Mbelimbing Bumi

TANAMAN kopi jenis excelsa yang berjajar sebagai pagar itu menyambutku dengan pipi merah ranum. Hatinya selalu bahagia dengan perannya sebagai pengucap selamat datang. Ia, cherry merah berbongkah-bongkah yang selalu dibiarkan merekah dan jatuh sendiri ke tanah. Ia tak pernah ikut panen raya.

Biji excelsa itu berwarna kuning. Mungkin itu sebabnya ia ditanam sebagai pagar. Kuning itu sebagai lambang kemakmuran. Selama ini kudengar Pak Chandra ngotot menolak tawaran alih fungsi kebun kopi menjadi homestay atau vila. Kabarnya ia mengkhawatirkan nasib buruh kebun kopi yang jumlahnya ratusan dan menggantungkan hidup pada kebun-kebun kopi miliknya.

Memasuki tempat parkir sanggar kopi Pak Chandra yang lebih luas dari rumahku, sudah terdengar angklung Banyuwangen, lamat-lamat. Dari gerbang samping aku masuk ke pekarangan sanggar. Di dalamnya sudah banyak orang yang hadir. Hari itu Pak Chandra mengundang para petani kopi untuk gesah kopi, acara rutinan yang diadakannya sebulan sekali. Sudah lama aku ingin menghadiri acara ini. Kali ini aku sedikit memaksa seorang teman untuk mengajakku hadir.

“Anda petani kopi atau wartawan?” Suara menyelidik itu menghampiriku, ketika baru saja aku meletakkan pantat di bangku depan bangunan semacam kedai itu. Pertanyaan ini tak kuduga sebelumnya.

“Saya bukan petani kopi dan juga bukan wartawan,” sahutku ditenang-tenangkan. Aku sadar sebagai orang tak diundang, kedatanganku bisa saja tidak diharapkan.

“Maaf Pak, saya teman Darmaji,” lanjutku. Darmaji yang kutunjuk adalah satu-satunya wartawan yang dipercaya Pak Chandra dan diperbolehkan datang di semua acara kopinya.

Tangannya segera melambai pada Darmaji yang tengah melahap serabi.

“Ini yang mesti bertanggung jawab,” serunya sambil mengepalkan tangan seperti hendak menonjok Darmaji. Matanya meminta penjelasan. Untung accident itu tidak berlanjut setelah Darmaji menyebut bosnya yang membolehkan aku ikut. Bos tempat Darmaji bekerja adalah sahabat Pak Chandra.

Pak Chandra berjalan ke bar miliknya dan kulihat menuang kopi dari mesin penyeduh kopi yang harganya bikin ngiler. Ia berjalan ke arahku, duduk di sampingku dan menyodorkan cangkir berisi kopi itu.

“Saya merasa Anda orang baik. Cicipi seduhan saya.”

Sebelum dia bertanya, baiknya aku segera mengutarakan maksudku berada di sini.

“Makasih, Pak. Sebenarnya saya ke sini hanya ingin mendengarkan Bapak bercerita tentang kopi.”

Mata Pak Chandra tajam menatap. Ia tampak sangat serius. Pantas banyak orang sangat berhati-hati berhadapan dengan orang ini. Yang sering kudengar, bila hatinya sedang lega ia akan memperhatikan lawan bicaranya sungguh[1]sungguh. Ia sanggup mengobrol seharian, apalagi tentang kopi. Bahkan, ia akan menjadi sangat dermawan. Sekadar sejuta dua juta, mudah saja dirogoh dari dompetnya dan diberikan sebagai sangu pulang bagi orang yang dikehendakinya, saat pulang dari rumahnya.

“Untuk apa ingin tahu soal kopi?” tanyanya serius.

“Saya anak muda yang ingin menjadi pengusaha kopi yang bisa memberi wawasan juga tentang kopi terutama kopi Banyuwangi. Saya orang Banyuwangi, jadi pikir saya apa salahnya jika saya memperkenalkan kopi Banyuwangi. Kalau perlu sampai go international.”

