Cerpen Etalia (Pontianak Post, 10 Oktober 2021)
LEMBAYUNG pagi menemaniku menyusuri jalan sepanjang pegunungan ini. Sejauh mata memandang, hamparan luas pohon-pohon besar dan rindang menghijau, serta pucuk daun putih dan kuning kemerahan menutupi dataran panjang yang merupakan spesies langka hutan ini.
Hawa dingin menusuk hingga ke tulang, menyuguhi aroma daun yang begitu segar. Embun tipis mulai turun, namun memudar seiring mentari yang menembus celah-celah daun dan berpendar dalam siluet cahaya redup. Terkadang, angin semilir menerpa wajahku yang dingin oleh embun.
Burung-burung saling menyapa dan berbicara dengan suara indah, menawarkan suara alam yang memesona, membangunkan alam yang terlelap dalam malam yang tenang. Sungguh sebuah panorama yang sangat indah.
Kulangkahkan kaki, menapaki jalan tanah kemerahan berlumut, jalan setapak yang cukup licin karena hujan mengguyur hutan ini sejak malam tadi. Di depan kurombongan anak pencinta alam Gunung Patimu riuh mengobrol dan bersenda gurau memberi semangat kepada kami yang masih di belakang mereka. Ya, mereka adalah anak-anak desa di lereng gunung ini yang ditugaskan oleh masyarakat desa untuk menjaga wilayah gunung ini dari orang-orang yang ingin mengambil hewan dan tumbuhan atau merusak habitat di sekitar gunung.
Pagi ini adalah jadwal mereka untuk mengelilingi dan memantau area gunung ini. Aku yang bingung karena libur semester yang begitu panjang, diajak temanku, Puji ke desanya. Aku langsung menyetujui ajakannya, sambil mencari pengalaman di kampung orang, batinku. Puji anak yang aktif, ia tak mau ketinggalan ikut serta mengikuti kegiatan masyarakat dan pemuda di desa ini.
“Aku juga sebagai putra daerah desa ini, walau telah lama meninggalkan kampung halaman, harus memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam dan keasrian gunung ini,” jawabnya ketika aku menanyakan tujuan dia menjelajah gunung.
Jalan semakin menanjak, sisi kiri jalan merupakan tebing tanah yang kokoh, akar-akar tanaman membalut tanah dan pohon-pohon yang tinggi menjulang bagai raksasa yang seakan ingin menembus cakrawala. Di kanan jalan merupakan jurang yang cukup dalam, sungai mengalir dengan air yang begitu jernih serta batu-batu berbentuk oval dengan ukuran yang beraneka menghampar di sepanjang sungai itu.
Suara air begitu membuat tenang jiwa siapa pun yang mendengarnya. Daun-daun kering yang basah menutupi jalan setapak yang kami lalui. Tak jarang, hewan-hewan kecil melintas, membuat kami terpesona dengan uniknya mereka.
“Ayo cepat, perjalanan masih jauh,” kata Ramli sebagai ketua regu kelompok kecil ini.
“Kalau beruntung, kita akan melihat anggrek hitam dan jamur jingga di atas sana,” sambungnya memberi penjelasan.
Aku tertegun dengan yang dikatakan Ramli barusan. Anggrek hitam? Pasti tanaman yang unik dan langka, batinku.
“Puji, kamu tahu tanaman yang tadi Bang Ramli ceritakan itu?” tanyaku kepada Puji.
“Tahu sih, tapi aku belum pernah menemukannya pada saat anggrek tersebut mekar,” jawab puji singkat.
“Susah dapat momennya, Lia,” lanjutnya.
“Nah, kalau yang Bang Ramli katakan benar, kita beruntung ini, karena ini musim jamur jingga dan saat anggrek hitam mekar!” sahut puji kegirangan.
“Waaaaah senangnyaaaa,” sahutku gembira sambil menggoyang-goyangkan tangan ke atas kegirangan.
“Ayo, buruan! Nanti ketinggalan lo,” ajak Puji mempercepat langkahnya.
“Haduuuuh, sabar sedikit Ji, aku ngos-ngosan niiih, kamu sudah biasa, nah aku, jarang-jarang yang begini,” sahutku sambil memegang pinggang kelelahan.
“Hahaha… makanya olah raga, biar sehat,” jawab puji tertawa.
Ia melihatku lucu dengan tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Aku cuma menghela napas dengan berat, mengakui keadaanku yang kurang prima dibanding Puji. Aku upayakan menyusul rombongan agar tidak tertinggal. Di belakangku masih ada beberapa pemuda pemudi serta bapak-bapak di desa ini yang ikut menyertai rombongan pencinta alam. Sesekali kami berhenti, untuk sekadar minum air dan makanan bekal yang kami bawa, beberapa bapak menyalakan rokok kreteknya.
