Hegemoni dan Karya Sastra

PADA dasarnya, karya sastra cenderung meilhat fenomena yang ada di sekitar dalam mengungkapkan suatu masalah. Karya sastra akan terus bertahan dan tetap hidup jika mampu menyuarakan isi dari sebuah fenomena. Seiring perkembangan zaman, fenomena kerap kali mengalami pergeseran. Tak luput dari semua itu, karya sastra juga hadir bersama perkembangan zaman.

Dalam menulis karya sastra pastilah dibutuhkan imajinasi. Okky Madasari berpendapat bahwa imajinasi bukan hasil lamunan atau begitu saja jatuh dari langit. Imajinasi dibentuk oleh pengetahuan, pengalaman, kesadaran, kemampuan melihat big picture. Imajinasi harus dilatih. Akan tetapi, memang orang awam menganggap dunia sastra seringkali hanya sebuah imajinasi kebetulan, bahkan orang awam menyebutnya, imajinasi datang dan jatuh dari langit secara tiba-tiba. Padahal, semua karya adalah jernih dari dunia rekaan yang berkembang melalui dari sumber pengetahuan, dimana akan menampilkan sebuah karya seperti cerpen, puisi, novel, maupun esai.

Nilai-nilai inilah yang memang harus direnungi dan dihayati, sehingga karya sastra dapat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Di sisi lain, karya sastra tidak dapat dibangun tanpa dukungan dari fenomena maupun kebudayaan yang ada disekitarnya. Perihal sebuah fenomena, masyarakat kerap kali mengalami sebuah fenomena yang sering di angkat melalui karya sastra. Semisal, permasalahan yang sering terjadi di lingkungan sosial. Seperti di dalam kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat, kita sering menjumpai sebuah sitem. Di mana, sistem tersebut merujuk pada sebuah peraturan. Akan tetapi, peraturan memiliki dampak positif maupun negatif.

Ketika dalam sebuah sitem peraturan yang seharusnya berjalan dengan sistematis dan menciptakan tata ruang yang positif, akan tetapi jikalau sebuah peraturan disalah gunakan, dampaknya malah sebaliknya. Patria dan Arief dalam telaah pada pemikiran Antonio Gramsci “Negara dan Hegemoni” (2015) mengatakan bahwa, dalam mencapai dan mempertahankan kekuasaan, terkadang seseorang atau kelompok akan menggunakan kekerasan sebagai pegangan atau alat.

Persoalan tersebut juga terdapat dalam karya sastra. Dimana saya menemukan sebuah bacaan novel yang menggunakan praktik hegemoni dan kekerasan. Hegemoni itu sendiri menurut Gramsci menekankan penerimaan kelompok yang didominasi terhadap kehadiran kelompok dominan. Hegemoni itu sendiri memiliki berbagai kekuatan untuk memperngaruhi masyarakat. Karya sastra sendiri, dapat menjadi jembatan untuk menyebarkan wacana yang dipandang dominan tersebut.

Berkaitan dengan karya sastra yaitu dalam bentuk novel, saya melihat ada unsur praktik hegmoni yang disampaikan melalui penulis. Sebagai misal karya Laila S. Chudori yang berjudul “Laut Bercerita”. Gambaran novel ini dimulai dengan gerakan para aktivis pada latar belakang tahun 1990-an. Jika kita tarik ke belakang, sejarah mencatat bahwa pada masa itu adalah masa pemerintahan Soeharto, presiden kedua dalam sejarah Indonesia merdeka.

Dalam karyanya, penulis kerap kali menggambarkan praktik hegemoni yang ada di dalam karya sastra. Di mana, dalam isi novel tersebut terdapat ketertarikan untuk meruntuhkan ketidakadilan yang dilakukan rezim pemerintahan saat itu yaitu kekuasaan Orde Baru. Meskipun mereka tahu, penghilangan secara paksa adalah resiko yang mungkin terjadi pada mereka atau slogan “tembak di tempat” akan menghampiri hidup mereka.

Hingga kemudian pada 1991 pada sebuah tempat bernama Seyegan, Yogyakarta. Seyegan tak lain merupakan markas Wirasena (organisasi mahasiswa) untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menurut pemerintah adalah sebuah aktivitas terlarang. Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah membahas buku-buku terlarang seperti buku karya Pramoedya Ananta Toer, puisi-puisi W.S Rendra, serta berdiskusi terkait bahan bacaan-bacaan kiri.

Pada bulan Maret 1998 giliran mereka (para aktivis Wirasena) diculik, disiksa, dan diintrogasi dengan tidak manusiawi. Laut, Sunu, Kinan, Bram, Sang Penyair dan beberapa kawan hilang tanpa jejak setelah disekap. Mereka, yaitu Alex, Daniel, Naratama, Coki, Hamdan dan lima orang lainnya dikembalikan masih dalam keadaan hidup. Hingga saat rezim itu runtuh di Mei 1998. Mereka mulai mampu bersuara atas kekejaman yang mereka terima.

Cerita kemudian berlanjut dari sudut pandang Asmara Jati, adik dari Biru Laut Wibisono dan kekasih Alex Perazon. Sebagai keluarga yang ditinggalkan sang kakak secara misterius, mereka sangat kehilangan. Kisah Asmara pun dimulai tahun 2000-an.

Novel “Laut Bercerita” menunjukkan, karya sastra yang berbasis pada teori hegemoni Gramsci bisa masuk ke dalam ruang sejarah yang perlu kita ingat dan sapa. Praktik hegemoni yang diungkap novel “Laut Bercerita” mampu memberikan paradigma baru. Di sisi lain, karya sastra mampu menjebol kesadaran masyarakat. ***

RISKY ARBANGI NOPI. Lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah. Menyelesaikan pendidikan formal di Fakultas Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Belajar sastra di Komuitas Penyair Institute (KPI) Purwokerto.

Arsip Cerpen di Indonesia