Cerpen Eko Darmoko (Koran Tempo, 15 Agustus 2021)
LIMA belas pendekar dari kaum bromocorah yang sudah dijinakkan siaga sambil menggenggam kelewang, lalu ada sembilan prajurit memanggul senapan. Mereka berjaga mengelilingi perpustakaan milik Sarkamut. Wajar bila Sarkamut harus merogoh koceknya agak dalam demi mempertahankan kedaulatan perpustakaan pribadinya. Maklum, isi dalam perpustakaan itu tak bisa dinilai dengan mata uang mana pun. Langka, bagi Sarkamut.
Selain buku resep kuliner peninggalan Mesir Kuno dan segulung kulit celeng berisi tulisan tangan Plato serta surat-surat Chairil Anwar yang tidak dimiliki H.B. Jassin, perpustakaan Sarkamut menyimpan benda-benda janggal yang tidak terbayangkan sebelumnya dan tidak dimiliki oleh kolektor lainnya. Para ilmuwan dan arkeolog dari segala penjuru dunia mengakui bahwa semua koleksi Sarkamut adalah asli. Bukan tipu-tipu.
Pernah suatu ketika, taipan dari Korea Selatan merayu Sarkamut sambil menyodorkan peti berisi 25 emas batangan, masing-masing batang memiliki berat 1,5 kilogram, agar Sarkamut rela melepas potongan kuku jempol tangan member boy band BTS.
“Percuma! Bawa pulang kembali emas-emasmu ke Seoul. Aku tak akan melepas kuku Jungkook,” Sarkamut mengusir taipan itu dengan kalimat dan intonasi yang halus.
“Dari mana Tuan Sarkamut mendapatkan kuku itu?”
“Mudah! Pantau salon-salon kecantikan di negara Tuan. Nah, di situlah tempatnya.”
“Sudah kami lakukan, Tuan Sarkamut. Tapi nihil. Pengendusan kami gagal total.”
Seorang pendekar di samping Sarkamut tertawa lirih. Mengejek—sangat halus dan licin. Bahkan, setan dan danyang tak bisa mendengar tawa ejekan itu, apalagi Sarkamut dan taipan Korea Selatan beserta empat anak buahnya.
“Tuan memang cerdik,” desis sang pendekar dalam hati. “Si taipan pasti percaya dengan bualan itu. Hihihi. Padahal Tuan Sarkamut datang langsung ke apartemen Jungkook untuk meminta kuku itu.”
“Kalau kutukar emas-emasmu dengan pensil Haruki Murakami, kau mau?” cetus Sarkamut tiba-tiba, sebenarnya bermaksud untuk mengusir orang-orang Korea Selatan itu.
“Ah, siapa itu Harumi Kurakami? Terdengar Jepang pula. Sial….” “
“Haruki Murakami, bukan Harumi Kurakami.” Sarkamut membenarkan. “Kau tidak kenal dengannya? Maksudku sekadar tahu.”
“Oh, Tuan! Persetan dengan nama berbau Jepang itu. Tidak ada urusan.”
“Pensil itu telah digunakannya untuk menulis draf novel Norwegian Wood.”
“Tidak! Terima kasih, Tuan. Kami bawa pulang ke Seoul emas-emas ini. Barangkali Tuan Sarkamut berubah pikiran, nomor dan e-mail kami masih sama.”
Seminggu setelah kedatangan taipan Korea Selatan itu, perpustakaan Sarkamut disatroni sindikat maling. Jumlahnya, menurut laporan kepala pendekar, sebanyak enam orang, sangat terlatih dan ampuh.
“Tapi tenang, Tuan. Mereka sudah kami lumpuhkan,” ucap kepala pendekar itu, sambil memilin ujung kumisnya.
“Mereka hendak mencuri apa?”
“Setelah saya tanya-tanya, mereka mengincar stoples merica peninggalan Kesultanan Lamuri dari abad 16, Tuan.”
“Siapa bos mereka? Yang memerintah maling-maling itu?”
“Mereka tidak mengaku, Tuan. Katanya, mereka lebih memilih dibunuh ketimbang harus menyebut nama bosnya.”
“Ya sudah. Bunuh saja!”
“Pakai prosedur apa, Tuan?”
“Terserah kau sajalah. Melubangi kepala mereka dengan linggis atau meledakkan tubuh mereka dengan granat, terserah kau dan anak buahmu.”
“Siap! Meluncur, Tuan!”
“Ingat! Yang rapi dan bersih.”
“Beres, Tuan Sarkamut!”
Sejak perpustakaannya disatroni gerombolan maling yang kini sudah jadi bangkai, Sarkamut memperketat penjagaan dengan cara menambah jumlah pendekar dan memperbanyak CCTV. Tujuh anjing penjaga juga disebar di sekitar perpustakaan.
Perpustakaan Sarkamut terletak di bagian timur-utara rumahnya. Luas rumah Sarkamut nyaris seukuran lapangan sepak bola standar FIFA. Berdiri megah di pinggiran kota. Di abad 21 ini, kaum tajir memang memiliki tabiat seragam; membangun dinasti di pinggiran kota.
