KETIKA tampar sudah diikatkan pada keempat kaki sapi. Dua kaki depan dirapatkan, begitu pula dengan dua kaki belakang.
MAKA, mata pedang yang bergambar bintang sudah dipersiapkan. Sebelumnya, paman tidak pernah lupa untuk mengasahnya terlebih dahulu pada batu yang permukaannya keras. Tidak lain agar mata pedang lebih mengkilap dan siap menebas urat leher para sapi. Ketika mata pedang sudah sampai di leher, mata sapi biasa mendelik tanpa ampun. Kadang kala, suaranya mengerang mirip orang yang mendekati ajal. Jika sudah keempat kakinya tidak bergerak sama sekali, baru tampar yang digunakan untuk mengikat dilepas. Jelas ini bukan perkara mudah. Namun, karena dilakukan sejak bertahun-tahun, bagi paman tentu tidak sulit.
Paman mendapat mandat untuk jadi tukang jagal sudah dari kakek—ayah ibu. Sayangnya, paman tidak membuka usaha untuk menjual daging. Ia hanya menjadi tukang jagal ketika sudah mendapat undangan untuk menyembelih hewan. Jika yang hendak disembelih adalah sapi, maka paman akan pergi ke rumah yang mengundangnya. Namun, jika yang disembelih adalah ayam, maka pemiliknya yang datang ke rumah. Acara sembelih-menyembelih biasa dilakukan ketika ada hajatan yang lumayan besar. Maka, ketika banyak hajatan, mata pedang milik paman harus segera siap-siap menumpaskan leher hewan. Ketika sudah selesai, paman juga akan kebagian sedikit daging, baik yang sudah matang maupun masih mentah.
Kata bibi, itu bukan pekerjaan yang baik untuk paman. Apalagi pekerjaan itu hanya musiman. Maksudnya, hanya ramai di bulan-bulan tertentu. Padahal bibi dan dua anaknya butuh banyak uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bibi menilai bahwa pekerjaan paman sebagai juru jagal tidaklah menguntungkan. Imbalan yang didapat sebetulnya tidak seberapa. Namun, paman sendiri dengan senang hati mengerjakannya. Sebab, kakek—ayah paman—dahulu juga merupakan juru jagal terkenal di sini. Bedanya dengan paman, kakek tidak perlu repot-repot meminta bantuan banyak orang untuk mengikat keempat kaki sapi. Biasanya kakek akan menyentuh perut sapi dan tiga menit kemudian tubuh sapi limbung ke tanah.
“Kita sudah tidak mungkin banyak berharap dari pekerjaanmu itu,” kata bibi suatu hari.
“Tapi selama ini kita masih bisa makan, kan?” dalih paman.
“Banyak kebutuhan lain dari sekadar makan.”
Keributan kecil sering terjadi. Bibi kerap menyindir pekerjaan paman yang dianggap kurang membawa untung. Lagi-lagi paman tetap kokoh dengan pendirian dan mandat dari ayahnya—kakek. Bila disuruh memilih antara istri dan kedua anaknya dengan juru jagal, paman rasa-rasanya lebih memilih kecintaannya pada jagal. Kecintaannya pada profesi menyembelih hewan itu tidak pernah padam, bahkan ketika istrinya nyaris setiap hari mencela. Memang, setiap bulan pasti ada orang yang menggunakan jasa paman. Namun, sekali lagi, imbalannya memang tidak seberapa.
Seandainya paman bukan satu-satunya anak lelaki dari kakek, mungkin saja ia tidak menjadi juru jagal. Tetapi, keempat saudaranya (termasuk ibu) justru perempuan, yang bagi kakek sangat naif untuk jadi juru sembelih. Maka, paman satu-satunya harapan kakek untuk meneruskan profesi yang digelutinya sejak umur enam belas tahun. Sepertinya, memang dari atas sudah ada bibit-bibit tukang jagal; ibarat keahlian yang telah turun-temurun. Bisa saja, ayah dari kakek dan seterusnya juga tukang jagal andal. Sehingga, darah yang mengalir di tubuh paman adalah darah juru jagal.
Rasanya, pekerjaan itu akan terhenti di tangan paman. Sebab, kedua anak paman juga perempuan. Artinya, pekerjaan menjadi tukang jagal tidak akan lagi berlanjut. Atau, bisa berlanjut, dengan syarat paman punya anak lelaki terlebih dahulu sebelum ia meninggal. Sementara, usia paman sudah menginjak kepala lima. Rambutnya lebih dari separo beruban, matanya memakai kacamata yang tidak tebal. Namun, tangannya masih kuat untuk mengayunkan pedang bergambar bintang itu. Pedang warisan kakek, yang pada masanya bukan hanya untuk menyembelih hewan.
Pernah suatu ketika guru agama di sekolah mengatakan bahwa kakek tidak hanya juru jagal. Ia juga telah banyak menumpas orang-orang yang telah melakukan dosa sebesar perzinaan. Dahulu, waktu kakek masih muda, orang-orang yang terbukti melakukan perzinaan akan dipancung lehernya sampai putus. Dan, yang menjadi eksekutor tidak lain adalah kakek. Itulah mengapa pedang yang bergambar bintang itu selalu dibungkus dengan tudung yang lumayan tebal. Paman menggunakannya hanya untuk menyembelih kambing dan sapi. Sementara, untuk ayam paman menggunakan pisau dapur.
Pernah di Sabtu petang, rumah paman kembali ramai. Tentu karena bibi sedang marah-marah. Mungkin saja uang yang diberikan paman tidak cukup. Namun, tidak seharusnya bibi marah-marah sambil menghancurkan pot-pot bunga di halaman rumahnya. Tetangga berdatangan melihat apa yang sedang terjadi. Pasti waktu itu paman malu. Harusnya bibi lebih sedikit paham untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Tidak cukup sampai di situ, Sabtu berikutnya hal hampir sama terjadi lagi. Bedanya, kali ini tetangga tidak lagi menghiraukan karena sudah hafal dengan persoalan rumah tangga keduanya.