DI SIMPANGSCHE SOCIETEIT; ANAK-ANAK DARI KANDUNG POHON MATI

DI SIMPANGSCHE SOCIETEIT

.

Sebelum senandung ini berakhir

dan gerit lirih kuku pemusik

tak lagi menggaruk lantai dansa penghujung malam,

temui kami, meneer-mevrouw yang menggebu bikin kongsi

.

Kendati di jauh rumah-rumah jagal,

setelapak sirloin juga segumpal air tomat

hanya lenguh sapi giat beradu dalam risau yang

menyerah sebelum dipacu

.

Ajaklah kami bicara

Tentang rencana berkirim kopi dan gula

atau dermaga yang sibuk menggebuk siapa saja

Meski kami tak pandai menautkan siasat pada batuk tua,

atau membagi napas ke gadis-gadis yang

dilecurkan kepala-kepala

.

Persekongkolan kita abadi, katamu

Dan bisik-bisik di telinga ini

hanya bualan para pengeruk yang tak segan

menebas kebenaran sampai kerongkongan

.

Maka, pabrik-pabrik telah mengingat

pada hari ke berapa mesin-mesin terjaga senyap

Rumah-rumah jagal akan menghimpun

lucut palu dari tukang kapal

Kampung-kampung menutup jalan

bagi mereka yang ingin menguji

kebal tebu atas rentak arit tajam

.

Rasuki kami dengan cerita yang mungkin

separuh dari seluruhnya belum tamat

Seperti hari-hari lalu yang terulang kembali

dan tiada bisa dekat kepada selamat

.

Sebelum senandung ini berakhir

dan gerit lirih kuku pemusik

tak lagi menggaruk lantai dansa penghujung malam,

temui kami yang serupa lambung menjerit

.

Kendati hal-hal yang dipertaruhkan itu telah dinyatakan

sebagai pukal daki dilumpuk berabad,

Kepala kami berderu tegap

Jantung kami gelegar detak

: Menanti waktu memberontak!

.

Surabaya, Juli 2021

.

ANAK-ANAK DARI KANDUNG POHON MATI

.

Siapa berani berlagak menantang

kalau si roda bergerigi

sudah sejengkal dari kampung ini?

.

Itu bukit coba kau sisir

Bedah rimbanya

Rimbun sulur sibaklah

dan terlelap di sana

: Cuma sejarah

bagi anak-anak

dari kandung pohon mati

.

Sebab tangis telah bertubi

Diperas dan dikebat pada

amarah mendidih buih

Terharulah duhai pendengar

Jangan keliru wahai perajah

Sukar rempah tumbuh ruah

Pinang dimamah tinggal sececah

.

Mumpung mengingat masih perlu

Selagi pilu bisa dilagu

Ada riak tiba menyibak

Ada pendatang coba merobek

Demi menghalau henti jantung,

bawa sekampung ke ungsian

Berapa kali iring-iringan mesin

menangkis jalur penanggung-tanam

.

Tak terpikir semai biji,

apalagi kulak daging sapi

Padi diguit angin yang isi

Bayam direndam sekuning suliki

Apa dikunyah selain keluh sendiri

Apa ditenggak kalau tak air mata kini

.

Siapa jagoan bisa bersolek

kalau si roda bergerigi

sudah menerobos kampung ini?

.

Hujan dirakit memangkas ladang

Bukit mendengkur kencang sekali

Hutan terpakur berpucat pasi

dalam semesta

anak-anak dari kandung pohon mati

.

Bangsimu lenyap dihantam godam

Benangku lesap dikulum asap

Pertanyaanmu jadi api

Jawabanku bermil-mil dari selamat

.

Sebelum berpikir kena timbang

Mumpung melawan tengah menulang

Nyalang-lantang dendangkan:

Kami pohon terakhir yang tumbang

di tengah tambang

Di bekas-bekas ladang yang bersedih

berkelam malam!

.

Surabaya, Juli 2021

.

*Judul puisi ini terinspirasi oleh judul cerpen “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon” karya Faisal Oddang.

.

Agung Wicaksana lahir di Surabaya pada 15 September 2000. Buku puisi mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini bertajuk Fanatorium (2017).

Arsip Cerpen di Indonesia