“Pelantikan pendekar-pendekar baru sudah beres, Tuan,” kata kacung kepercayaannya.
“Dapat dari mana?”
“Mereka dicomot dari padepokan silat di kaki Gunung Pawitra. Pendekar profesional.”
“Yang penting setia.”
“Sudah tentu.”
“Ngomong-ngomong kau sudah berapa lama bekerja untukku?” tanya Sarkamut kepada si kacung, yang sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. Ia punya daya ingat luar biasa.
“Saya mengabdi untuk Tuan sejak usia saya dua belas tahun. Kini saya sudah kepala empat.”
“Tepat!” sambar Sarkamut sambil mengulurkan beberapa lembar uang kertas pecahan seratus ribuan. Si kacung meringis girang.
“Ngomong-ngomong Tuan berhasil mendapatkan sehelai janggut Aleksander Agung dari Makedonia?”
“Beres itu. Aku mengalahkan kolektor dari Zurich dan Dubai,” Sarkamut mengelus dagunya. “Janggut itu kutaruh di etalase selatan, bersebelahan dengan kuas lukis milik Picasso.”
Sarkamut memberi instruksi agar anak buahnya pergi. Ia ingin sendirian, menikmati senja sambil menenggak anggur merah di perpustakaannya.
Telepon genggam di saku celananya bergetar. Ada telepon masuk dari istrinya.
“Mas Mut, aku dan anak-anak pulang seminggu lagi, ya. Mereka betah liburan di Edinburgh. Nggak mau pulang. Ingin nambah.”
“Terserah kalian sajalah. Jaga diri baik-baik, ya!”
“Makasih, sayang! Oh ya, katanya rumah habis dimasuki maling. Aku tahu dari berita online. Gimana ceritanya?”
“Ah, mereka hanya cecunguk. Sudah dibereskan oleh anak buahku.”
“Oke deh, sampai jumpa, sayang. Muach.”
“Muach.”
Di sofa bekas milik Paul McCartney yang dibelinya dari sebuah rumah lelang di London, Sarkamut rebahan sambil kakinya selonjoran—bersenandung mengikuti alunan lagu Blackbird. Suasana senja yang ritmis membuatnya sejenak lupa perihal urusan partai. Bergelas-gelas anggur merah yang ditenggaknya membuat bapak dua putri ini sedikit pening. Tapi itulah yang dicari Sarkamut. Pening dalam keritmisan.
Sarkamut, yang memiliki predikat mentereng di partai, digadang-gadang bakal dicalonkan oleh pemimpin partai sebagai kepala daerah di pemilihan umum mendatang. Sarkamut adalah kader sekaligus orang kepercayaan si pemimpin partai. Loyalitas Sarkamut untuk partai tak boleh diragukan lagi. Tak pernah terlintas di benaknya untuk membelot. Jika pemimpin partai memberi target delapan, maka Sarkamut akan berusaha memperoleh hasil sembilan. Semua akan dilakukan demi kedaulatan posisinya, meskipun itu harus mencabut nyawa seseorang.
Pemutar musik digital di perpustakaannya menyuguhkan lagu secara acak. Kini meraung tembang suram Something In The Way milik Nirvana. Kontan saja ingatan Sarkamut menggeledah kenangan pahit bertahun-tahun silam. Ia gagal mendapatkan gitar akustik milik vokalis Nirvana, Kurt Cobain, yang digunakan di konser MTV Unplugged. Padahal Sarkamut sudah menyodorkan mahar senilai delapan miliar. Tapi kegagalan itu sedikit terobati, sebab ia berhasil meminang stik drum dan bekas permen karet milik drummer Nirvana, Dave Grohl.
Penggeledahan masa silam Sarkamut buyar ketika perempuan dengan mengenakan rok mini nyelonong masuk ke perpustakaannya. Keterkejutan Sarkamut hanya sekelebat. Ia mengalihkannya pada sebuah jendela. Dilihatnya senja sudah punah. Bola-bola lampu di taman dekat perpustakaan sudah berpendar terang. Kemudian mata Sarkamut menghunus tajam, menggeledah perawakan perempuan yang sudah duduk di ujung sofa.
“Tumben seharian ini nggak meneleponku.”
“Dengan siapa ke sini, Mel?”
“Sendirianlah. Kok tumben?”
“Iya. Aku lupa meneleponmu, Mel.”
“Penyakit orang tua.” Melisa terkekeh menggoda Sarkamut.
“Tumben datang ke sini tanpa memberi kabar dulu. Kalau istriku tahu, bisa gawat.”
“Bukannya dia masih di Edinburgh bersama anak-anak,” ketus Melisa sambil membalik lipatan kakinya. Berganti posisi. Rok mini merahnya makin mendekati selangkangan. Sementara cardigan sudah dicopot. Tubuhnya tinggal terbungkus T-shirt putih ketat.
“Lalu apa perlumu ke sini, Mel?” tanya Sarkamut sambil memencet remote, mematikan pemutar musik digital.
