Di Puncak Kesunyian

Batinku meronta, lelah menghadapinya seorang diri. Melihat Azzam dan Amira yang semakin histeris memanggil papanya berulang-ulang. Memaksaku tetap tenang dan kuat menghadapi segala keadaan.

Susah payah kugendong Azzam menuju kamar, mengambil telepon dan segera menghubungi pihak kesehatan. Amira meringkuk dalam pelukanku.

“Mama, tadi ada om ganteng banget ke sini, katanya mau ngajak Kak Azzam ketemu Papa. Tapi, Amira takut. Kalau Kak Azzam ketemu Papa, jadi gak bisa sekolah lagi. Kan Kak Azzam cita-citanya jadi dokter. Mana ada dokter yang ikut papanya terus gak sekolah. Aku teriakin deh om gantengnya, terus manggil-manggil Papa.” Aku tertegun mendengar ucapan Amira.

“Papa datang, Sayang?” tanyaku hati-hati.

“Dateng, Ma, malah Papa yang bantuin Mama ngangkat Kak Azzam.” Bulu kudukku merinding, pantas saja Azzam tak seberat yang kubayangkan.

“Papa juga bilang katanya Mama jangan sedih.” Lanjutnya berceloteh sambil menghadap rak buku. Azzam meraih jemariku.

“Ma, Azzam sama Amira bisa lihat Papa. Setiap hari Papa main sama kita, jagain Mama.”

Mendengar cerita ini berulang-ulang kali membuat kepalaku hendak meledak. Bagaimana menjelaskan bahwa papanya sudah tiada? Bisa saja yang bermain bersamanya bukan papanya, namun ilusinya. Imajinasinya. Atau bahkan jin yang menyerupai papanya.

“Mama gak percaya ya?” Tanya Amira menelisik ke dalam mataku.

“Kak Azzam, kok Mama gak bisa lihat Papa sih?” Amira semakin kesal.

Azzam malah balik bertanya padaku. Dan aku hanya diam saja. Kenapa aku bergetar hebat menyadari bahwa kemungkinan mereka melihat papanya. Aku semakin tertikam rindu. Terjerembab dalam rasa yang kian menggebu. ***

Jombang

Arsip Cerpen di Indonesia