Si perampok memijit lengan kanan hingga bahunya, “Apakah di toko ini ada remason… Bapak menjual remason, nggak?” kata perampok sambil celingkukan mencari-cari remason di sekitar etalase kaca.
“Bapak ambil saja minyak kayu putih di bagian kastok itu… cepat ambilkan, Pak!”
Perampok itu segera mengambil minyak kayu putih, membuka segelnya, kemudian langsung menuangkannya di bagian bahu pemilik toko.
“Tolong, sambil dipijit, Pak, tolong, aduuuh!”
“Bapak buka dulu bajunya, biar nanti saya borehi dari bahu hingga punggung.”
“Aduuuh, sakit sekali, Pak. Ini gara-gara tadi, Bapak memaksa saya angkat tangan, sih?”
“Sekarang buka bajunya, mau diobati nggak? Jangan malu buka baju… kita ini sama-sama laki-laki….!”
Akhirnya, si pemilik toko membuka bajunya pelan-pelan dengan tangan kirinya. Si perampok membantu melepas bagian lengan kanannya. Setelah diborehi minyak kayu putih, pemilik toko masih merintih kesakitan, meskipun terasa agak hangat dan mendingan.
***
Setelah mendudukkan pemilik toko ke atas kursi, ia pun menarik napas lega. Ia nampak kelelahan karena menahan rasa sakit. “Seperti ada bengkak-bengkak di bahu kanan Bapak?” tanya si perampok.
“Ya, sudah lama bengkak itu, sudah berbulan-bulan,” katanya lirih.
“Apakah asam urat bisa menimbulkan bengkak juga?”
“Tergantung jenis asam uratnya. Kalau ada penyakit lainnya seperti rematik, bisa lebih parah lagi. Tapi, alhamdulillah, sejak dipijit Bapak tadi, sekarang sudah lumayan. Mungkin ini karena faktor rematiknya. Ngomong[1]ngomong, apakah Bapak pernah menjadi tukang pijit?”
Pertanyaan itu membuat si perampok agak tersinggung. Melihat reaksi yang kurang mengenakkan, pemilik toko mengubah pertanyaannya, “Maksud saya, apakah Bapak pernah memijit seseorang, baik keluarga atau sahabat dekat, begitu?”
Ia pun berusaha mengendalikan diri, dan jawabnya, “Memang pernah, kalau beberapa teman dekat sih.”
“Oo, begitu.”
Mereka saling diam dalam waktu yang cukup lama. Untuk memecah keheningan, si perampok angkat bicara, “Sudah berapa lama Bapak mengalami asam urat dan rematik seperti ini?”
“Wah, sudah bertahun-tahun, Pak.”
“Selain asam urat dan rematik, apakah Bapak punya keluhan penyakit lainnya?”
“Wah, banyak sekali, Pak, kadang-kadang juga sesak napas, batuk, mual-mual dan pusing. Bahkan tiga bulan lalu, makanan dan minuman nggak bisa masuk ke tenggorokan, sehingga saya harus dirawat dan hanya menerima makanan dari selang infus.”
Perampok itu melirik ke berbagai jenis makanan dan minuman yang terpajang berderet-deret di ruang toko kelontong. Kemudian, si pemilik toko balik bertanya, “Kalau Bapak sendiri bagaimana?”
“Maksudnya?”
“Apakah Bapak juga suka sakit-sakitan?”
“Yaa kalau sakit, tentu pernah, tapi nggak terlalu sering. Dua tahun lalu, saya juga pernah kena rematik. Dan penyakit ini, sekali menyerang tubuh kita, selamanya ia akan menempel seperti perangko.”
“Benar sekali, Pak,” si pemilik toko semakin tertarik mendengar uraian si perampok. Mereka berdua sudah tak mempedulikan sebilah belati tajam tergelatak di atas meja. “Memang benar, Pak, kalau lagi keluar kumatnya, waduh sakitnya bukan main.”
“Bapak pernah coba minyak tawon dicampur minyak kletik?”
“Wah, kalau minyak kletik lengket sekali, Pak, saya kurang suka yang lengket-lengket begitu.”
“Kalau minyak Star Krim?”
“Kalau minyak itu pernah pakai, walaupun agak lengket tapi cepat kering. Bapak sendiri pernah coba kapsul Rumasol, nggak?”
“Ah, saya nggak mempan minum Rumasol. Pernah saya coba selama beberapa bulan, tapi tak ada pengaruhnya. Seminggu kemudian, saya agak membaik setelah minum ekstrak Habat Suda yang diproduksi PT Harbol dari Bogor. Nah, PT Harbol juga memproduksi balsem, namanya Moon Krim, Bapak pernah coba nggak?”
“Boleh kalau Bapak ada, kirim ke sini, nanti saya mau beli.”
“Baik, nanti akan saya bawakan.”
***
Pemilik toko kelontong menarik kursi satu lagi dari dalam gudang sembako, kemudian mempersilakan si perampok agar duduk. “Penyakit saya ini, Pak,” katanya lagi, “kalau lagi kumat, sering menyerang malam-malam. Wah, saya nggak bisa tidur sama sekali, apalagi pas musim-musim hujan begini.”
“Kalau pagi, bagaimana?”
“Pagi juga sama. Kalau jam 5.00 pagi, paha ini seperti ditusuk-tusuk duri. Mau salat nggak bisa. Kalau nggak salat, istri saya marah-marah, bahkan saya dibilang orang kafir, murtad, sesat, macam-macam… lalu saya membela diri, bagaimana harus salat, ruku dan sujud, wong bangun tidur saja harus dipaksakan setengah mati?”
Perampok itu berdehem dan mendelikkan alis matanya. Supaya perbincangan tidak melebar ke urusan salat, ruku dan sujud, ia pun mengalihkan pembicaraan pada soal lainnya. “Apakah Bapak pernah coba larutan pembersih darah yang mereknya Cula Badak, wah itu bagus, Pak,” sambil mengangkat jempol tangannya.
“Cula Badak… yang gambarnya ada tiga badak itu, ya?”
“Nah, itu dia! Pernah?”
“Pernah, tapi nggak ada pengaruhnya tuh.”
Mereka diam sejenak, kemudian kata si perampok lagi, “Selain waktu pagi, apakah rasa nyeri juga menyerang kalau sore hari?”
“Kalau sore nggak seberapa. Tapi pas menjelang tutup toko, atau setelah tutup sekitar jam sepuluh malam, dia suka datang tiba-tiba, tanpa diundang. Rasanya bukan seperti ditusuk duri, tetapi seperti ditusuk pisau belati…”