“Aku disuruh bapak untuk mengabarimu kalau besok malam ada rapat partai,” jawab Melisa. Bapak yang dimaksud adalah pemimpin partai.
“Harus ya datang ke sini. Lewat telepon kan bisa.”
“Teleponmu tidak aktif, Mas.” Melisa merengek manja. Beranjak dari posisinya. Lalu duduk di pangkuan Sarkamut.
“Ah itu hanya bentuk kemanjaanmu, kekanak-kanakanmu, Mel. Barusan istriku telepon dari Edinburgh….”
“Mas,” desis Melisa ke arah telinga Sarkamut, “kau sudah mengoleksi daleman milik Paris Hilton, Kendall Jenner, Demi Moore, Britney Spears, Jennie BLACKPINK dan sebagainya, dan lain-lainnya. Tidakkah kau punya niatan mengoleksi bra dan celana dalamku?”
“Kau memang penakluk ulung, Mel.”
“Akulah Melisamu, Mas,” lirih Melisa sambil meninggalkan pangkuan Sarkamut.
Melisa merogoh telepon genggam di tas kecilnya. Membuka sandi pengaman, memeriksa sebuah pesan. Lalu meletakkannya di atas meja. Selanjutnya, ia melucuti pakaiannya.
Sarkamut melumat tubuh telanjang Melisa. Menjatuhkannya ke sofa Paul McCartney. Malam jahanam mereka lalui dengan permainan dua ronde. “Malam ini kau lebih perkasa ketimbang malam-malam sebelumnya, Mas,” puji Melisa.
“Jangan pulang! Tidurlah di sini, Mel!”
“Aku harus pulang, Mas. Harus menyiapkan materi pesanan bapak untuk rapat besok.”
Sepeninggal Melisa, Sarkamut merasa lelah. Ditenggaknya anggur merah langsung dari botolnya hingga tandas. Sarkamut tumbang ke sofa. Tertidur pulas dan terbangun keesokan harinya oleh kedatangan kacung kepercayaannya.
“Ada apa, Mat? Pagi-pagi buta sudah bikin gaduh.”
“Maaf, Tuan. Sekarang sudah siang bolong. Hampir beduk.”
“Ada apa?” Sarkamut merasakan pandangannya berkunang-kunang. Silau dari arah jendela membuat kepalanya makin pening.
“Ini, Tuan,” si kacung menyodorkan telepon genggam miliknya, “lihat ini, Tuan. Viral di media sosial dan berita online.”
Sarkamut merasakan kepalanya dihantam kapal tongkang. Bayang-bayang kejatuhan menggerogoti otaknya. Wajah istri dan putri-putrinya memenuhi segala ruang di dirinya.
“Ambilkan aku air putih, Mat! Cepat!” si kacung menyodorkan segelas air.
Sarkamut langsung menenggaknya habis. Ia masih tidak percaya dengan adegan video yang baru saja dilihatnya dari telepon genggam si kacung. “Bajingan! Sundal itu merekamnya semalam. Anjing!”
Tiba-tiba telepon genggamnya yang teronggok di sofa, bergetar. “Dasar sundal kau, Mel.” Itu kalimat pertama yang dilontarkan Sarkamut. Selanjutnya adalah berisi makian, caci maki, sumpah serapah, dan kata-kata jorok paling laknat yang pernah lahir di sepanjang peradaban umat manusia.
“Kau disuruh siapa, Mel? Dibayar berapa? Pengkhianat!”
“Tak perlu tahu siapa yang menyuruhku. Yang jelas kau punya banyak musuh. Para kader partai kita, kader partai lain, dan kaum kolektor yang sering kau bikin sakit hati.”
“Pelacur!”
“Komplotan yang menyatroni perpustakaanmu, mereka tidak datang untuk mencuri koleksimu. Mereka dibayar untuk membunuhmu. Tapi, akhirnya aku yang turun tangan untuk menjagalmu.”
“Persetan!”
Melisa memutus sambungan telepon. Sejurus kemudian, telepon Sarkamut bergetar lagi. Bapak pemimpin partai memanggil. Sarkamut tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa mendengarkan amarah sang bos dari seberang telepon.
“Selesaikan dengan namamu. Jangan bawa-bawa nama partai,” ucap bapak sebelum mengakhiri percakapan.
“Baik, Pak!” jawab Sarkamut.
Teleponnya kembali bergetar. Istrinya memanggil dari Edinburgh. Tapi Sarkamut tak berani mengangkatnya.
“Mat, suruh kepala pendekar mengumpulkan anak buahnya!”
“Siap!”
“Suruh kumpul di teras perpustakaan. Pasti ada pengkhianat di antara mereka.”
Telepon genggamnya bergetar lagi. Taipan Korea Selatan memanggil. “Halo Tuan Sarkamut. Kemarin aku mengirim pelacur untukmu. Maaf atas segala kelancanganku. Hahaha. Barangkali Tuan berubah pikiran, temui aku di tengah kota malam ini.” ***
.
.