“Entahlah, tetapi, aku rasa ini bukanlah pilihan, melainkan keterpaksaan dalam takdirku. Yang jelas, ini bukanlah kebahagiaan, melainkan sikap bertahan sebuah kesabaran terus-menerus memaksa,” ucapnya. Raut wajah Marto seperti menyimpan sesuatu akan disampaikan. Sepertinya dia menyimpan sesuatu.
Di samping meja kami, Mardi menghampiri kursi kami dan duduk nyaman bersama. Kami duduk bertiga. Seperti halnya kami, dia mengambil sebatang rokok dan menyulutnya menggunakan korek api milikku.
“Setelah menguping pembicaraan kalian, aku tertarik untuk berbicara.” Dia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengeluarkan asap dari mulut dan hidungnya.
Dia meraih cangkir berisi kopi untuk memindahkan ke meja kami. Sementara itu, Marto memalingkan wajahnya, seolah-olah dia mau pergi setelah ada Mardi di hadapannya.
“Buat apa membicarakan pernikahan kepada orang yang mandul?” ucap Mardi, setengah mengejek, “itu sama saja membicarakan hal yang sia-sia,” sambungnya sambil terkekeh. Seketika suara kebrakan meja terdengar membahana.
“Cukup!!” sahut Marto sambil mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya memerah. Aku mencoba menenangkannya. Sementara Mardi hanya nyengir. Setelah mengebrak meja, Marto segera meninggalkan kami. “He… jangan pulang dulu, kopimu siapa yang bayar?” Teriak Mardi, tertawa.
“Sudah cukup.” Aku menghentikan tawa Mardi. Mardi adalah suami dari mantan istri Marto. Aku bergegas meninggalkan Mardi, lalu berjalan ke arah penjaga warung, melewati beberapa kursi dan meja.
***
Di suatu pagi Rabu, aku melihat dari jendela, Marto tampak mengamati Suli sedang berjalan menuju pasar. Dia mengamati dari jauh sampai Suli melewati rumahnya berjalan kaki. Banyak lelaki ingin jadi suaminya. Pantas jika Marto juga ingin memiliki Suli. Hal itu bukan hanya sekali.
Aku sudah berkali-kali mendapati Marto melakukan hal serupa. Bahkan suatu hari, dia memberanikan diri memberhentikan langkah Suli sekadar bertanya dengan pernyataan basa-basi—mau ke mana? Dari mana? Bahkan kok sendirian pacarannya mana?
Dalam benakku, “Tidak salah lagi, pasti Marto diam-diam mencintai Suli, tetapi anehnya kenapa dia tidak mau mengungkapkannya? Orang ini benar-benar pengecut.”
Tetapi aku tahu alasannya, dia tidak mau jujur dengan perasaannya—siapa perempuan mau dengannya? Jelas-jelas dia mandul dan pekerjaannya hanya penggali kubur. Mana ada perempuan mau menjadi istrinya? Tetapi bukankah cinta tak butuh alasan untuk mencintai? Orang seperti Marto adalah wajar jika dia mencintai Suli. Suli pun memiliki pilihan tepat tidak memilih Marto sebagai suaminya dengan berbagai alasan. Setiap kutanya tentang perasaannya, dia tak mau mengaku.
Sebulan kemudian, Kampung Waju digegerkan dengan kematian Suli yang tiba-tiba. Sebagian orang mengira, kematian Suli disebab oleh teluk. Sebagian lagi mengatakan bahwa kematian Suli disebab oleh serangan jantung, dan masih banyak versi lain.
Sementara itu, setelah meninggalnya Suli, pintu rumah Marto selalu tertutup. Dia menutup diri dari lingkungan. Hanya ketika dia membutuhkan hal penting, dia akan keluar dari rumahnya.
Setelah beberapa hari kemudian, jenazah Suli ditemukan di rumah Marto setelah polisi melakukan pencarian. Jenazah Suli sengaja diawetkan oleh Marto. Menurut keterangan polisi, belum ada motif pasti atas penimbunan mayat tersebut. Namun, menurutku, tidak ada alasan lain kecuali didasari cinta. ***