HARI ini kami boarding ke kapal Mother Vessel berbendera Singapura di dekat Pulau Sawi, kapal hendak memuat Bauksite. Pulau Sawi merupakan pulau yang berjarak 30 mil laut ke arah barat, mempertemukan Selat Karimata dan Laut Jawa. Tak jauh darinya terdapat pulau Cempedak dan Pulau Bawal di arah selatan.
Saat kembali pulang, kami singgah ke pulau Bawal. Sang driver hendak memperbaiki mesin yang tadi terserempet gangway kapal. Kami juga berbelanja ikan segar. Sekarang musim ikan tenggiri, laut sedang menunjukkan berkahnya. Banyak masyarakat sekitar berprofesi sebagai nelayan tradisional, mereka menggantungkan hidupnya di laut. Harga ikan murah dengan kualitas bagus.
Saat kami tiba di stegher yang terbuat dari batang pohon nibung, kulihat banyak kapal nelayan ukuran kecil yang bertambat. Para Nelayan sibuk mengangkut ikan menggunakan keranjang menuju pasar ikan yang tak begitu jauh.
Setelah membeli ikan tenggiri, kami menghampiri warung makan yang tak jauh dari pasar. Letaknya di ujung kiri stegher, tempat speedboat bersandar. Beberapa orang menggunakan baju putih hitam sedang duduk di ujung warung tersebut, ada Anto dan Maya bersama beberapa pria yang tak kukenal.
“Anto,” panggilku dengan melambaikan tangan.
“Hei jang, ngape tang sini te? Ayo sini,” Anto mempersilahkan aku duduk di dekatnya.
Aku duduk di kursi kirinya, duduk berhadapan dengan Maya. Sudah lama aku tak melihatnya, tampak berubah, tak mau lagi menatapku. Wajahnya selalu dipalingkannya ketika kutatap. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Sesekali matanya melirik ke arahku, kupandangi wajah putihnya yang oriental, alis matanya tebal dan lurus. Mungkin obrolan terakhirku dengannya bulan lalu membuatnya tak mau lagi bicara dengan ku.
***
Satu bulan yang lalu, saat selesai melaksanakan sholat magrib di masjid Jami’ Kendawangan, Maya menghubungiku. Memintaku bertemu di tempat biasa setelah Isya di warung soto Makdam Kampung Madura, tak jauh dari Kampung Sukun tempatku ngekost.
Aku pergi menggunakan sepeda motor vespa keluaran tahun sembilan puluhan milik Bapak kost. Setiba di tujuan, Maya telah duduk di kursi luar warung di bawah pohon mangga. Aku menghampirinya dan duduk di depannya.
“Ape hal te?” tanyaku.
Maya terdiam sesaat, wajah orientalnya memandangku.
“Aku ingin ada kepastian tentang hubungan kita wa.”
Aku gagap oleh peryataannya. Kutatap wajahnya, kutanyakan masalah hubunganku dengannya selama ini, apakah aku pernah berbuat salah terhadapnya, pikirku.
“Abah menyuruhku menanyakan ini kepadamu, kapan engkau mau melamarku?”
Setelah itu dia terdiam. Aku berusaha memikirkan jawaban agar dia tak kecewa kepadaku. Aku tak memiliki perasaan apapun terhadapnya, hanya menganggapnya teman dekat, tak lebih dari itu.
“Maya maunya cammane?” tanyaku sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
“Aku ingin kita punya status jelas.”
“Maksudmu?”
“Jadikanlah aku milikmu.”
Aku terdiam dengan pikiran menerawang jawaban yang tak kunjung muncul di kepala.
Maya tertunduk lesu, wajahnya berubah muram, matanya memerah, perlahan mengalir air mata membasahi wajahnya.
“Kau anggap apa aku selama ini wa, tak ada artinya aku selama ini di matamu,” Maya terisak, telapak tangannya mengusap matanya yang tampak sipit.
“Kau teman terbaikku, May,” tegasku padanya.
“Setiap aku pulang ke Ketapang, Abahku dan Umakku selalu menanyakan perihal hubungan kita. Kusampaikan kau tak kunjung menyatakan cintamu kepadaku.” Matanya masih berbinar menatapku.
Kupandangi Maya yang larut dalam tangis. Kukatakan bahwa aku belum berencana menikah dalam waktu dekat, aku masih punya tanggung jawab membiayai pendidikan adik bungsuku yang sedang kuliah di Pontianak. Bila kelak menikah, aku takut tak mampu membiayi pendidikan adik bungsuku.
“Aku tak menuntutmu menafkahiku secara materi. Kau bebas membiayai pendidikan adikmu dan keluargamu, kebutuhan materiku biar kutanggung sendiri.”
“Maafkan aku, May, aku belum bisa memberikanmu keputusan saat ini.”
“Kau telah memilih Manda.”
Aku hanya menggeleng. Maya beranjak dari tempat duduknya dengan wajah datar, tanpa permisi dan tanpa sepatah kata pun meninggalkanku yang masih duduk menatapnya. Sajian sop buntut kesukaanku baru dihidangkan oleh penjaga warung.
***
Setelah pertemuan itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Kucari informasi ke Puskesmas, Maya pulang ke Ketapang, cuti sebulan. Beberapa kali kutelepon tak diangkat, kukirim pesan, tetapi tak pernah terbalas.
