Jika di Antara Kita Lebih Dulu Dipanggil Tuhan

Cerpen Kak Ian (Radar Madiun, 10 Oktober 2021)

“SERIUS amat baca WhatsApp-nya?” Seperti biasa, pagi itu aku sudah berada di teras depan rumah sambil membaca koran. Ditemani sinar matahari pagi yang sangat bagus untuk tubuh.

MAKA dari itu, aku sengaja membuat teras rumah kami menghadap ke arah timur. Agar sinar matahari langsung menerpa ke rumah kami. Agar rotasi udara dan sinar pagi masuk saling bergantian.

Hari itu, hari Minggu, dan sudah menjadi kebiasaanku selalu menikmati pagi dengan berolahraga ringan lalu dilanjutkan membaca koran. Sedangkan Lastri sedang bersiap meracik kopi kesukaanku beserta penganannya di dapur.

Saat itulah, saat aku sedang membaca koran, ternyata ada pesan WhatsApp mendarat di ponselku. Kulihat nama pengirimnya yang tertera. Ternyata pesan itu datang dari Dicky. Ia rekan kerjaku sesama guru ANS.

Secara bersamaan Lastri melihat mataku berkaca-kaca saat ia menaruh kopi beserta penganannya di meja kecil yang berada di sampingku.

***

RATNA SUDAH TIADA, PAK! SEMALAM DIA JATUH DARI KAMAR MANDI.

Begitu Dicky mengabarkan bahwa Ratna, istrinya itu, sudah tiada. Padahal baru kemarin aku bertemu dengannya, di rumahnya pula.

Aku pun datang saat itu bukan untuk membicarakan permasalahan BDR (belajar dari rumah) maupun PTM (pembelajaran tatap muka), yang katanya tidak lama lagi akan kembali dibuka sesuai keputusan Mendikbud. Tapi, aku hanya ingin menumpahkan segala permasalahan rumah tangga kami kepada Dicky. Lebih tepatnya aku ingin mendapatkan wejangan dari guru muda itu.

Maklumlah, sudah hampir berjalan tujuh purnama aku membangun biduk rumah tangga bersama Lastri, ia tak kunjung hamil. Rumah kami seakan terasa senyap tanpa tangis dan tawa seorang anak manusia.

Sedangkan Dicky yang baru seumur jagung menikah bersama Ratna, sudah memiliki dua anak yang lucu-lucu. Maka dari itu, saat kuterima pesan dari rekan sesama guru yang kukenal baik mengabarkan bahwa istrinya sudah tiada, sontak aku terkejut sekali. Sampai-sampai semua tulang di tubuhku ikut lunglai saat membaca pesan itu.

Apalagi ketika kemarin aku datang ke rumah mereka. Dicky bersama Ratna kulihat begitu romantis, bahkan begitu bahagianya. Aku sendiri yang melihat mereka bermanja di depanku, begitu mengusik pikiranku.

Mengandaikan aku dan Lastri bisa seperti mereka. Memiliki keluarga kecil yang begitu sempurna. Terlebih sudah memiliki para malaikat kecil yang lucu-lucu. Tapi, dengan kami?

“Dari siapa? Aku lihat dari tadi usai membaca pesan itu matamu berkaca-kaca?” sapa Lastri membuyarkan kesedihanku.

Saat itu Lastri melihat aku mengucek mata seusai membaca pesan WhatsApp dari Dicky. Padahal aku sudah berusaha menyembunyikan kepedihanku saat membaca pesan duka dari rekanku sesama guru itu.

Aku pun benar-benar terpukul saat mengetahuinya. Baru kemarin aku mendatangi rumah Dicky. Sekarang aku mendapatkan kabar duka dari dirinya pula. Ratna, istrinya, sudah tiada akibat jatuh dari kamar mandi saat ingin bersuci.

“Istri dari rekanku sesama guru. Istri Pak Dicky meninggal hari ini,” jawabku lirih.

“Oh, aku turut berdukacita. Kalau boleh tahu, meninggalnya kenapa?” tanya Lastri kemudian.

“Jatuh dari kamar mandi saat ingin berwudu,” sahutku.

Innalillahi wa innailaihi rojiun. Lagi-lagi aku turut prihatin,” ucap Lastri ikut terkejut.

Maklumlah, siapa yang tidak terkejut. Jika orang yang baru saja ditemui kemarin, pun dengan dilimpahi kebahagiaan, kini berselimut kabar duka. Salah satu dari mereka sudah lebih dulu dipanggil Tuhan. Bukan itu saja, yang lebih menyedihkan lagi, bagaimana nanti dengan anak-anaknya yang masih butuh kasih sayang dari seorang ibu? Anak dari rekanku sesama guru itu masih balita, bahkan satunya baru lahir ke dunia.

