Sajak-sajak Nur Wahida Idris (Jawa Pos, 09 Oktober 2021)
LAMPAHING
.
tunggu! ia sedang mengasah pisau
karena puisi sudah mengavling dirinya!
itu cambuk dan mawar dari kekasih
di usia 27 bagi 9 tahun perjumpaan
menuntun kuda-kuda bagi pertemuan,
tali kekang, cabang jalan, dan lintasan
hari-hari merumput di Bedahulu
hari-hari dalam sentak tali kekang di Kesambi
tak ada yang lampau dalam sajak
ia hijau berembun dalam puisi
genta di ketukan jari-jari semadimu
di lampit kardus biang kertas-kertas koran
tempat dengung dan gelisah kita rebah
matikan lampu-lampu, kecuali lambungnya! katamu
di lambung itu, pisau-puisi sedang bekerja
menyesap setiap debu pacuan dan naungan
kuda-kuda liar yang meringkik dalam sajak-sajakmu
diammu, ringkik kuda merah-putihku
penggali yang tabah bagi riang kecipak timba
menimpa denyar mata air
meningkahi selisih angin dan debu
simpanan percik api
tendangan sudut kala dan patra anak-anakmu
beginikah rasa mencintai?
bagi kertas-kertas yang belum bekerja belum bermakna
terimalah, dengan puisi ini kutebus jari-jarimu
dari tali anganan sajak dan rinduku, Umbuku
Umbu Landu Paranggi
.
Juni 2021
.
.
.
.
RUMAH BEDAHULU XV/28
.
di ujung Jalan Bedahulu XV
menjadi bagian dari 9 tahun ditemukan puisi
di jam-jam kelakar di waktu-waktu serius pada nasib
sebuah rumah,
dengan derit pagar besi berkarat pada setiap yang datang dan pergi
adakah yang lebih gelisah dari penghuninya yang nyeri ditinggalkan
mendenging pada sajak dan gerung mobil tua Pak Mangku
satu-satunya tetangga di samping rumah
jika boleh kemanjaan pada sajak diberkahi
siapa yang akan menyambut pelukanmu
rumah telah runtuh
jalan yang dulu berujung tepi sungai
tempat yang selalu menderma tenaga sunyinya
tempat berdiang sajak-sajak merentak
serimbun buah-buah jambu yang jatuh di halaman
kini diramaikan orang lalu-lalang
hening diandaikan
keriuhan nyata dan sepat!
.
Juni 2021
.
.
.
.
BANGSAL 05
.
kalian pikir aku bahagia
bercakap-cakap dengan kalian
apa yang layak disibukkan dalam pikiran
apa yang diangankan menetap kekal di inti hati
malangnya kata-kata dalam percakapan sia-sia
malangnya kertas-kertas yang mencatat
kata-kata cecapan dari rasa buatan
berapa pohon tumbang untuk 15 menit berdiri
menanti tepuk tangan di arena yang rusuh pada makna
jika saja ia bukan bernama rahasia
tentu riang-rianglah panggung ini
dengan kibasan baju dan entakan sepatu
dalam pertemuan dan perpisahan yang dibincangkan
tujuan tidaklah penting
bagi sorak-sorai penggembira yang menolak persaksian
dunia tidak peduli dengan riuh keriangan
dunia hanya mau keheningan menjadi musuh bersama
tawa dan sedih hanyalah jual-beli
bagaimana bisa kuabaikan sunyi yang mendesir di setiap gerak
bintang yang ingin dikenali dalam kegelapan
kuasa bagi pertemuan
menjadi rahasia setiap perpisahan
kata tidaklah penting bagi rupa-rupa jenis huruf
kalimat tidaklah perlu bagi kemolekan kata
dan makna berbahaya
jika ia melibatkan diri dalam percakapan ini!
.
Maret, 2021
.
.
.
NUR WAHIDA IDRIS. Lahir di Loloan Timur, Negara, 28 April 1976. Menyelesaikan studi di Jurusan Kriya/Tekstil Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Buku puisi tunggalnya, Mata Air Akar Pohon (2008). Ia juga mengelola Lembaga Akar Indonesia dan Komunitas Rumahlebah Yogyakarta.
.
BANGSAL 05.