TINGGAL satu apartemen lagi! Kuselipkan surat kabar hari ini melalui pintu apartemen pelanggan bernomor 53. Kucontreng daftar pelanggan lalu beranjak keluar dari gedung apartemen. Selesai sudah order pekerjaan pertama yang kujalani selama dua jam, di luar waktu perjalanan dari apartemenku ke depo. Baru saja hendak keluar pintu gedung, kulihat dari kejauhan sekelompok orang berlari-lari. Rupanya polisi sedang mengejar mereka.
“Ijri bisur’ah!” Kudengar mereka teriak “cepat lari” dalam bahasa Arab.
“Sial!” umpatku. Seketika aku teringat dengan troli koran yang kuparkir di depan gedung. Minggu lalu aku sudah kehilangan jaket rompi perusahaan yang membuatku didenda. Bergegas aku melompati anak tangga dan berlari secepat kilat menuju parkiran troli.
Oops, Nyaris! Seorang pria Arab berbadan tambun hampir menabrak troli itu jika aku terlambat sedikit saja. Kudorong troli itu menjauh dari keributan. Aku mengatur napas. Masih insiden itu lagi. Belakangan ini, islamofobia dan fobia terhadap imigran semakin meningkat di Stockholm seiring dengan banyak ditemukan kasus diskriminasi rasial. Aparat sering melakukan razia tanpa kenal waktu dan tempat. Tiba-tiba aku teringat dengan Faroukh, imigran gelap asal Iran yang sering berjualan baju di bazar bersamaku. Kekhawatiran seketika menjalar ke seluruh tubuh.
***
Aku menyesap kopi perlahan ditemani shawarma dan baklava bonus tugas hari ini. Baba Kareem Torky memang cukup royal. Kami, para pekerja di kafe, sering mendapat makan gratis yang cukup untuk dimakan di kedai bahkan hingga dibawa pulang. Setidaknya, aku bisa berhemat makan malam.
Aku menghitung berapa uang penghasilan dari kerja sampingan di tiga tempat hari ini. Loper koran pada pagi hari, pekerja lepas pengemasan di pabrik coklat pada siang hari, dan cleaning service di kafe Baba Kareem pada malam harinya. Aku menghitung, jika kerja harian, setidaknya aku mendapat 200-an krona per dua jam. Lalu kuhitung per bulannya. Masih kurang untuk bayar patungan sewa apartemen, biaya sehari-hari, dan uang buat kukirim ke keluarga di Tanah Air. Aku harus memutar otak mencari tambahan, tentunya harus pembayaran tunai kali ini. Karena ketiga pekerjaan yang sudah kujalani sudah mendekati limit jam kerja yang dibolehkan untuk mahasiswa sepertiku. Itu pun sudah zero tax.
Aku merenggangkan badan. Semalam tidurku tidak nyenyak. Apartemen berukuran studio yang seharusnya dihuni dua orang saja sekarang bertambah menjadi delapan orang. Jadi, untuk tidur pun, kami harus bergantian. Beberapa kali aku terpaksa menghabiskan malam-malam di lab kampus.
Aku mengembuskan napas dengan kasar. Seharusnya aku bersyukur. Jika dibandingkan dengan para imigran gelap yang bersembunyi di apartemen-apartemen, kehidupanku masih lebih baik. Mereka bahkan harus berbagi dengan puluhan orang dalam kamar sepetak.
Kadang-kadang terselip penyesalan meninggalkan pekerjaan lama sebagai administrasi pabrik otomotif di Jakarta. Namun jika mengingat banyaknya uang yang bisa kuperoleh dan kutabung untuk kebutuhan masa depan, aku hanya perlu bersabar dan bekerja keras. Hidup hand to mouth tak masalah bagiku.
“Arini, kita butuh uang untuk beli rumah dan biaya sekolah anak-anak ke sekolah unggulan. Itu tidak murah. Percayalah, aku akan berusaha bekerja keras di Swedia,” ucapku saat itu. Aku berusaha meyakinkan Arini perihal kepergianku ke Benua Eropa. Visa pelajar adalah batu loncatan pertama untuk mencoba peruntungan di sana. Berjuang merajut impian demi keluarga di tanah kelahiran. Akan tetapi… Apakah jalan yang kupilih ini benar?
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Segera kupencet tombol fitur video call ke nomor Arini. Semoga dia belum tidur. Rasanya sudah rindu sekali melihat wajahnya dan kedua buah hati kami yang ceriwis. Lama tak diangkat. Kuputus sambungan telepon dengan perasaan kecewa. Besok akan kucoba lagi.
Tiba-tiba seseorang langsung duduk di kursi depan. “Assalamu’alaikum. Hi, Hill-man!”
Kuangkat wajah. Rupanya Faroukh, imigran gelap asal Iran. Aku suka tertawa geli melihat caranya memanggil namaku dari Hilman menjadi Hill-man—orang gunung.
Faroukh melirik ponselku. “Lagi rindu keluarga, ya? Tampangmu jelas terlihat homesick.”
Alih-alih menjawab, aku malah melanjutkan menyesap sisa kopiku. Sebentar lagi jam pulang. Sebenarnya, kedai kopi sudah tutup untuk pembeli, tetapi Baba Kareem masih berbaik hati menjual roti setengah harga, bahkan gratis, kepada para tunawisma dan kaum papa lainnya sebelum kami semua pulang.
Kulihat Faroukh menggenggam kantong plastik IKEA. “Tumben berani jajan agak jauh. Apa yang kamu beli di sana?”
