Ia Tahu Cara Memusnahkannya

Cerpen Sandi Firly (Kompas, 08 Agustus 2021)

DAMANG berdiri gentar di depan lumbung padi miliknya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah obor yang baru dinyalakan. Kata-kata anak muda yang bertemu dengannya senja tadi terus terngiang. Dari atas bukit yang mengelilingi kampungnya, Damang dengan api obor bagai satu-satunya cahaya yang hidup di kegelapan lembah malam itu.

***

Kampung kecil itu berada jauh di pedalaman. Melewati perbukitan dan hutan. Jalan setapak satu-satunya menuju ke sana—setelah jalan utama kabupaten yang beraspal untuk menjangkau kampung-kampung kecil di perbukitan, terlalu sempit dan hanya berupa tanah keras berbatu-batu. Kiri jalan pohon-pohon besar, sebelah kanan lereng semak belukar. Kurang lebih satu jam berjalan kaki untuk tiba di gerbang kampung dengan jalan menurun hingga sampai ke lembah. Di lembah itulah kampung kecil berada. Namun, sebelum sampai ke jalan kampung, dari pintu gerbang itu masih satu setengah jam lagi jalan kaki. Melewati hutan lebat dan sungai dangkal berbatu-batu besar.

Tidak sampai 50 kepala keluarga tinggal di sana. Hidup sebagai petani dan menangkap ikan di sungai. Selebihnya berkebun pisang, jagung, dan ubi-ubian. Selain untuk makan sendiri, selebihnya dijual ke pasar kecamatan atau kabupaten sekali dalam sepekan pada hari pasar.

Saat banjir besar melanda hampir seluruh kawasan provinsi beberapa waktu lalu, kampung itu juga tak luput dari luapan air sungai setelah hujan deras berjam-jam. Air sungai kecil yang biasanya jernih dengan ikan-ikan yang dapat dilihat saat berenang di sudut dangkal, ketika banjir berubah keruh serupa teh susu dan menenggelamkan sawah-sawah. Orang kampung tahu, air yang menyeret tanah lumpur itu akibat longsoran di balik dinding bukit. Sudah bertahun-tahun di sebalik bukit itu terjadi penebangan hutan untuk dikeruk tambang batubaranya. Pernah pihak perusahaan ingin menambang di bukit yang mendindingi kampung itu, namun dilawan habis-habisan. Bujuk rayu perusahaan tak mempan, warga kampung bergeming pada pendirian mempertahankan tanah ulayat andaipun harus nyawa taruhannya.

Luapan air bercampur lumpur yang menggagalkan panen, sebelumnya tak pernah sekalipun terjadi sepanjang sejarah kampung. Itulah bencana terbesar yang pernah dialami, sebelum ancaman bencana lebih besar yang kini mulai mengintai. Bukan bencana alam yang hanya akan merusak sawah kebun warga, melainkan nyawa seluruh penduduk yang hanya berjumlah tak sampai seratus kepala.

“Sebelum ditemukan wafat, sore kemarin Pak Senin ke warung Ma Ipah beli obat. Sambil terbatuk-batuk dia bilang ke Ma Ipah badannya panas dan napasnya sesak,” kabar seseorang di warung kopi satu-satunya di kampung itu.

“Kasihan. Andai orang tua itu tidak hidup sendirian di gubuknya, mungkin masih bisa tertolong,” sahut yang lain.

“Iya, aku curiga ketika tidak juga melihat beliau keluar rumah, padahal hari sudah siang. Biasanya, pagi sekali beliau sudah terlihat di beranda sambil ngopi. Khawatir ada apa-apa, aku mengetuk pintu. Tidak ada sahutan. Aku dorong, ternyata tidak terkunci. Di tengah ruangan beliau sudah terbaring meringkuk seperti udang,” cerita seorang tua, yang rupanya tetangga Pak Senin.