“Mungkin agak siangan aku melayat ke rumahnya. Aku ingin menguatkan dirinya.”

“Boleh aku ikut?” Lastri meminta izin untuk ikut melayat bersamaku.

“Ya, aku panaskan mobil dulu.”

“Baiklah, aku ke dapur dulu. Hari ini aku masak makanan kesukaanmu, gulai ikan patin.”

Tidak lama kemudian Lastri pamit meninggalkan aku seusai ia menaruh kopi pagi. Aku sendiri jadi tidak bersemangat untuk melanjutkan membaca koran pagi itu.

***

Sepulang melayat dari rumah Dicky, perasaanku jadi tidak menentu. Aku masih larut dalam kesedihan rekanku sesama guru itu. Bagaimana tidak terganggu, pikiranku terbayang-bayang dua anaknya yang masih sangat kecil. Apakah Dicky bisa merawat dan membesarkannya seorang diri?

Hal itu pun membuat aku tidak menyadari bahwa bulan bulat di luar teras rumah sudah menghias langit gelap. Malam sudah mulai merayap sepi. Begitu yang kurasakan seketika menyenyap.

Akhirnya kurapikan segala pekerjaan yang esok pagi kubutuhkan. Apalagi BDR masih saja aku lakukan dan masih berlanjut tanpa kepastian kapan PTM dibuka kembali. Karena selama BDR pekerjaanku sebagai guru sangat menyita waktu. Apalagi masih pandemi, aku jadi makin sibuk.

Saat aku sedang membereskan persiapan mengajar untuk esok, Lastri masuk ke dalam kamar. Aku pun menghampirinya.

“Jika suatu saat nanti aku lebih dulu meninggalkan dunia ini, apa kamu masih tetap setia menjaga janji kita seperti saat akad nikah dulu?”

Kulihat mata Lastri membulat. Mungkin ia terkejut saat aku berkata demikian. Atau, mungkin ia mengira aku terlalu larut terbawa suasana atas kematian istri dari rekanku sesama guru itu. Entah.

“Kamu itu bicara apa? Ada-ada saja! Jikapun memang benar Tuhan lebih dulu memanggilmu, aku akan selalu menjaga dan merawat cinta kita. Begitu kan semestinya?”

Aku yang mendengar ucapan Lastri langsung bersemu. Seperti bulan bulat malam ini di luar kamar kami. Mungkin malu-malu melihat kami tetiba seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.

Akhirnya kupeluk tubuh Lastri. Kucium tekuk lehernya. Lembut. Menjalari tumbuhnya. Mendadak jutaan kupu-kupu mulai menggelitik perutku.

“Tuhan, aku ingin selalu bersamanya sampai kapan pun, hingga maut mencabut nyawa di antara kami. Karena kami ingin menjadi satu tubuh. Kami ingin selalu bersama.”

Sesaat kuucapkan hal itu, pikiranku melayang ke arah Dicky yang begitu tegar saat mencium Ratna terakhir kali sebelum kain kafan menutupinya. Saat itu aku berpikir, apakah bisa diriku setegar Dicky? Sebaliknya, apakah Lastri bisa setabah Dicky jika di antara kami ada yang lebih dulu dipanggil Tuhan?

Srekkk….

Bunyi angin menggesek pohon rambutan kering bertemu genting atap rumah kami, langsung membuyarkan lamunanku. Saat aku sadar, Lastri sudah tertidur pulas.

Saat itulah aku hanya mampu memandangi rupa Lastri yang begitu teduh dan tabah selama mengarungi biduk rumah tangga bersamaku. Walaupun aku sering menuntut anak dari rahimnya. Tapi, ia hanya membalasnya dengan sebuah senyuman dan memberikan belaian padaku. Bukan perselisihan, apalagi amarah.

Itulah yang kuharapkan. Aku dan Lastri akan selalu seperti ini selamanya. Selalu menjaga cinta suci kami. Sekalipun di antara kami ada yang lebih dulu dipanggil oleh-Nya. ***

.

Kak Ian. Penulis, aktivis anak, penikmat sastra. Kini bergiat (founder) di Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

.

Jika di Antara Kita Lebih Dulu Dipanggil Tuhan. Jika di Antara Kita Lebih Dulu Dipanggil Tuhan.
Arsip Cerpen di Indonesia