TENGAH malam. Di luar sangat dingin dan gelap, sejak dua hari lalu angin terus berembus kencang. Dinginnya menusuk ke tulang, membuat rerumputan ikut menggigil. Seorang lelaki tua tanpa alas kaki berjalan mengitari kompleks perumahan elit pejabat yang tampak sunyi ditelan malam pekat. Bunyi jangkrik bersahutan, laron-laron berseliweran di udara, purnama sempurna menggantung di langit.
Lelaki itu terus berjalan, bajunya lusuh penuh debu jalanan, celananya sedikit robek di bagian lutut, sesekali ia mengusap kedua lengannya menghalau terpaan angin, meski sama sekali tak berguna. Di ujung jalan, ia berdiri dan memandang sebuah rumah bercat putih, pikirnya, akan sangat menyenangkan jika ia yang tinggal di sana. Bayangan ruang tamu luas, kamar tidur dengan kasur empuk, ditambah penghangat ruangan, seketika berkelebat di kepalanya.
Ia berjalan menghampiri gerbang rumah, memasukkan tangannya kemudian membuka gembok yang kebetulan tak terkunci, mungkin hanya pajangan untuk mengelabui pencuri atau si pemilik rumah yang memang lupa menguncinya. Jika seseorang melihatnya, sudah tentu ia disangka maling. Berjalan mengendap-endap, lalu kembali menutup gerbang. Bunyi decit terdengar sebentar, sebelum ia mendorongnya pelan.
Sesaat ia tergugu menatap pekarangan dan beranda rumah, sebuah mobil dan sepeda motor terparkir rapi di garasi. Anggrek putih dan ungu merambat anggun di tembok rumah, sebuah kursi taman memanjang di bawahnya, bunyi kecipak mengarahkan pandangannya ke sebuah kolam ikan dekat garasi, di sana, segerombol kulaghi menyembulkan kepala ke udara, seakan mereka mengintai kehadiran si lelaki tua itu.
Beginilah seharusnya rumah, kalimat itu yang melintas di benaknya. Usai menelanjangi pekarangan itu, langkahnya menuntun ia ke beranda rumah yang tak kalah mengagumkan. Padahal hanya beranda, tak perlu menghiasnya semewah ini, gerutunya. Namun lagi-lagi batinnya menginterupsi, inilah kehidupan orang kaya. Pekerja di gedung-gedung tinggi tak hentinya membuat lelaki tua itu meratapi nasibnya, membandingkan dirinya yang serba kekurangan dengan orang setelan jas yang sering kali ditemuinya ketika memunguti sampah plastik di sepanjang jalan. Mengingat ia hanya berlindung di dalam gubuk reyot tatkala hujan membasahi bumi, bila angin kencang meniup gubuknya, ia akan terjaga semalaman, memegangi tiang penyangga agar tidak roboh.
Lelaki tua itu kemudian mengetuk pintu, tangannya gemetar kedinginan. Tamu tak seharusnya berkunjung tengah malam seperti ini, siapa pula yang akan mendengar ketukannya, rumah seluas ini semestinya memiliki bel. Namun, tak ia jumpai keberadaannya.
Hingga ketukan kesebelas, terdengar bunyi derap kaki dari dalam rumah, dan ketika engsel pintu berdenging bersamaan dengan gagang pintu yang ditarik dari dalam, kini di hadapannya berdiri seorang anak muda dengan ekspresi terkejut yang tercetak jelas di wajahnya.
“Maaf, cari siapa?”
Lelaki tua itu terdiam sejenak, kemudian mengerjapkan matanya.
“Ada seragam bekas?” tanyanya. Anak muda itu mengernyitkan dahi, siapa gerangan lelaki ini bertamu tengah malam meminta seragam, gumamnya.
“Maaf?” tanyanya mengulangi, barangkali anak muda itu salah dengar.
“Iya, seragam. Ada?” Kembali lelaki tua itu menjawab. Tak sengaja matanya menubruk bakul kecil berisi buah-buahan di atas meja. Cacing di perutnya tentu memberontak. Ah, betapa menyenangkan menjadi orang kaya.
“Di sini bukan penjual seragam.” timpal anak muda itu. Ia memandangi si lelaki dari ujung kaki hingga ujung kepala, mencari maksud di balik ‘seragam’ yang baru saja diminta oleh lelaki tua di hadapannya.
“Saya tidak punya uang. Saya hanya ingin seragam bekas.” Ulangnya. Semakin dibuat bingung anak muda itu. Ini sudah sangat larut malam, tak ada deru kendaraan yang terdengar, tak ada orang di sekitar perumahan. Lalu dari mana datangnya si lelaki tua ini?
“Maaf, di sini tak ada seragam bekas.” Selanjutnya bunyi pintu yang ditutup sedikit keras, menggema begitu saja di udara.
Lelaki tua itu mematung di tempat, berbagai macam pertanyaan kembali timbul di kepalanya. Beginikah cara orang kaya memperlakukan tamu? Tidakkah ia menaruh sedikit simpati padanya? Setidaknya memberi sedikit makan meski bukan itu tujuan ia mengetuk pintu. Jika begini, urung sudah niatnya ingin menjadi orang kaya.
“Orang kaya memang sombong-sombong, Pak.” Teringat ucapan sang istri beberapa hari lalu.
Benar juga. Lelaki tua itu memutuskan beranjak dari sana, melewati pekarangan yang tadi sempat membuatnya terkesima. Namun tidak lagi. Ia menarik gerbang agar terbuka, lantas kembali memasang gemboknya. Kemudian, berjalan meninggalkan rumah bercat putih itu.
Malam semakin mengekang, tubuhnya mulai lunglai, jalannya pun tertatih-tatih. Ia sangat lapar, sedari pagi tak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Ia hanya sibuk mengetuk pintu dari rumah ke rumah, mencari seragam bekas, yang tak didapatkannya mungkin hingga fajar kembali menyingsing.
Di tepi jalan, tatkala angin berkesiur lebih kencang, meluruhkan daun-daun yang menguning, bersamaan dengan lampu jalan yang terlihat remang-remang, lelaki tua itu ambruk di tempat.
“Maafkan Ayah, Nak. Sepertinya kau tak bisa sekolah….” ***