Ada Cinta di Kue Dange

Kami keluar bersama, sempat kulihat Riri mengedipkan mata dan mengacungkan jempolnya ketika melihat Mas Andik. Ternyata sebulan terakhir ini Mas Andik sudah berada di Semarang untuk mengikuti kegiatan pelatihan para dokter militer se-Indonesia yang masih berlangsung hingga bulan depan. Kebetulan hari ini tidak ada kegiatan jawabnya ketika aku bertanya tentang kegiatannya, kami bertukar cerita setelah 20 tahun tidak bertemu dan tiga tahun lalu termyata Mas Andik pernah ke rumah saat akan mendaftar Perwira Karir tetapi hanya bertemu Bapak dan Ibu karena aku sedang kuliah di Yogya. Sejak hari itu Mas Andik dan aku sering menghabiskan waktu bersama jika Mas Andik tidak ada kegiatan dan aku tidak disibukkan dengan pekerjaan. Sekedar ngobrol tentang teman-teman masa kecil, pekerjaannya di Kalimantan, nongkrong untuk makan atau sekadar menyusuri jalan kota Semarang.

Mas Pras tidak berani berkomentar banyak sejak kemarahanku atas kejadian sore itu, kecuali Raska yang kadang-kadang usil dengan komentar ada cinta yang bersemi karena kue Dange. Aku tidak peduli dan pura-pura tidak mendengar, kalau dijawab akan dikomentari balik. Aku menyukai berteman dengan Mas Andik, nyaman dan tidak suka ngatur-ngatur, terkadang rasanya lebih nyaman daripada saat masih dengan Mas Didit yang sedikit-sedikit lapor dengan Mas Pras.

Seminggu lagi tugas Mas Andik di Semarang akan berakhir begitu pemberitahuannya kepadaku tadi saat kami makan siang bersama dan besok malam Mas Andik mau main ke rumah karena ada yang ingin dibicarakannya. Ketika aku bertanya lebih jauh, Mas Andik tidak mau menjawab alasannya nanti saja didiskusikan. Sikap tegasnya terkadang terlihat sangat jelas jika memutuskan sesuatu, logika dan penuh perhitungan tetapi juga bisa penuh perhatian dan melindungi.

Sesuai janjinya Mas Andik datang ke rumah tepat waktu, terlihat rapi dan gagah seperti biasa tapi aku sempat melihat rasa tidak percaya diri sesaat. Kami ngobrol seperti biasa, tetapi tiba-tiba Mas Andik bertanya tentang hubunganku Mas Didit yang ternyata mereka kenal ketika sama-sama ada kegiatan mahasiswa kedokteran. Aku menceritakan semuanya dari awal dikenalkan dengan oleh Mas Pras dan penyebab berakhirnya hubungan kami termasuk bahwa aku juga bingung tentang tidak adanya perasaan apapun ketika hubungan kami berakhir.

Selama penjelasanku Mas Andik mendengarkan dengan seksama tanpa memotong sepatah katapun, setelah aku selesai bercerita tiba-tiba Mas Andik berkata bahwa ia ingin kami menikah sambil memegang tanganku. Aku terdiam tidak bisa menjawab perasaanku campur aduk, bingung, kaget dan bahagia dengan lamaran yang tiba-tiba dari Mas Andik.

“Kalau diam berarti jawabannya iya,” Mas Andik berbicara sambil menatapku dengan tersenyum.

“Tapi Mas Andik ini benar kita mau nikah, pacarnya Mas Andik bagaimana?” tanyaku tergagap.

“Siapa yang punya pacar, yang ada calon istri namanya Sekar Arum,” jawabnya sambil mengusap punggung tanganku.

Semua terjadi sangat cepat, seminggu kemudian keluarga besar Mas Andik datang dari Jakarta untuk proses lamaran dan persiapan pernikahan dalam waktu tiga minggu dilakukan dengan melibatkan kedua keluarga. Aku tidak bertemu Mas Andik selama dua minggu karena kesibukkannya mengurus pernikahan kami secara militer yang akan dilakukan seminggu sebelum pernikahan resmi secara agama. Hal yang paling lucu dan norak menurut Mas Pras adalah disediakannya kue Dange sebagai salah satu camilan dalam pernikahan kami dan kami bersikeras untuk hal tersebut bahkan kue Dange dipesan khusus dari kota Ngabang.

Pertemuanku dengan Mas Andik 3 bulan yang lalu adalah sebuah takdir, ada campur tangan dari yang kuasa untuk menggiring kisah persahabatan masa kecil yang berubah rasa ketika kami beranjak dewasa. Apakah ini yang dinamakan cinta pertama adalah abadi, pertemuan-pertemuan yang cukup singkat ketika cinta kami menjadi lebih dewasa dan memutuskan untuk segera menikah. Besok aku akan mengikuti Mas Andik kembali ke Pontianak sekalian bulan madu dan nostalgia goda Mas Pras dan Raska tanpa henti kepadaku.

Ini hari keduaku di kota Pontianak yang telah berubah menjadi kota cukup besar setelah 20 tahun kutinggalkan, menyusuri keindahan kota Pontianak dari tepi sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia menggunakan kapal motor yang diubah mirip kafe dengan tempat duduk dilengkapi dengan jualan minuman dan makanan kecil. Mas Andik merangkulku yang bersandar dengan nyaman dibahunya sambil melihat kapal motor berlampu yang melintas di dekat kami, banyak hal yang masih akan kami lihat dan datangi termasuk ke kota Ngabang yang sudah berubah nama menjadi Kabupaten Landak.

“Love is like a good cake; you never know when it’s coming, but you’d better eat it when it does!” Cinta itu seperti kue yang enak; kamu tidak akan pernah tahu kapan akan datang, tapi sebaiknya kamu memakannya ketika itu datang — C. Joy Bell C ***

Arsip Cerpen di Indonesia