Aku merasa kehilangan dirinya. Aku terlalu egois tentang rasa ini, aku tak pernah menghiraukan Maya. Oh no, apa yang aku pikirkan. Bukankah wajar, bila ada perasaan suka, cinta, sayang. Inilah intuisi manusia anugerah Illahi yang tak diberikan dengan makhluk hidup yang lainnya di muka bumi.
***
Saat menghadiri pernikahan temanku di Kendawangan Kanan, tanpa sengaja aku melihat Maya berjalan bersama Anto. Maya tampak bahagia dan sudah move on dariku. Aku tak lagi merasa bersalah karena telah mengabaikan perasaannya.
Saat sudah dekat kuhampiri mereka, sekedar say hello dan menanyakan kabar.
“Apa kabar, semoga cepat menyusul ya,” aku pun berjabat tangan dengan Anto.
“Aku melihat kalian sedang trending topic medsos.”
“Doakan aja ya, semoga kami juga cepat melangkah ke jenjang pernikahan,” tutur Anto.
“Insya Allah, jangan lama-lama,” jawabku sambil tersenyum.
Kulirik Maya yang masih tak mau menatap wajahku. Aku memaklumi responnya, awalnya aku merasa bersalah. Kedekatan yang kuanggap biasa, tetapi bagi Maya itu lebih, lebih dari sekadar teman biasa. Tetapi seiring waktu, aku sudah bisa memafkan diriku sendiri, apalagi melihat dekatnya hubungan Maya dengan Anto.
***
Hari berganti hari, waktupun berlalu dengan cepat. Tak terasa penghujung tahun menghampiri saat masih bertugas di Kendawangan. Saban penghujung tahun laut sekitar Kendawangan sering memanas, gulungan ombak tinggi dari arah selatan Laut Jawa sampai ke Laut Karimata.
Terdengar informasi dari pos jaga Syahbandar Air Hitam tentang kecelakaan kapal perintis Moro Seneng dengan rute Semarang menuju Kendawangan. Kapal perintis mengangkut dua puluh penumpang, lima belas kru dan semen lima ratus ton milik perusahan ternama. Kapal tersebut tak layak disebut kapal penumpang karena bentuknya kapal kargo. Tak terdapat dek penumpang secara khusus, penumpang ditaruh di atas tutup palka di bagian haluan kapal, beralaskan terpal seadanya.
Kapal mengalami gagal mesin di tengah cuaca buruk. Kapal terombang-ambing di seratus mil laut selatan Kendawangan. Kapal terhempas oleh tingginya gelombang, Tenggelam. Awak kapal dan penumpang belum diketahui nasibnya.
Petugas pelabuhan segera berkoordinasi dengan tim penyelamat beserta aparat terkait. Mengatur strategi mengevakuasi penumpang kapal. Tim penyelamat berencana berangkat berangkat sore hari saat cuaca di laut mulai tenang.
Aku pun turut bersiap bersama petugas lainnya di kapal penyelamat. Menuju titik koordinat terakhir yang diinfokan sang kapten sebelum hilang kontak. Petugas lainnya sibuk mengumpulkan informasi dari kapal yang ada di sekitaran laut Kendawangan.
Saat hendak berangkat, hape-ku berdering, kulihat Maya menghubungiku, suaranya bergetar. Anto ada di kapal yang tenggelam, dia berangkat dari Semarang dua hari yang lalu. Aku pun menenangkannya, kusampaikan bahwa kami sedang menuju ke titik koordinat tenggelamnya kapal.
Saat kapal keluar muara menuju laut, gelombang besar menghantam haluan kapal dengan ganasnya. Kapal milik tim penyelamat dengan berat tiga ratus gross tonnage, body fiber tak sanggup menerjang ombang yang diperkirakan tiga meter. Setelah melaut sekitar setengah jam, Kapten memutuskan putar haluan kembali ke pelabuhan menunggu cuaca teduh.
Banyak keluarga korban berdatangan di posko yang dibangun secara cepat oleh kantor pelabuhan. Keluarga Anto datang dalam rombongan besar, melapor dan menyerahkan data ante mortem untuk keperluan forensik. Ada juga Maya yang langsung menghampiriku, wajahnya pias, langsung memelukku, menangis sejadi-jadinya.
“Anto, wa, Anto,” isaknya.
“Sabar, May, Insya Allah semua penumpang selamat,” sahutku sambil menenangkannya.
Ombak yang masih besar dalam dua hari terakhir menyulitkan tim untuk berangkat menuju ke titik tenggelamnya kapal. Sampai hari kedua tak diketahui nasib penumpang dan kru. Terdengar berita sudah ditemukan beberapa jasad manusia yang terdampar di ujung pantai Pulau Gelam dan pulau di sekitarnya. Kuat dugaan jasad tersebut merupakan penumpang dari kapal Moro Seneng.
Maya semakin cemas, tak hentinya menghubungiku. Dia tak tenang, dalam mimpinya, Anto melambaikan tangan perpisahan kepadanya.
Di hari ketujuh tenggelamnya kapal Moro Seneng, terdengar kabar dari posko crisis centre pelabuhan, bahwa seluruh kru dan penumpang meninggal dunia. Hal itu dipastikan juga dari banyaknya mayat yang terdampar di pantai. Alat keselamatan di atas kapal tak mumpuni, tidak ada sekoci, tak ada inflatable liferaft dan life jacket dengan jumlah terbatas. ***