“Apa yang kamu tahu tentang kopi Banyuwangi?” lanjutnya masih dengan wajah serius. Orang di sekelilingnya tampak menjauh dan tidak ingin mengganggu.

“Belum tahu banyak. Justru itu, saya ingin dengar cerita-cerita kopi dari Bapak, karena banyak orang yang saya tanya tentang seluk beluk kopi Banyuwangi, mereka mengarahkan saya agar saya bertanya pada Bapak.” Aku menjawab sejujurnya. Aku lega, wajah Pak Chandra melunak.

“Saya tidak suka diwawancara. Ndak perlu ada kamera atau direkam. Lebih baik saya bercerita dan tanggapi. Jadi saya tahu apa yang diinginkan dalam pembicaraan ini. Lalu kita mulai dari mana?”

Aku mulai pertanyaan singkat tentang bagaimana kondisi dan perkembangan kopi saat ini di Banyuwangi. Pertanyaan ini memang terlalu luas menurutku tapi kusengaja karena ini membebaskan ia mulai dari mana bercerita. Aku akan menurut arah ceritanya saja.

“Kopi Banyuwangi sampai saat ini belum memiliki identitas. Ini permasalahan pokok. Coba saja, jika ditanya tentang kopi Banyuwangi, mana yang akan disodorkan, dari daerah Banyuwangi bagian mana? Lerak, Gombeng, Kalibendo, Kalipuro, Kalibaru, Glenmore, Songgon, atau yang mana?”

Aku hanya manggut[1]manggut sambil menjawab dengan mengungkit bahu.

“Nah, bingung kan? Sama. Saya memikirkan ini sudah sangat lama. Saya serius tentang kopi, apalagi kopi Banyuwangi. Orang tua saya hidup di Songgon dan saya membantu mengelola kebunnya. Satu lagi, saya orang Banyuwangi asli lho, jangan lihat casing-nya.”

“Memang masih zaman Pak, membeda-bedakan casing?”

“Memang sudah ndak zaman, tapi masih banyak yang melihat demikian.”

Beberapa kali Pak Chandra keluar masuk kedai sambil menyapa tamu yang hadir dan berbicara dengan beberapa orang. Beberapa waktu percakapan memang terhenti. Namun, setiap kembali duduk dan meneruskan percakapan ia masih ingat sampai di mana percakapan tersebut terhenti. Untuk usia 60 tahun, daya ingatnya patut diacungi jempol. Ia juga masih ingat tentang pembicaraan casing yang sempat tak berlanjut. Aku juga sengaja tidak melanjutkannya karena takut menyinggung.

“Saya memang terlahir dari etnis Tionghoa tapi orang tua saya lahir di Banyuwangi. Jadi saya orang Banyuwangi asli dong. Sayangnya banyak yang menyangsikan ketulusan saya. Saya sih tidak peduli meski kadang sering emosi. Kalau tidak kelewatan tidak akan saya perhatikan. Saya hanya ingin melakukan sesuatu yang saya angan-angankan. Nanti jika saya mati, saya ingin banyak orang mendapatkan manfaat dari yang saya lakukan.”

Nada tinggi mulai terdengar. Beberapa orang di dekatku sudah mulai menoleh dan seakan memberi isyarat agar percakapan dihentikan. Mereka sepertinya paham sekali dengan situasi seperti ini. Namun aku tetap berkeyakinan selama pembicaraan ini berlangsung tidak ada kata-kataku yang keliru dan menyulut emosinya.

Orang kepercayaannya, yang kuketahui dipanggil Adam mendekat. Ia membisikkan sesuatu. Entah apa yang dikatakan namun wajah Pak Chandra kelihatan tambah merah. ”Biarpun dibayar saya tidak akan datang, meskipun dia saudara saya. Katakan padanya ia harus membayar mahal. Saya paling marah jika petani kopi yang dirugikan dan mereka mengambil untung.” Pak Chandra menoleh sebentar kepadaku dengan wajah yang masih menegang. Adam diam menunggu perintah.

