Perampok itu memejamkan pelupuk matanya, serta-merta mengalihkan pembicaraan, “Kalau Bapak naik tangga ke lantai dua, bagaimana?”
“Wah, saya harus melangkah pelan-pelan, sambil berpegangan dinding di sekitar tangga. Kalau tidak, saya bisa ambruk.”
“Kalau pergi ke dokter, di mana Bapak bisa cocok berobat?”
“Wah, semua dokter sudah saya coba, Pak. Saya bahkan sudah menghabiskan ratusan juta untuk mengobati ini.”
“Sama saya juga, Pak. Apalagi kalau yang menangani dokter-dokter muda zaman sekarang itu, wah tahu apa mereka tentang penyakit yang menyerang kita yang sudah sepuh begini?”
“Barangkali mereka perlu penyakitan dulu seperti kita, baru bisa menyembuhkan orang lain,” canda si pemilik toko. Dan keduanya pun tertawa terpingkal-pingkal.
“Memang penyakit ini sangat aneh,” sambung si perampok, “ketika pergantian musim, dari musim panas ke musim hujan, tahu-tahu dia menyerang badan kita seperti sakit gigi yang menyerang secara tiba-tiba… sakitnya bukan main…”
“Tepat sekali… benar sekali apa yang Bapak bilang, saya juga begitu… saya juga begitu…,” katanya sambil tertawa. “Tapi ngomong-ngomong, kita keluar dulu yuk, ke warung kopi Pak Salim di perempatan sana. Kita bisa ngobrol sambil begadang di sana, soalnya kalau di sini kurang begitu nyaman, bagaimana?”
“Baik, kalau begitu.”
“Tapi, saya harus pakai baju dulu, lalu menutup warung, Masitoh… biar saya panggil istri saya dulu, Masitoh…!”
“Husst, Bapak nggak usah panggil-panggil istri Bapak. Biar saya yang memakaikan baju dan membantu menutup toko ini.”
Setelah memakai kemeja, pemilik toko dan perampok itu melangkah menuju tirai besi penutup toko, ditariknya keras-keras dari arah kiri dan kanan. Bunyinya berdecit keras memekakkan telinga. Ia segera mengamit topi dan belati dari atas meja, serta menyelipkannya ke balik jaket.
Tak berapa lama, istri pemilik toko muncul seketika di depan mata. Perampok itu agak gugup dan canggung, tetapi si pemilik toko j justru memperkenalkan, “Ini kenalkan, sahabat lama Bapak, namanya… siapa Pak?”
“Kasanun.”
“Ya, Pak Kasanun. Ini istri saya Masitoh.”
Setelah bersalaman, mereka bergegas meninggalkan toko. Setelah berjalan beberapa langkah, si pemilik toko tiba-tiba berbalik sambil berujar, “Waduh, Pak Kasanun, saya lupa bawa dompet, nanti saya ambil dulu.”
“Ah, nggak usah repot-repot, Pak,” katanya sambil merengkuh tangan pemilik toko. “Tenang saja… biar nanti saya yang traktir….” ***
Keterangan:
Nama-nama obat yang disebutkan, ditulis secara kias (fiktif).