Di Puncak Kesunyian

KUPANDANGI setiap sudut kamar ini. Ruang yang sudah kutinggali ribuan hari. Ini adalah kamar di mana aku merasakan dekap kehangatan, saling mempelajari setiap sentuhan, berbagi keluh kesah, bercanda ria, dan saling memadamkan amarah.

Namun, semenjak hari itu, kamar ini menjadi begitu asing dan membuatku merasa sebatang kara. Semua orang merasa ditinggalkan, tapi tak ada yang lebih merasa ditinggalkan kecuali aku.

Aku harus berpura-pura semringah, berakting ceria, bahkan harus bisa menciptakan gelak tawa. Tak ada satu orang pun yang tahu perasaanku. Sebenarnya aku lelah, aku butuh keseimbangan.

Hatiku akan semakin berdarah-darah jika salah satu dari mereka menanyakan kehadiran papanya. Aku akan menangis diam-diam bila rindu menusukku semakin dalam. Jika bukan karena masa depannya, aku mungkin tak bisa bertahan.

Hal ini begitu menyesakkan. Kadang aku berpikir, apakah aku tak layak bahagia hingga Tuhan merengut segala yang kupunya? Dan ketika kewarasanku kembali, aku segera ber-istighfar. Meyakini Tuhan sedang menyiapkan kejutan yang tak terduga.

Aku duduk di sofa bulat yang sengaja kuhadapkan ke kolam koi di belakang rumah. Menghapus rintik air mata dengan kedua tanganku.

Sayup-sayup kudengar suara mereka yang tergelak. Hatiku menjadi hangat. Ibu mana yang tak bahagia mendengar tawa riang putra-putrinya? Menatap foto meraka yang kuletakkan di nakas meja kerja.

Berdiri membuka lemari, aroma parfum yang biasa dikenakan suamiku menguar. Kuhirup dalam-dalam, kunikmati sambil sesenggukan. Dia sosok lelaki bertanggung jawab yang begitu mencintai keluarga. Lelaki yang mewujudkan impianku dalam setiap sudut rumah.

Aku yang seorang penulis, ia beri jalan yang begitu mulus dengan membuatkanku ruang untuk menulis yang nyaman. Melengkapi perpustakaanku dengan berbagai buku kuno dan sederet novel.

Dia juga membuat desain ruang tanpa sekat menuju kamar tidur dan meja bekerjanya. Bahkan, dia akan suka rela mendengarkan khayalanku yang tak masuk akal.

Kupandangi kamar ini sekali lagi, kuhirup aromanya agar selalu terpatri dalam hati. Membuka ruang rahasia di balik lemari. Lagi-lagi tangisku pecah melihat lukisan yang banyak terinspirasi dari lakon cerita dalam bukuku.

Membuka berangkas tempatnya menyimpan perhiasanku dan tabungannya. Aku masih ingin merasakan kehangatan dan kasih sayangnya. Masih ingin bermanja-manja di hamparan dadanya.

Aku menangis sepanjang hari dan berbaring di atas lukisan sepasang kekasih di bawah senja. Lukisan itu terinspirasi dari bukuku yang berjudul “Jodoh Virtual” kisah percintaan klasik yang mempertemukan sepasang kekasih di bawah kaki senja.

“Seperti aku dan kamu, yang bertemu setelah sekian lama di pantai Kemantren Lamongan. Jangan-jangan ide nulis bukunya gara-gara ngebet nikah sama aku nih?” Dia mengodaku dengan tatapan manjanya.

Memang benar, jika bukan aku yang mengancamnya untuk segera melamarku. Mungkin detik ini kami belum bisa bersama dan mewujudkan rumah impian ini.

Setelah tangisku benar-benar mereda, anakku berteriak sambil mengedor-gedor pintu kamar. Aku segera keluar mendapatinya menangis sambil menunjuk ke arah kakaknya yang sudah tergeletak.

Aku berlari, menaruh kepala anak pertamaku pada pangkuan. Mencoba bertanya pada Amira, anak bungsuku. Amira menjelaskan dengan terbata-bata. Aku terbelalak dan segera mengambil tabung oksigen yang dulu kusimpan saat suamiku terpapar korona.

Muhammad Azzam, anak pertamaku juga ternyata mengalami gejala yang sama seperti papanya. Sesak napas dan pusing berat. Aku ditikam rasa ketakutan, takut ditinggalkan. Karena aku sekeluarga yang masih dalam program isolasi semenjak kepergian Mas Maulana—suamiku, tak berani untuk pergi ke rumah sakit.

“Mama, Kakak gak papa kok.” Dia menangkap wajah kecemasanku dan mengenggam erat tanganku. Amira semakin menangis saat melihat kaki Azzam yang dingin, kaku, dan memucat. Amira berbicara entah kepada siapa. Sepertinya dia melihat sesuatu yang gaib.

“Sayang, jangan teriak-teriak. Mama makin bingung. Ambilin telepon Mama di kamar.” Ucapku sambil terus meredakan tangis dan ketakutannya.

Arsip Cerpen di Indonesia