ALANGKAH senang tokoh kita kepada jendela, dan banyak yang menduga bahwa hal itu disebabkan sebuah buku cerita! Peter Pen, kalau tak salah judulnya. Amatlah suka tokoh kita duduk di dekat jendela sekolah; mungkin sebagai latihan bila benar-benar memiliki jendela di rumah; sampai-sampai pada suatu ketika, di suatu hari yang mendung kelabu berwarna, tokoh kita berani menghajar seorang perempuan yang jadi primadona sekolah karena memaksa untuk duduk di dekat jendela—yang tiada lain tempat kesukaan tokoh kita. Akibatnya, seluruh sekolah membenci tokoh kita. Akan tetapi, tokoh kita sama sekali tidak peduli—asalkan bisa duduk di dekat jendela. Sepanjang pelajaran, pun ketika istirahat berlangsung, tokoh kita selalu memandang keluar: memandang arah segala dosa, harapan dan juga doa-doa, sedang yang tiada lain adalah angkasa.
Pernah tokoh kita mendatangi seorang tukang kayu dan meminta dibuatkan pigura— yang akan dijadikannya sebuah jendela!
Setelah mengetahui harga yang amatlah mahal dan keuangannya yang tak cukup, maka diputuskannya untuk menabung selama satu tahun.
Ah! Orang-orang menganggapnya aneh, tetapi asalkan dimilikinya jendela bagi tokoh kita tidaklah menjadi apa. Akan tetapi, hasil uang yang dikumpulkan amat lamanya itu seketika hanya menjadi kayu biasa. Anak-anak yang menjadi teman dari perempuan yang pernah dihajarnya kini memukulinya dan menghancurkan piguranya.
Mereka dengan lantang berkata bahwa pigura takkan pernah bisa menjadi jendela! Maka, tokoh kita yang kesakitan pun berjalan pulang dan menyadari bahwa ucapan orang-orang yang memukulinya itu memang benar; dan ia kesakitan bukan karena luka, tapi kesakitan karena pernyataan mereka terlampau benar adanya. Segera, setelah sampai di rumah, tokoh kita pun tertidur—setelah membaca buku cerita yang sama: Peter Pan!
Di hari yang lain, tokoh kita memutuskan untuk meminjam kapur dari kelasnya.
Ah! Itu tentulah dapat disebut mencuri, tetapi tokoh kita beranggapan ini hanya sebatang dan tidaklah mengapa—asalkan bisa memiliki sebuah jendela!
Maka, sesampainya di rumah, segera dibuatnya persegi dan diisinya dengan gambaran langit malam yang penuh bintang. Sesaat setelah gambaran itu selesai, hujan datang melalui atap yang bocor dan akhirnya menghapuskan segala gambaran itu! Amatlah sedih tokoh kita, tetapi dirinya tak menangis. Sudah lama rasanya tokoh kita tak menangis, bahkan dirinya sendiri pun beranggapan bahwa dirinya sudah tak bisa menangis.
Mungkin, Peter Pan memang takkan mau datang bagi mereka yang tidak memiliki jendela, dan ditambah bila mereka sudah tak lagi menjadi kanak-kanak. Akan tetapi, tokoh kita pun mendapati ide yang baru. Diingatnya ucapan seorang guru bahasa yang merangkap guru sastra.
Adapun guru tersebut berkata: Buku adalah jendela dunia, Anak-anak! Maka, berlarilah tokoh kita ke perpustakaan sekolah; dipanjatnya gerbang dan lekas dijebolnya pintu perpustakaan: diambilnya buku sebanyak-banyaknya dan lantas dibawa pulang. Sesampainya di rumah, dibukalah seluruh buku. Seluruh buku!
Ada seorang malaikat yang membakar rumah tokoh kita! Semua hangus. Semua orang tak peduli. Semua orang tak peduli pada tokoh kita yang mana terlahir tanpa asal-usul. Orang tuanya tak pernah jelas. Gubuk yang ada di dekat bantaran kali pun hanyalah peninggalan seorang lelaki tua yang merawat tokoh kita dan bekerja sebagai penggali kubur—sebelum menggali kuburannya sendiri. Pekerjaan itu pun diwariskan pada tokoh kita yang kini sudah menjadi abu, dan angin yang baik hati membawanya menuju tanah yang dijanjikan: tempat di mana Peter Pan berada!
— Mengapa Anda membakar gubuk itu? tanya seorang perempuan berkaca mata.
— Tak ada alasan yang jelas, jawabku.
Perempuan berkaca mata itu pergi, dan aku pun kembali pergi. Dalam perjalanan, aku bersyukur masih ada yang memperhatikan tokoh kita.
Ah! Ya, perempuan itu adalah seorang dewi yang dikutuk tersebab melahirkan anak dengan manusia. Amatlah mungkin, anaknya adalah tokoh kita, tetapi ada baiknya tidak usah memaksakan sebuah lakon-cerita.
Dan saya? Saya hanyalah seorang iblis yang sedih melihat penderitaan, lalu saya pun menyamar menjadi seorang malaikat. Apakah ini dosa? Mungkin iya, tetapi saya berhasil menyelamatkannya; dan Anda? Anda hanya duduk santai. Akan tetapi, pada akhirnya, Anda berhak untuk mengatakan, bahwa semua ini bohongan. Toh, saya ini iblis yang memang sering berdusta. ***