Faroukh tersenyum, dengan bangga dia berucap, “Ini hari terbaikku. Tak hanya mendapat gaji penuh, aku juga mendapat tambahan dari teman yang baru melunasi utangnya. Jadi, aku usahakan membeli pankaka dari IKEA yang lama diidamkan putri kecilku, Rayhanne. Dia tergiur melihat anak tetangga yang suka beli pankaka di sana. Maka, hari ini aku usahakan beli, langsung lima paket sekalian!”
Aku takjub, betapa sangat sayangnya dia kepada putrinya sehingga rela menghabiskan hampir 150 krona hanya untuk membeli panekuk.
“Jadi, habis dong upah sehari kerja?” Aku mencoba mengingatkan agar dia juga berhati-hati dalam mengelola pengeluaran hariannya.
“Tidak apa. Senyum dan binaran matanya cukup menjadi penguat hatiku melewati kehidupan yang keras ini.” Matanya menerawang jauh. Getir kesedihan terpampang jelas di wajah pria berusia lebih dari separuh baya itu.
“Seandainya aku tidak mudah percaya omongan manis para agen, tentunya aku tidak akan melibatkan keluargaku hidup penuh risiko seperti ini.” Dia terdiam sesaat. “Apakah memenuhi isi perut adalah satu-satunya yang kita butuhkan di dunia?”
“Tidak,” jawabku singkat.
Faroukh menghela napas. “Kita pun ingin hidup sebagaimana layaknya manusia. Dulu, aku berpikir ingin kebebasan. Tidak mau seperti nasib ayahku yang dipenjara oleh rezim berkuasa saat itu hanya karena kami minoritas dan memiliki perbedaan berpikir. Tetapi sekarang, kebebasan macam apa yang kudapat?”
Aku menyimak kisahnya dengan perasaan campur aduk. Turut memahami kepahitan hidupnya. Dia selalu bersembunyi dan menyamarkan diri setiap keluar dari apartemen untuk menghindari pemeriksaan para polisi di jalan. Ya, kebebasan semu.
“Bahkan sekadar mengajak putriku ke taman, pikiran ini tidak bebas. Selalu ada perasaan takut,” ucapnya dengan suara bergetar.
Malam semakin larut. Karena searah jalan, kami pulang bersama. Di bawah cahaya temaram lampu kota yang menerangi jalan, kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Hilman, akhir pekan ini ada bazar di taman. Bagaimana kalau kita jualan baju lagi? Aku senang ditemani olehmu,” ucap Faroukh memecah kesunyian.
Aku mengangguk. Lumayan, dapat tambahan setidaknya 200 krona lagi walaupun jam kerjanya lebih panjang.
“Kapan rencana pulang ke Indonesia? Kalau ada kesempatan, kunjungilah keluargamu. Kebersamaan dengan mereka tidak bisa diukur dengan uang. Masa kanak-kanak pun tidak akan berulang,” nasihatnya.
“Tentu saja aku ingin pulang. Lagi berusaha mengumpulkan ongkos pulang.”
Dia menatapku. “Andai aku punya uang, andai aku bisa membantu.”
Aku terpana mendengar ucapannya. Betapa orang kecil sering kali memiliki hati yang lebih besar.
“Kamu tahu, Hilman. Pernah aku melihat Baba Kareem menangis. Dia rindu kehidupan di tanah airnya. Tetapi … Kamu tahulah. Sekali melompat pagar perbatasan, sulit untuk kembali pulang!”
“Tetapi setidaknya Baba Kareem memperoleh kehidupan yang layak di sini. Anak-anaknya mendapat pendidikan yang baik.” Aku berusaha membawanya berpikir dari sudut pandang lain.
“Itu yang kita lihat dari luar, kan? Penghasilan tinggi … Pajak juga tinggi. Minimal 30 persen lari ke pajak, belum lagi ada tambahan pajak lain. Walaupun begitu, kompensasi fasilitas dan pelayanan umum memang bagus.”
Kali ini aku membenarkan ucapannya.
Tiba-tiba dari arah sudut jalan terlihat mobil polisi memberhentikan sekelompok orang. Sebagian dari mereka mulai berlari berpencaran. Aku harus menyuruh Faroukh pergi. Kugamit lengannya. Dingin.
“Faroukh ….” Belum selesai aku berucap, dia memutar badan, berdiri persis di depanku.
“Hilman, aku harus segera lari dan bersembunyi. Kumohon, tolong aku!” Tangannya begitu kokoh mencengkeram bahuku. Dia menatapku lekat. Matanya berembun. Keringat mulai mengucur dari pelipisnya.
“Tolong berikan pankaka dan uang ini ke istriku. Katakan aku sangat mencintainya. Juga katakan kepada Rayhanne, ayahnya sangat mencintai dan selalu bangga kepadanya. Aku pasti kembali.”
Setelah menyerahkan bungkusan itu, dia segera berbalik arah dan mempercepat langkah. Aku hanya terpaku memandangi punggungnya hingga hilang ditelan kegelapan malam. Dengan gamang, aku melanjutkan perjalanan pulang. Di telingaku seakan kembali terngiang-ngiang suaranya saat membacakan lirik syair Rumi dalam bahasa Persia beberapa waktu lalu.
Ey noskheye nameye elahi ke toie
Vey ayeneye jamale shahi ke toie
Biroun ze to nist har che dar alam hast
Dar khod betalab har anche khahi ke toie
(Engkau bagai isi kitab suci
Cermin dari kekuatan
yang telah menciptakan semesta
Apapun yang kaupinta
Mintalah kepada dirimu
Apa pun yang kaucari
hanya dapat kau temukan dalam dirimu.) ***
Lahore, 31/8/2021
Glossarium:
Hand to mouth: hidup pas-pasan
Pankaka: panekuk