TEMAN-temanku sering menertawakanku, mereka bilang pakaianku terlalu kumal. Tampak seperti tidak pernah dicuci selama berbulan-bulan. Padahal ibuku sudah mencucinya berkali-kali. Tapi memang wajar saja sebab aku hanya memiliki satu seragam sekolah, mau tidak mau harus selalu memakainya selama satu minggu itu. Ibu bilang, daripada aku beli baju lebih baik dibelikan buku. Karena bajuku masih layak dan bagus untuk dipakai.
Aku memang anak penurut, apapun yang dikatakan ibu tidak pernah kubantah. Semua perintah ibu selalu kupatuhi. Kalau memang aku harus beli buku, wajib kuturuti. Kupikir ada benarnya juga apa yang dikatakan ibu, sebab untuk saat ini buku untuk belajar lebih utama dibanding seragam sekolah, selagi masih bisa dipakai ya aku pakai saja, meski teman-teman tak henti meledekku. Teman-teman juga bilang sepeda yang kunaiki juga terlalu butut. Pedal sepedan lepas satu. Dengan pedal yang berbunyi saat aku kayuh. Jadi terlihat sangat jelek kalau kubawa.
“Hahaha…. Kasihan sekali kamu. Seperti kami dong, sepeda bagus dan mahal,” Damar dan temannya memamerkan sepedanya….
“Kalau aku punya sepeda sepertimu, pasti sudah kubuang ke sungai atau kubotot ‘kan,” ujar Ariel.
“Tidak apa-apa, yang penting aku masih punya kendaraan untuk ke sekolah, lagian sepeda ini pemberian dari ibuku, ia juga yang selalu menyemangatiku sekolah. Buktinya aku selalu juara kelas saja.”
“Dasar anak mama. Karena kamu miskin makanya ibumu memberi sepeda butut itu. Sebab ia tak mampu kalau membeli sepeda yang bagus seperti kami punya.”
“Iya aku memang orang miskin, tapi aku tidak pernah malu dengan semua keadaanku. Aku dibesarkan ibu dengan kasih sayang bukan harta.”
“Sudahlah, kalau sudah miskin jangan banyak bicara. Ayo Riel kita bermain sepeda lagi. Kita tinggalkan saja dia.” Ujar mereka sembari berlalu meninggalkanku.
Aku pulang dengan perasaan sedih. Damar dan Ariel meninggalkanku seorang diri di sekolah. Sebenarnya aku tak ingin bersedih. Sebab sudah sering diejek dengan teman-temanku di sekolah dan di rumah. Aku harus terus belajar, karena besok ada ujian naik-naikan kelas.
Hari ujian pun tiba. Aku sampai di sekolah paling awal daripada teman yang lain. Menyempatkan membaca buku sejenak untuk mengingat ulang mengenai materi ujian hari ini. Bel tanda masuk ujian pun berbunyi dan ibu guru sudah datang, beliau memerintahkan kami semua untuk mengumpulkan semua tas ke depan kelas. Namun, teman-temanku seperti biasanya, aku melihat mereka menyimpan buku di dalam laci untuk mencontek sewaktu ujian. Aku tidak ingin seperti itu, apalagi sampai ketahuan oleh Ibu.
“Bu guru, saya sudah siap,” ujar Evi sembari mengumpul lembar ujiannya.
“Evi, nomor dua, tiga dan empat apa jawabannya?” Damar mengancamku kala itu.
“Aku tidak tahu, kita sedang ujian jadi tak boleh saling membantu,” tegasku padanya.
“Awas kau ya!”
“Damar!” Ibu guru menegur Burhan yang nakal itu.
Setelah bel berbunyi aku bergegas ingin pulang. Ketika sampai di parkiran aku kaget melihat sepedaku yang bocor. Sepertinya tadi baik-baik saja. Pedalnya juga tidak ada. Aku begitu sedih. Sepanjang jalan aku menangisi kisah hari ini.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Ini saatnya pengumuman kenaikan kelas tiga. Aku tersadar ketika melihat kalender, ternyata hari ini ialah ulang tahunku. Tak banyak berharap apa-apa selain naik kelas dan diberi kesehatan untukku dan ibu. Seperti biasanya aku ditemani ibu mengambil rapor. Aku ingin membahagiakan ibu dengan prestasi di sekolah.
Tibalah waktu pengumuman, para siswa berdatangan ke sekolah dengan orang tua mereka. Ada yang menaiki mobil dan sepeda motor, sedangkan aku dan ibu menaiki sepeda yang biasa ibu bawa untuk berjualan keliling kampung. Tak ada perasaan malu, malah hati ini terasa bahagia sebab ibu selalu setia mendampingi dan menyemangatiku.
“Juara Pertama adalah Evi Rahmada,” Ibu guru mengumumkan. Aku bersorak kegirangan.
“Bu, Evi juara pertama,” ujarku pada ibu.
“Iya sayang selamat ya, ibu bangga padamu.”
“Selamat ya Evi, maafkan aku sudah sangat jahil padamu. Aku baru sadar, prestasilah yang harusnya dibanggakan bukan harta milik orang tua kita,” Damar dan Ariel menyalamiku dan diiringi ucapan selamat teman-teman sekelas. Seketika senyumku mengembang bersama pelukan ibu.
Ketika hendak pulang, kepala sekolah menahan aku dan ibu. Ia mengajak kami masuk ke kantornya, katanya ada yang ingin disampaikan. Ternyata kepala sekolah ingin menyampaikan bahwa aku mendapatkan beasiswa untuk pertukaran pelajar di luar negeri. Beliau menyampaikan bahwa ada perusahaan swasta yang memberikan beasiswa tersebut dan sekolah mendaftarkanku untuk mendapatkannya. Aku dan ibu menangis sambil berucap syukur tak hentinya. Betapa kesabaran kami selama ini berbuah manis. ***