Perjalanan semakin sulit, tebing-tebing tanah kami panjat untuk mencapai rest area, yaitu tempat atau lokasi untuk para pencinta alam beristirahat dalam waktu cukup lama. Akar-akar pohon yang bertonjolan menjadi pijakan yang cukup nyaman untuk kami injak dan akar yang menjuntai cukup kokoh untuk kami berpegangan. Sebuah perjalanan menegangkan tapi banyak cerita lucu yang terjadi.
Harda yang badannya cukup tambun, berusaha berpegangan untuk naik sambil menginjak akar-akar pohon di tanah. Tapi pijakan yang tidak pas membuat Harda terpeleset, hingga tubuhnya terayun-ayun di akar pohon.
Semua tertawa menyaksikannya. Bagaimana tidak, tubuh Harda bergelayutan di pohon seperti tarzan dengan teriakan lantangnya karena ketakutan. Wajahnya memucat, tubuhnya lemas saat di tarik oleh teman lain.
Namun sesaat kemudian Harda tertawa terbahak-bahak pula mengingat kejadian dirinya tadi. Kami cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan Harda. Ada-ada saja Harda.
Matahari semakin terik menyinari alam, namun cahayanya tak cukup menembus ke dasar hutan ini, pohon-pohon rindang menjadi kanopi besar layaknya payung penahan panas mentari.
Kulirik jam tanganku, waktu telah menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh tujuh menit. “Wow, tidak terasa sudah jam delapan lewat, Ji,” kataku kepada Puji.
Reflek puji melihat jam tangannya. “O iya ya, tidak terasa Lia, padahal rasanya kita baru saja berjalan dari desa, ternyata sudah menjelang siang,” sahutnya.
“Apa masih jauh ya lokasi jamur itu Puji?” tanyaku sambil mengatur napasku yang berat.
“Tidak, sebentar lagi Lia, sebab tumbuhan di sini sudah mulai berbeda vegetasinya. Liat saja itu di sekitar kita, semak belukarnya sudah semakin berkurang, lebih dominan tumbuhan besar kan,” kata Puji lagi memberi penjelasan.
“Oh begitu ya,” sahutku mengangguk-angguk kecil sambil mengamati alam sekitar.
Memang tumbuhan yang menjadi vegetasi daerah ini sedikit berbeda dengan tanaman yang letaknya di lereng bagian bawah pegunungan. Banyak semak perdu menutupi daerah itu. Tetapi daerah di tengah pegunungan ini banyak ditumbuhi oleh pohon keras.
Tak berapa lama, samar-samar kudengar bunyi air cukup keras dari arah depan mulai terdengar. Kusimak rute semakin landai dan mudah. Suasana mulai terang, sinar mentari mulai menyeruak di antara pepohonan. Ya, kami telah memasuki air terjun di mana vegetasi anggrek hitam tumbuh. Suara burung hutan menyambut kehadiran kami. Sungguh simponi alam yang jarang aku dengar.
Tak sabar aku melangkah, ingin menyentuh air yang begitu bening. Aku basuh wajah yang penuh keringat, segar menyentuh kulit. Aku menghirup udara dalam-dalam sambil merentangkan tangan menikmati panorama dan suasana alam yang begitu indah.
Seseorang menepuk pundakku, kulihat Puji tersenyum sambil menunjuk ke depan. Di seberang aliran air terjun yang tak begitu besar ini banyak anggrek tumbuh di batang-batang pohon besar sedang berbunga.
Aku terpesona dengan aneka warna yang begitu indah. Puji menunjuk kembali salah satu jenis anggrek yang merupakan anggrek hitam. Salah satu jenis anggrek yang mulai langka di Kalimantan.
Para pencinta alam dan penjaga hutan mengelilingi area tumbuh anggrek. Mengamati keadaan anggrek yang sangat baik. Terdengar percakapan tentang beberapa harapan dan usaha mereka akan tanaman-tanaman yang mulai sulit ditemukan di wilayah ini.
Setelah puas menikmati pesona Gunung Patimu, kami bergegas turun. Perjalanan menuruni gunung tidak sesulit saat mendaki.
Dalam perjalanan pulang ini, aku bersyukur, hutan dan vegetasi tanaman serta hewan di gunung ini masih terjaga. Meski tidak jarang mereka bertemu orang-orang yang berusaha mengambil untuk dijadikan usaha ilegal.
Sampai berjumpa kembali Gunung Patimu, aku pasti merindukan semuanya. Semoga suatu saat ketika kembali ke hutan ini, semua masih terjaga. ***