Oh tiba-tiba, ada angin sangat kencang berembus, Narya nyaris kewalahan mengendalikan, layangannya meluncur cepat ke kiri, lalu menukik, sampai tak terlihat lagi, terhalang rimbunan bambu—membuatnya menjadi panik. Segeralah benang diulurkan… lalu, stop! Ditariknya lagi benang, lalu tampaklah layangannya yang kembali naik ke atas. Narya pun lega. Hingga terlena sendiri.
Tak berapa lama, saat menoleh ke arah pinggir lapang yang tak jauh, tampak Mang Jujun sedang tersenyum-senyum padanya.
Narya pun membalas menyunggingkan senyum. “Iya Mang, aku sedang senang,” katanya dalam hati. Narya pun kembali terlena dengan layangannya. Mata terus menatap ke arah langit, tangan selalu sibuk mengendalikan layangan—entah sampai berapa lama. Hingga tahu-tahu, Mang Jujun sudah berada di sampingnya, berkata, “Sudah mulai panas, berteduh dulu?”
Lugas Narya menyahut, “Nanti saja. Tanggung sedang senang.”
“Ayo ah. Mang ada perlu dulu ya.”
“O iya Mang.” sahut Narya tanpa menoleh.
Matahari pun mulai meninggi, sudah mulai terik. Tetapi Narya tetap saja riang. Ya, menjelang siang begini memang bisa leluasa—tidak ada gangguan. Suasana benar-benar dapat dinikmati. Mata termanjakan menatap layangan yang meliuk, menari. Narya benar-benar riang, pun selalu abai pada keringat yang telah berkali-kali mengalir di pelipis— yang pada akhirnya selalu menjadi kering sendiri karena terpapar sinar matahari atau karena disusut lengan baju pendeknya.
Meskipun begitu, karena telah sekian lama hanya seorang seorang diri di tengah lapang, Narya pun sesekali celingak-celinguk, ke sekitar lapang, atau ke angkasa yang memang hanya ada satu layangan yang terbang miliknya. Hingga pada akhirnya, kepalanya dirasakannya pusing—memang karena tidak mengenakan topi, terpapar sinar matahari. Lalu, saat terbengong memandang ke angkasa, tiba-tiba… tali benang layangannya putus sendiri, membuatnya mendadak menjadi kalang kabut.
Di sebelah kiri lapangan yang berupa jalan kampung, terlihat satu motor sedang melaju cukup kencang menuju ke arah timur. Narya khawatir, bagaimana kalau tali benang yang putus itu melintang ke jalan?
Rupanya kekhawatiran Narya menjadi kenyataan. Lintangan benang mengenai muka pengendara, membuat pengendaranya kaget setengah mati, motor pun oleng, jatuh menindih.
Badan Narya mendadak gemetar, hatinya berdebar-debar kencang. Meskipun begitu, tidak kabur karena tidak mau mendapat amarah yang lebih angkara. Dengan takut-takut, motor itu didekatinya. Narya sungguh kaget saat melihat di leher pengendaranya ada darah karena goresan cukup dalam oleh lintangan tali benang layangan.
Narya pun berkata parau, “Ya Tuhan, Mang Jujun. Maafkan aku.” ***