“Sebentar…,” sela seseorang. “Tadi disebut di warung Ma Ipah beliau sempat bilang sakit panas, batuk-batuk, dan sesak napas? Bukankah itu persis seperti kematian yang menghantui warga di kecamatan dan kabupaten lebih satu tahun ini?” cetusnya yang lantas bergeser agak pelan dari orangtua yang menemukan mayat Pak Senin.

“Gawat! Artinya wabah telah masuk ke kampung kita?” timpal yang lain, tak jadi menghirup kopinya yang telah terangkat di tangan.

“Ini bahaya! Bahaya! Bagaimana bisa masuk?” ucap seseorang, gelisah.

“Kalau begitu, semua yang ikut memandikan, menshalatkan, hingga menguburkan, harus mengasingkan diri di atas bukit,” suara lelaki yang tadi hendak menghirup kopinya.

“Itu berarti hampir separuh kampung. Kita semua di sini tadi sama-sama juga sewaktu menguburkan Pak Senin,” ucap pak tua tetangga Pak Senin.

“Jadi, bagaimana?” suara ibu pemilik warung.

Semua terdiam. Lalu satu per satu membayar harga kopi, lantas pergi meninggalkan warung. Mungkin pulang ke rumah masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan.

Hanya tertinggal seorang lelaki muda di sudut yang sedari tadi mendengarkan sungguh-sungguh pembicaraan. Sembari menikmati asap rokok, dengan secangkir kopi yang masih tersisa setengah, ia terlihat seperti sedang berpikir ketimbang tercenung kosong. Matanya menatap punggung orang-orang yang tadi mengobrol. Senja kian remang. Terang perlahan menyusut, seiring lindapnya matahari di balik bukit.

Ada satu bukit istimewa di kampung itu. Bukit yang paling kecil di antara bukit-bukit lainnya. Di bukit itu berdiri satu-satunya sekolah dasar, yang kibaran bendera Merah Putih di halamannya hampir bisa dilihat seluruh warga kampung dari lembah. Cuma ada tiga guru mengajar di sana, yang setiap dua tahun sekali berganti lantaran tidak betah. Maklum, semua guru itu kalau tidak dari kecamatan atau kabupaten, pastilah tenaga guru dari luar provinsi yang memang ditugaskan untuk mengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Baru anak muda di warung itu yang merupakan guru asli kampung setempat. Belum genap dua tahun ia mengajar bahasa Indonesia di sekolah di atas bukit yang juga sekolahnya dulu itu. Menjadi guru bahasa Indonesia telah menjadi cita-citanya semenjak kuliah di ibu kota provinsi karena selama di sana ia rajin menulis cerpen sekalipun tidak pernah ada koran yang memuatnya. Tidak banyak memang warga kampung yang bersekolah tinggi. Rata-rata, setamat SD atau hanya cukup bisa membaca, berhitung tambah, kurang, dan membagi sederhana, anak-anak itu turun ke sawah membantu orangtuanya. Sementara sedikit anak muda lainnya yang memiliki keberanian lebih, ikut menjadi penambang batubara di bukit sebelah.

Namun, tetap saja, bukit kecil dengan sekolahnya itu yang menjadi kenangan dan kecintaan semua orang. Sebab di bukit itu juga sinyal hape lebih kencang. Ke sanalah orang-orang akan pergi bila hendak menelepon atau membuka media sosial. Dari internet pula mereka tahu kabar terkini. Termasuk wabah yang sedang melanda dunia—dan kini mulai mencemaskan orang-orang di warung tadi. Tidak terkecuali anak muda guru itu.

Sebelum hari benar-benar gelap, anak muda meninggalkan warung. Langkahnya pasti dan tergesa.

***

Anak muda telah berdiri di depan sebuah lumbung padi. Diambilnya pemantik api dari saku celana, lalu menyalakan rokok yang telah lebih dulu berada di bibirnya—sembari matanya tak lepas dari lumbung padi tua di depannya. Berkali-kali ia mengembuskan kuat-kuat asap rokok dari mulutnya, seolah ada perasaan yang ingin turut serta dilepaskan dari dadanya.

“Ada apa, Nak?” Sebuah suara dari belakang mengagetkan anak muda.