“Kamu telepon dia dan minta dia yang ke sini. Aku sendiri yang akan menyelesaikan perkara ini.” Setelah mengangguk Adam segera menjauh dan terlihat menelepon.

Pak Chandra diam dan wajahnya berangsur mengendor. Aku tak mau bodoh dengan melanjutkan percakapan. Aku diam dan menunggu sambil agak fokus pada hape dan membaca WA yang masuk, tidak menyadari ada seseorang mendekat.

“Pak, acara segera dimulai. Orang dari kantor pajak sudah datang. Undangan sejumlah 25 petani sudah hadir. Penari sudah siap.” Sepertinya ia orang yang dipercaya Pak Chandra menghandel kegiatan[1]kegiatan di sanggarnya.

Pak Chandra masih duduk terdiam. Orang yang lalu kutahu bernama Rohman itu lebih dekat dan dan spontan berteriak.

“Pak!”

Aku dan beberapa orang yang dekat di situ kaget. Pak Chandra masih dalam posisi duduk, wajahnya lemas, dan tangan sebelah kanan terkulai.

“Tangan kananku berat, pipi, telinga juga kayak habis geringgingen, kayak jadi tebal,” ujarnya dengan suara lemah. Aku segera ingat tentang tanda-tanda stroke.

“Tenang Pak, santai, ambil napas dari hidung buang dari mulut,” kataku yang juga berusaha tenang. Lalu Aku dan Rohman memapahnya ke kursi panjang dan menyandarkan punggungnya agar lebih santai. Ia tidak mau tiduran.

“Bicara saya tidak cadel kan?” tanyanya. Rupanya ia juga menyadari dan memikirkan kemungkinan tanda stroke yang sedang dialaminya.

Ndak Pak, santai saja. Tenangkan pikiran. Jangan memikirkan apa-apa.”

Rohman mengambilkan segelas air hangat panas. Pak Chandra meminumnya. Sementara di bangunan sebelah sana, undangan diminta tetap tenang.

“Coba naikkan alis secara bersamaan Pak,” instruksiku bak dokter pribadi. Pak Chandra melakukan yang kuminta.

“Yak, bisa. Aman!” seruku.

Pak Chandra mencoba tersenyum meski lemah.

Sementara Adam memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Pak Chandra, saya mengajaknya berbicara.

“Tadi saya dengar penarinya diambil dari sanggar tari di Cungking. Di sana kan gudangnya penari gandrung. Bahkan Semi juga dari sana. Bapak pernah lihat foto Semi? Kulitnya sih cokelat tapi wajahnya itu lho Pak, khas mongolid kan?” Mungkin moyang Semi adalah tentara Mongol yang melarikan diri saat dikejar tentara Kerajaan Majapahit lalu beranak pinak di Cungking.

Ia tersenyum. Masih diam. Kuperhatikan napasnya cenderung teratur.

Melihat ia tersenyum saya mencoba lagi berkomunikasi.

“Pak, kita bisa mbelimbing bumi lagi kan Pak? Kita bisa gesah kopi lagi kan Pak? Saya boleh ke sini lagi kan Pak?”

Ia diam.

Sebentar kudengar ia tipis mendengkur. Aman. ***

Nurul Ludfia Rochmah. Lahir dan tinggal di Banyuwangi. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarya (2000) dan Universitas Muhammadiyah Surabaya (2013). Penulis buku Kumpulan Cerita Kopi: Karbit (2017); Kumpulan Sajak: Perempuan Pematah Jalanan (2020); Kumpulan Esai: Menandai Musim Pandemi (2020). Mengajar di MAN 1 Banyuwangi. Tinggal di Banyuwangi Jatim.

Arsip Cerpen di Indonesia