SI KECIL YANG DITINGGAL MATI ORANG TUANYA KARENA KORONA

SI KECIL YANG DITINGGAL MATI ORANG TUANYA KARENA KORONA

.

#1

Pada langit si kecil tengadah sambil berharap

ayah-ibunya mengirim senyum

mata berkaca-kaca lelah tak memberi cerah

matahari kian redup harapan bertemu ayah bunda

kian surut

hanya batu nisan berjajar dipayungi kemboja

merengkuh surup

#2

Si kecil janganlah berpangku tangan

janganlah lunglai di atas batu karang

janganlah diam oleh hantaman gelombang

terbanglah bagai camar ke angkasa

sesekali menjumput ikan berenang di wajah lautan

bawa hidupmu menyeberang lautan

lalu singgahlah di dermaga kebehagaian

damai dan tenteram

#3

Mimpi si kecil perlahan menjelma guratan

kian jelas meskipun belum tuntas

lewat jemari ia berkarya demi ayah-ibu bahagia

di alam peristirahatan sementara

tunggu anakmu di surga ayah bunda

harapnya

 #4

Cibir dan iba mana yang kupilih, kata si kecil bimbang

ia tak mau dikerdilkan oleh cibiran keputusasaan

iba tak pula membangkitkan rasa

ia semakin terbenam air mata

tekadlah yang menyingkirkan keduanya

si kecil pun muncul di tengah cakrawala

sambil menggengamkan cita yang tergapai

 #5

Sulur jingga mengundang rindu pada ayah-bunda

si kecil manja dipangku senja dibelai kasih sayang

ia rindu betapa hangat dekap ayah-bunda

sebelum korona merenggut keduanya

si kecil rindu belaian kasih manja

dari balik singgasana pengusaha

 #6

Si kecil telah tumbuh remaja

berbadan tegap bertampang bak raja

ia telah mewujudkan mimpi kedua orang tuanya

yang telah tiada

harta dan tahta hanyalah titipan Sang Mahakuasa

ia mendermakan hartanya buat mereka yang nestapa

ia ingin melihat senyum tersemai dalam baju

kebesaran istana

.

Ahmad Zaini. Guru di SMKN 1 Lamongan. Anggota Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (Kostela) serta anggota Forum Penulis dan Pegiat Literasi Lamongan (FP2L). Saat ini dia tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.

Arsip Cerpen di Indonesia