“Eh, Damang,” sahutnya mengubah posisi berdiri menghadap lelaki tua yang merupakan kepala kampung.

“Ada apa dengan lumbung padi ini?” Damang rupanya telah memperhatikannya sedari tadi.

Lama anak muda diam, hingga kemudian berucap, “Aku curiga, Damang, lumbung padi ini telah dipenuhi oleh wabah.”

“Hah?! Bagaimana kau bisa berpikiran begitu?” Damang heran sekaligus merasa tersinggung karena ia pemilik lumbung yang kini telah menjadi tempat penampungan beras pemberian dari kabupaten. Dan besok pagi beras akan dibagi.

Anak muda mengangguk-angguk dengan embusan rokok. “Bukankah Pak Senin yang membawa karung-karung beras dari pintu gerbang kampung ketika diantarkan orang dari kabupaten?”

“Betul, ia mengangkutnya sendiri dengan sepeda motornya, bolak-balik. Aku pun telah membayar upahnya,” ucap Damang, masih belum mengerti arah pembicaraan.

“Itu kemarin. Dan hari ini Pak Senin mati.”

“Kau menyalahkanku?” Damang mulai gusar. Ia menganggap anak muda itu telah terlalu lancang.

“Tidak, tidak, Damang,” sahut anak muda cepat. “Aku tidak menyalahkan Damang. Tapi aku curiga keringat pengantar dari kabupaten, yang mungkin saja mengandung virus, menempel di karung-karung beras yang dibawanya, dan itu berpindah kepada Pak Senin. Karena sebelum mati, Pak Senin menunjukkan gejala diserang wabah itu. Sekarang Damang bisa bayangkan virus-virus di dalam sana, mungkin sekarang tidak hanya menempel di karung-karung beras, tetapi telah melayang-layang. Hanya memerlukan sedikit embusan angin malam ini untuk mereka terbang keluar bagai kunang-kunang tanpa cahaya, kemudian memasuki rumah-rumah kita.”

Damang terdiam. Entah terpana kata-kata anak muda, ataukah membayangkan kengerian yang mungkin melanda kampungnya. “Lalu?” ucap Damang ragu.

“Maaf, Damang. Kurasa Damang harus membakar lumbung ini.”

“Gila! Kampung kita tidak punya persediaan beras lagi. Kau tahu, bantuan beras ini diberikan karena pintu kecamatan dan kabupaten telah ditutup karena wabah. Orang sekampung bisa kelaparan.”

“Andaipun kelaparan, tapi kita tidak akan kelaparan karena masih ada ubi-ubian, sayur, dan ikan-ikan, aku akan pilih kelaparan daripada meski sekadar membuka pintu lumbung ini.”

Anak muda berlalu. Tinggal Damang berdiri sendiri di depan lumbung. Hari telah jatuh malam. Dan entah bagaimana, di benaknya terbayang di dalam lumbung itu ribuan virus melayang-layang serupa kunang-kunang tanpa cahaya. Ia tahu cara memusnahkannya. ***

.

.

Banjarbaru, 2021

Sandi Firly. Lahir di Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Saat ini menetap di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Diundang ke Ubud Writers & Readers Festival (2011), dan setelah berhenti menjadi wartawan (2017) menekuni dunia kepenulisan cerpen dan novel.

Galung Wiratmaja lahir di Sukawati 1972. Lulusan Program Studi Seni Rupa dan Desain (PSSRD) Universitas Udayana. Sekarang tinggal di kampung kelahirannya, Sukawati, Gianyar, Bali. Lima kali menggelar pameran tunggal pada 2006-2020. Sejak 1993 hingga tahun lalu terlibat dalam puluhan pameran bersama. Mendapat beberapa penghargaan, salah satunya dari Museum Der Weltkulturen Germany pada 2006.

.
Ia Tahu Cara Memusnahkannya. Ia Tahu Cara Memusnahkannya. Ia Tahu Cara Memusnahkannya.

Arsip Cerpen di Indonesia