Menunggu dengan Sabar

CERITA pendek dalam buku kumpulan cerpen ‘Ruang Tunggu’ terdiri dari 20 cerpen. Semua cerpen telah diterbitkan di koran lokal dan nasional. Jadi, tak perlu dipertanyakan lagi kualitas cerpen dalam buku ini sebab telah melewati kurasi yang sangat ketat dari seorang redaktur koran. Semua cerpen ditulis tahun 2019-2020, menunjukkan betapa penulis lumayan produktif.

Dalam buku ini, penulis mampu membuat cerita percintaan yang sebenarnya klise bahkan dramatis menjadi terkesan manis dan realistis. Seperti cerita yang berjudul ‘Ruang Tunggu’ (hal 90) yang menjadi judul buku. Penulis menghadirkan kisah yang menyentuh, tentang seorang orang kekasih yang menunggu dan merindu, tak ada kata lelah bagi orang yang sabar untuk menunggu, meski tak tahu tentang takdir yang begitu rahasia.

Di cerita yang berjudul ‘Yang Lebih Hebat dari Kata Rindu’ dan ‘Amak Berpulang’ (hal 31 dan 103), kita akan membaca cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari sebuah ‘Keluarga’. Lalu di cerpen ‘Dermaga yang Mengandung Anak Perahu’ (hal 65), sebagai tokoh utama dalam cerpen ini adalah perahu dan dermaga, tokoh-tokoh terasa hidup meskipun benda mati bahkan menyentuh.

Judul Buku : Ruang Tunggu
Penulis : Maya Sandita
Penerbit : Egypt van Andalas
Cetakan : I, Mei 2021
Tebal : 160 halaman
ISBN : 978-623-96916-1-5

Cerpen ‘Cokelat Pasir Pantai Bibir Ibu’ (hal 16) menceritakan tsunami yang begitu dahsyat, tetapi digambarkan dengan sangat puitis. Sekali lagi, penulis mampu memberikan roh kepada tokoh-tokoh di dalamnya yaitu buih ombak, lautan dan pantai. Mereka hidup sebagai tokoh yang memiliki pikiran juga perasaan.

Beberapa cerpen ber-ending mengentak dan memberi daya kejut. Seperti dalam cerpen ‘Pelukis di Kamar Sebelah’ (hal 78), ‘Kelopak-kelopak Mata’ (hal 111), ‘Catatan dari Lemari’ (hal 146) atau bahkan ‘Sejangkap Kepala yang Meledak’ (hal 126).

Sementara di cerpen ‘Felicia’ dan ‘Burung Hantu pada November Tanggal Satu’ (hal 22 dan 48) mungkin pembaca akan memiliki persepsi yang berbeda karena di kedua cerpen ini penulis banyak menggunakan perumpamaan.

Ada dua cerpen dengan tokoh Jang Naldi (hal 133 dan 139), adalah dua cerpen yang ‘nyambung’ meski dimuat di media yang berbeda. Ceritanya sangat menarik, penuh satir, getir tapi juga nyinyir.

Membaca keseluruhan cerpen dalam buku ‘Ruang Tunggu’, tak hanya asyik tapi juga informatif. Penulis sangat piawai mengangkat isu kekinian. Beberapa sindiran dalam cerpen yang lain terhadap penguasa negeri ini juga disampaikan dengan lugas. ***

Tati Y Adiwinata, penulis asal Cicalengka Bandung.

Arsip Cerpen di Indonesia