, setiap kali bayangan ibumu hinggap di matamu kau seperti terseret ke sebuah palung yang sangat dalam. Tak bisa kaukendalikan ketakutan yang perlahan menjalar ke seluruh persendian. Wajah ibumu seolah membawa tabir gaib yang menyekat duniamu. Matamu terkatup, peluh dingin bercucuran.

Matamu terbelalak. Dalam satu tarikan napas yang panjang, kau berusaha kembali memilin buntalan hati yang hampir runtuh.

“Ibu….” Rambutmu kau remas-remas seraya menahan benalu kesepian yang mulai mengakar.

***

“Apa kau sudah menelpon suamimu, Ros?” Tanya perempuan tua itu pada menantunya.

“Sudah, Bu. Katanya…” Rosmala tak bisa menggerakkan lidahnya. Ada kemelut yang membelit lidahnya hingga terasa kelu.

Perlahan perempuan tua itu mendekat ke arah jendela. Matanya menjatuhkan pandangan ke jalan setapak di samping pohon siwalan. Sesekali terlintas wajah Herman yang selalu membawa daging kurban dari musalla. Telah lama ia merindukan kedatangannya, merayakan lebaran kurban, berkunjung ke sanak family, dan berziarah ke makam suaminya.

“Lebaran kemarin dia tak pulang, apa dia sudah melupakan ibu?”

Rosmala tak menjawab. Tak berkata barang sekejap. Takut membuat dadanyasemakin perih.

Bulan melengkung selaksa celurit di tanggal tua. Angin berembus menyelinap di celah jendela. Sawang-sawang tergerai di pojok kamar. Sengaja ibumu tak membersihkan kamarnya agar ia tahu semakin banyak sawang melintang semakin pula kerinduannya mendalam. Hingga kini, hari menjelang lebaran kau pun tak kunjung datang. Dada ibumu terasa berlubang ketika menatap fotomu di atas dinding. Diam-diam air matanya menitik satusatu. Membekas di atas bantal.

“Apa kau tak rindu ibu, Nak?” Batuk mengguncang dadanya. Perlahan ia merasa sesak.

***

Waktu bangun tidur kau mendapati dadamu sesak. Hidungnya terasa gatal dan selalu tebatuk. Jam enam pagi kauputuskan memanggil dokter terdekat. Betapa kagetnya saat suhu tubuhmu dicek mencapai angka tiga puluh delapan derajat.

Kau tak bergeming ketika petugas rumah sakit datang lengkap dengan baju hazmat. Kau dibawa ke rumah sakit dan ditempatkan di ruang isolasi.

Selama di ruangan itu mimpi buruk selalu mendatangimu. Kau selalu terjaga tengah malam dan berpikir keras bagaimana kau bisa tertular virus itu. Padahal kau selalu mengikuti anjuran tim medis. Tak berkerumun, selalu memakai masker, dan mencuci tangan. Namun, tetap saja virus itu menjangkit dirimu.

Dua hari di rumah sakit mimpi buruk itu seakan tak kenal waktu mendatangimu. Saat hendak matamu terkatup mimpi itu telah lebih dulu bersarang dipikiranmu. Engkau mulai merasakan firasat buruk akan dirimu yang mulai lemah.

Kau merasakan keanehan. Rumah sakit itu tak seperti rumah sakit pada umumnya yang selalu tenang dan senyap. Justru tempat ini selalu ramai dengan cakap-cakap dan teriak histeris seorang pasien meronta pulang. Kau membisu memandang wajahmu yang nampak kusam.

Dan malam itu kau terpaksa berbohong pada istrimu bahwa kau tak bisa pulang karena ada larangan mudik. Jika kau tak sedang sakit, bisa saja kau menyewa travel gelap sepeti saran istrimu, atau menumpang truk pengangkut barang untuk sampai di kampung halaman. Kau tak seegois itu. Kau sadar bahwa wabah ini benar-benar ada. Kau biarkan kerinduanmu mengakar merambat relung hatimu.

***

Kau tertegun saat terbangun mendapati tubuhmu terbaring kaku dibungkus tiga lembar kain kafan. Kain yang tak pernah kau pesan, kini telah menyelimuti tubuhmu.

Dari kejauhan kau melihat tubuhmu digotong dalam peti mati, lalu diturunkan perlahan ke liang lahat. Orang-orang diminta menjauh agar tak menimbulkan kerumunan. Sementara petugas rumah sakit berpakaian hazmat menimbunmu dengan tanah.

Ada sesak yang perlahan kembali kau rasakan ketika istrimu terisak dalam tangisnya. Si kecil, Aska, dituntun menabur bunga dan menyiram sebotol air dekat nisanmu. Selama proses penguburan kau tak melihat ibumu. Apakah dia terbaring sakit di rumah? Matamu menyapu pandang ke sekitar. Tak juga kau temukan.

“Ibu, apakah nenek sedang menanti ayah di surga?” Pipi Rosmala banjur air mata.

Dadamu kembali sesak ketika kau melihat gundukan tanah membujur kaku dekat makammu. Di batu nisan itu kau melihat tanggal 17 Juli 2021. Sehari sebelum kematianmu, ibumu lebih dulu dijemput Izrail.

‘Allahhu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar’ terdengar takbir mengalun di udara, menyambut hari kemenangan. Kua luruh dalam kesendirian. ***

 

HELMY KHAN, lahir di Batang-Batang Sumenep Madura. Sedang belajar menulis cerpen dan puisi. Berproses di Komunitas Semenjak dan Bhisat Sumenep.

 

Arsip Cerpen di Indonesia