Benalu

Obrolan kami tentang Supri pun tidak berlanjut. Selama istri saya belanja, saya cuma duduk mencakung di atas motor, diliputi berbagai kekhawatiran dan bayangan buruk. Berkelebat di kepala saya, sesampai kami di rumah, pintu rumah kami sudah ngablak. Baju-baju kami dalam lemari sudah amburadul. Lantas, barang-barang berharga milik kami, termasuk perhiasan istri saya yang disimpan dalam laci lemari, semua sudah raib.

Semakin lama istri saya berbelanja, kecemasan itu semakin memuncak. Hingga ketika istri saya muncul dari balik kerumunan orang, saya mengempas napas lega dan segera menyalakan motor, lalu ngebut balik ke rumah. “Pelan-pelan saja, jangan ngebut,” suara istri saya hampir tidak terdengar.

Sepanjang jalan, terus-menerus saya membayangkan pintu rumah yang terbuka lebar, perkakas-perkakas yang berantakan, serta barang-barang yang lenyap. Namun, rupanya itu semua cuma kekhawatiran saya. Begitu sampai di rumah, semuanya masih aman terkendali. Malah kami mendapati Supri sedang berdiri di dapur, sedang mencuci piring.

“Kamu ngapain?” tanya saya.

“Enggak ngapa-ngapain,” jawabnya walau jelas-jelas di hadapannya piring penuh busa bertumpuk menunggu dibilas.

Istri saya mengerutkan dahi. “Tidak usah repot-repot,” ujarnya. Namun, kepada saya, istri saya berbisik, “Temanmu itu lancang.”

Saya terdiam, dan berpikir bahwa kata istri saya ada benarnya. Menyentuh perkakas orang tanpa izin adalah lancang meski maksudnya baik. Kami terpaksa bersibuk-sibuk membereskan belanjaan di dapur sambil menungguinya selesai mencuci.

Setelah tumpukan piring menjadi bersih, saya mengajak Supri kembali duduk-duduk di ruang tamu. Jika tidak, saya takut dia akan mulai membereskan tumpukan pakaian kotor di kamar mandi. Saya tak mau pakaian-pakaian dalam kami disentuh orang.

Di ruang tamu ada rak buku yang agak berdebu. Meski tidak sampai dapat disebut perpustakaan, koleksinya diam-diam cukup saya banggakan. Saya sarankan Supri untuk menyibukkan diri dengan buku-buku itu ketimbang mengurus pekerjaan rumah. Tamu tak boleh repot-repot, ucap saya berbasa-basi.

Supri langsung sibuk dengan buku-buku di ruang tamu. Sementara itu, saya kembali ke dapur membantu istri saya memasak. Siang hari kami mengajaknya makan dan dia mulai menampakkan kesan sebagai seorang tamu yang manis. Dia menawarkan bantuan untuk mencuci piring lagi, tapi istri saya menolak. Ada baiknya, kau tidur siang dulu, nanti sore boleh kalau mau bantu-bantu siram kembang di pekarangan, kata saya. Dengan raut bahagia Supri memohon diri masuk kamar. Pukul empat sore dia muncul dari balik pintu. Pergi ke kamar mandi, lalu keluar ke pekarangan. Menyiram kembang sampai jelang petang.

Ketika langit beranjak gelap, saya berdoa supaya malam berlalu dengan cepat. Malam itu, sambil menonton televisi, istri saya menyuguhkan teh hangat sekali lagi, lalu Supri mulai berceloteh. Katanya, tak lama lagi negara ini akan membusuk, lalu musnah.

“Kenapa bisa begitu,” tanya saya.

“Karena segala sesuatu yang ada di dalam negara ini juga mulai membusuk, terutama politiknya,” sahut Supri. “Politik yang busuk itu seperti racun yang masuk ke aliran darah. Budaya dimasuki, sosial dimasuki, agama dimasuki, semua dimasuki. Dan karena sudah busuk sejak awal, apa yang dimasuki pun ketularan busuk,” sambungnya.

Saya mengerutkan dahi, menduga-duga bahwa orang bernama Supri ini, kalau tidak bodoh, ia sok pintar. Bahasa tuturnya bertabur metafora, tapi saya kesulitan memahami arahnya. Atau, jangan-jangan saya yang bodoh, pikir saya lagi.

Supri mengobrolkan apa saja yang bisa dan ingin dia obrolkan, sampai lama-lama saya bosan mendengarnya. Ketika saya menguap, pura-pura tentu, Supri menyarankan saya untuk istirahat. Dengan senang hati saya mohon diri. Tak berselang lama, Supri pun masuk ke kamarnya. Sampai pagi tiba.

Setelah mandi, tepat pukul tujuh, Supri berpamitan. Dia bilang sangat berterima kasih, jarang-jarang orang baru kenal mau berbaik hati mengizinkan menginap. Suatu saat mungkin dia akan mampir lagi ke rumah kami—yang sudah jadi saudara barunya. Dengan senang hati, kata saya tidak tulus. Supri pun pergi dan serta-merta saya merasa begitu lega. Seperti terbebas dari parasit. Istri saya menjawil dan bertanya, “Apa maksudnya orang baru kenal?”

“Baru kenal sama kamu maksudnya,” jawab saya.

Untuk memastikan Supri pergi tanpa membawa barang-barang kami, saya pun memeriksa kamar tamu, juga barang-barang di dalam lemari di kamar saya. Semuanya aman, semua masih pada tempatnya. Tebersit sesal karena sudah menaruh syak padanya.

Beberapa hari kemudian, saya sedang bersantai di ruang tamu. Teringat pada buku yang belum sempat saya selesaikan, saya melirik ke meja. Tidak ada. Saya sisir seisi rak, tetap tidak ketemu. Begitu juga beberapa buku lain, termasuk buku-buku langka yang saya beli dengan harga lumayan tinggi.

Saya mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat. Mungkin buku-buku itu dipinjam teman saya? Ah, tapi sudah lama mereka tidak bertandang. Saya bertanya kepada istri saya, ia pun menggeleng.

“Mungkin dipinjam temanmu,” katanya.

“Teman mana? Kan sudah lama tidak ada yang datang,” balas saya.

“Yang kemarin itu menginap?”

Saya melirik lagi ke rak buku. Seketika wajah naif Supri memenuhi kepala saya. Menertawakan saya. ***

Malang, 2020

Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya tepercik di berbagai media. Buku terbarunya ialah Gelak Tawa di Rumah Duka (2020). Kini bermukim di Malang.

Arsip Cerpen di Indonesia