Juru Jagal

Ibu juga pernah mengingatkan paman agar berhenti menjadi tukang jagal. Bukan memihak pada bibi, namun ibu menyadari bahwa ada banyak pekerjaan lain yang pendapatannya lumayan. Merantau, salah satu profesi yang paling banyak digemari akhir-akhir ini, menjadi pilihan ibu. Bahkan, ibu siap memberi sedikit biaya sebagai modal awal pergi merantau ke tanah jauh.

“Hari ini, menjaga toko sembako di Jakarta lebih banyak untungnya, Le’,” ujar ibu suatu ketika.

“Tapi pekerjaan ini warisan dari ayah.”

“Paham, paham. Tapi anak-istrimu benar-benar kekurangan,” desak ibu lagi.

Paman terdiam.

“Tahun kemarin tetangga kita itu berangkat ke Jakarta, kemarin lusa dia sudah pulang bawa mobil.”

Paman bergeming, bibirnya kelu.

***

Jika mengingat itu, ibu akan menangis sejadi-jadinya. Ia masih belum terima jika saudaranya harus pergi lebih jauh. Itulah paman, sebelum akhirnya bibi memutuskan untuk menggorok leher suaminya itu dengan mata pedang yang bergambar bintang. Pada hari minggu, kamar milik mereka, bersimbah darah. Aku jadi yakin jika keluarga mereka memang ditakdirkan untuk menjadi juru jagal paling andal sepanjang sejarah umat manusia. Sementara bibi, ia pasti membayangkan bahwa tubuh paman adalah sapi yang keempat kakinya diikat tampar. Paman tidak berkutik. Bahkan, kata kedua anaknya, suara paman yang terakhir benar-benar mirip lenguh sapi betina. ***

Keterangan:

Le’ = dek (Madura)

MOH ROFQIL BAZIKH. Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga. Bermukim di Garawiksa Institute Jogjakarta.

Arsip Cerpen di Indonesia