“Boleh jadi,” jawab Bolot singkat.
“Jadi, Anda menganggap bahwa otak orang Indonesia sama saja dengan sebuah kotak yang nggak ada isinya, begitu?”
“Mungkin.”
“Di situ tergambar adanya kotak-kotak dari yang ukuran besar hingga kecil, apakah maksudnya corak pikiran manusia Indonesia terkungkung dalam kotak-kotak, begitu?”
“Kurang lebih.”
“Berarti para penulis dan intelektual Indonesia itu senang hidup dalam gerombolan, sebagaimana sekumpulan kotak-kotak besar dan kecil, begitu?”
“Mungkin saja.”
“Jadi, kotak besar mengurung kotak menengah, yang menengah juga mengurung kotak kecil, dan yang kecil terus mengurung yang lebih kecil lagi, begitu?”
“Kira-kira seperti itu.”
“Brilian sekali pikiran Anda kalau begitu.”
“Tapi sebagian orang mengira saya budek alias tuli.”
Itulah awal mula kesuksesan Bolot, yang berangkat dari serangkaian ide yang kemudian mengubah jalan hidupnya, dan sekaligus jalan hidup kita semua.
Apa yang lebih sederhana dari itu? Novel yang berisi kotak-kotak, dan tak ada tulisan sama sekali. Cuma memerlukan sedikit waktu untuk memunculkan gagasan ringan macam ini. Tetapi, gagasan seringan apapun akan sulit dilepas manakala sudah melekat dan tertancap dalam obsesi dan ambisinya. Lalu, segera setelah menyebar luas, novel kontroversial itu dicari-cari orang dari berbagai penjuru, hingga pada gilirannya menjadi salah satu buku best seller.
Hanya dalam tempo beberapa bulan saja, siapa yang menyangka gagasan sederhana itu dapat mengantarkan sosok Bolot menjadi jutawan yang kaya-raya.
Setelah sukses di bisnis buku, Bolot mulai merambah usaha di bidang properti, juga tidak memerlukan strategi yang rumit dan njelimet. Dia cuma berpikir untuk membeli tanah yang harga permeternya sangat mahal, tetapi dua tahun kemudian tanah itu melonjak naik menjadi super mahal. Itu saja. Dengan cara seperti itu harta kekayaan Bolot terus bertambah dan meningkat terus. Dia pun kemudian merambah untuk mengembangkan investasi di berbagai bisnis, kecuali bisnis teknologi.
Entah kenapa, bisnis yang satu ini membuat kepalanya agak pening jika dijelaskan. Karena itu, akhirnya Bolot memilih untuk menghindarinya, tanpa perlu menjelaskan.
Seperti yang terjadi pada kebanyakan orang sukses di era milenial ini. Uang telah mengubah segala-galanya dalam kepribadian Bolot. Ia lebih gemuk, ceria dan penuh percaya diri. Mendiang bapaknya pernah berwasiat, kalau ia menjadi orang sukses dan kaya, jangan bersikap angkuh dan sombong, dan perhatikan para fakir-miskin di sekitarnya. Akhirnya, sedapat mungkin ia menghindari sikap angkuh dan sombong, serta menyisihkan sebagian kekayaannya bagi mereka yang membutuhkan.
Suatu ketika, saat wawancara yang ditampilkan siaran langsung televisi nasional, Bolot pun ditanya apakah sebelumnya pernah membayangkan akan banyak orang bercita-cita ingin seperti dirinya. Ia bingung menjawabnya, karena apa yang perlu dicita-citakan? Ia hanya tersenyum dan cengar-cengir di layar televisi, dan hanya menjawab, “Cita-cita untuk apa? Bukankah mereka sudah menjadi seperti saya?”
Seketika, studio pun dipenuhi gemuruh tawa dan tepuk-tangan riuh. Meskipun, Bolot tidak mengerti apa yang mereka tertawakan. Pertanyaan terus berlanjut, dan Bolot menjawabnya biasa-biasa saja. Dan justru karena biasa-biasa itulah yang membuat orang makin gemes, ramai memuji dan menyanjung kesuksesannya.
Seminggu kemudian, banyak media massa luring, daring dan elektronik, menyerbu kediamannya. Para wartawan itu dibekali perangkat teknologi yang super canggih oleh para produser mereka, hanya untuk mengajukan pertanyaan kepada tokoh yang biasa saja, berikut jawaban yang disampaikan secara biasa-biasa saja.
“Saya kira tak ada yang istimewa, saya hanya melakukan apa yang kalian lakukan, begitu juga sebaliknya,” itulah kesimpulan dari serangkaian pertanyaan bertubi-tubi yang diarahkan kepada Bolot.
Oke sekarang, bayangkan si Bolot sedang duduk santai di kursi panjang sambil rebahan di sisi kolam renang. Sementara kekasihnya yang model, Syahrina Dayanti sedang menikmati jus melon dengan sebungkus pilus kacang di sampinya. Bolot sedang asyik memandangi sang kekasih yang sedang tiduran setengah telanjang di atas kasur udara di tengah kolam renang serambi rumahnya.
Bayangkan, jika Anda berada di posisi Bolot, bersiul menyanyikan lagu romantis sambil menikmati segelas jus melon dan pilus yang berisi kacang. Mudah sekali kan, Anda membayangkan itu?
Nah, selanjutnya coba bayangkan seandainya Bolot berada di posisi Anda, persis di tempat Anda berada saat ini. Membaca cerpen ini, memikirkan dia yang sedang santai duduk di sekitar kolam renang. Sambil memandangi sang kekasih, Syahrina Dayanti menikmati jus melon. Kemudian… hups! Kembali lagi ke posisi semula.
Tidak sulit kan membayangkan hal seperti ini? ***