Cerpen Reni Asih Widiyastuti (Waspada, 10 Oktober 2021)
“JANGAN jadi manusia pendendam, Sum. Kalau itu kamu biarkan, lama-lama hatimu bisa busuk.”
Nasihat lama dari seorang kawan kembali terngiang-ngiang di telinga Sumi. Bukannya membuat dia sadar, justru semakin berdenging dan memunculkan dendam di dalam hatinya. Apalagi sejak Jamal mulai bertingkah aneh, seperti pagi ini. Tiba-tiba Jamal berceloteh setelah selesai mandi dan memakai seragam kerja yang sudah disetrikanya sendiri.
“Coba kamu lihat kakak iparmu, dia punya tiga anak, tapi sehari-hari dia kuat. Tetap kerja, tapi enggak pernah bilang capek. Aku ingin kamu bisa seperti dia. Aku juga inginlah sesekali mencicipi masakanmu. Nyatanya teman-temanku yang perempuan bisa melakukannya!”
Air mata Sumi seketika meleleh seiring remasan jemarinya pada seprai kumal yang belum digantinya dua minggu itu.
“Menangis, menangis, menangis terus! Kamu selalu salah paham! Aku enggak ada maksud membanding-bandingkan!” Balas Jamal seraya merapikan kerah baju, lantas menyambar tas selempangnya.
“Tapi kamu tahu sendiri, kan? Akhir-akhir ini aku sering pulang malam karena lembur!”
“Siapa suruh kamu kerja!”
“Kalau aku enggak kerja, terus bapak ibu gimana? Siapa yang bayar kontrak rumah?”
“Ah, sudahlah! Aku juga sudah tahu, jawabanmu pasti bakal begini terus!”
Percakapan mereka terhenti. Jamal melenggang pergi, berangkat bekerja tanpa sempat menyalami Sumi, istri yang baru dinikahinya setahun lebih itu.
Sebelum menikah, Sumi memang sudah bekerja. Jamal juga tak melarang jika Sumi masih tetap bekerja. Semua Sumi lakukan demi keluarga. Bapaknya tak punya pekerjaan tetap, sehari-hari hanya mengandalkan uang hasil dari menyervis handphone. Itu pun tak selalu setiap hari. Sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga.
Sumi tak punya pilihan lain selain mempertahankan pekerjaan yang sedang digelutinya. Sampai akhirnya rezeki itu datang. Sumi hamil. Dia sangat bahagia melihat dua garis berwarna merah itu. Sebentar lagi, dia akan menjadi ibu. Bahkan dia masih bisa merasakan anugerah itu tanpa resign dari kantor.
Sembilan bulan bukan waktu yang terbilang pendek bagi Sumi. Anak pertamanya dengan Jamal—perempuan, lahir dengan selamat dan tanpa kurang suatu apa pun. Awal-awal menjalani rutinitas sebagai ibu, Sumi kaget dan belum terbiasa. Sempat merasakan baby blues, tapi bapak dan ibunya selalu menguatkan. Sedangkan Jamal cenderung melimpahkan semua tanggung jawab merawat anak padanya. Sumi paham betul, Jamal memang tak punya waktu banyak setiap hari. Jamal bekerja dari pagi hingga malam. Sesampainya di rumah, Jamal selalu mengeluh lelah. Maka Sumi memakluminya.
Kekhawatiran Sumi semakin menjadi-jadi. Setelah masa cuti berakhir, dia kembali bekerja dan sering pulang malam lantaran lembur. Hampir setiap hari, dia selalu pulang jam delapan malam. Lama kelamaan, ibunya sering mengomel.
“Dari tadi ibu tunggu, kok kamu enggak pulang-pulang? Kamu kan punya bayi, bilanglah sama atasanmu! Kalau teman-temanmu sih enak. Anak mereka sudah pada besar, pulang malam juga enggak masalah!”
“Ya sabar, Bu. Kerjaan Sumi memang masih banyak-banyaknya. Nanti kalau sudah surut, pasti bakal pulang sore kok, Bu.”
Keadaan seperti itu terus berlanjut, tapi Sumi tak ada pilihan lain. Semua tetap dia jalani. Herannya, Jamal yang diharapkan dapat menjadi tempatnya berkeluh kesah atau setidaknya memberi support terbesar, justru tak menunjukkan itu sama sekali. Sumi iri melihat wanita di luar sana yang bisa bekerjasama dengan para suami mereka. Tidak dengannya. Namun apa daya, Sumi hanya memendamnya sendiri tanpa berusaha mengutarakannya pada Jamal.
Rasa lelah lambat laun membuat Sumi jarang berkomunikasi dengan Jamal. Setiap pulang kerja, dia langsung momong anak. Setelah anaknya tidur, dia juga ikut-ikutan tidur. Ketika Jamal pulang, dia masih tidur. Begitu terus hingga suatu malam, sesuatu membuat dendam semakin menguasai hatinya. Waktu itu Jamal dan anaknya sudah terlelap, Sumi iseng membuka handphone milik Jamal.
Betapa kagetnya dia ketika melihat salah satu pesan Jamal dengan seorang perempuan. Jamal dan perempuan itu membahas sesuatu yang intim. Bahkan ada satu dua kalimat penuh perhatian yang Jamal ucapkan pada perempuan itu. Hati Sumi bagai terhantam batu besar. Namun, bukannya membangunkan Jamal dari tidur, dia justru semakin asyik membaca pesan-pesan lain.
Dia menangis tanpa suara, takut jika anaknya terbangun. Dalam suasana hati yang tidak karuan itu, sebagai balasan, dia mengirim pesan singkat bertubi-tubi pada Jamal sambil sesekali mengecup kening anaknya. Dengan harapan, besok Jamal bisa membacanya.
Benar saja, malam merambat cepat berganti pagi. Jamal sudah membaca pesan-pesan darinya dan dia sangat tercengang dengan respons Jamal.
“Maaf. Aku khilaf.” Jamal berkata dengan entengnya.
“Khilaf katamu, Mas!”
“Aku sengaja enggak menghapus pesan itu supaya kamu membacanya!” kata Jamal lagi.
“Enggak masuk akal!”
Jamal memeluk Sumi dengan erat. Tapi tak semudah itu Sumi memaafkan Jamal. Khilaf yang diucapkan Jamal sama saja merendahkannya sebagai seorang perempuan. Sumi semakin memupuk dendam di dalam hati. Apalagi saat tak sengaja kupingnya mendengar ocehan mulut para tetangga sedang menggunjingkan dirinya sewaktu menjemur cucian di depan rumah. Entah apa sebab, justru mereka menganggapnya sebagai perempuan yang tak sudi mengurus anak dan suami.
“Suami kerja dari pagi sampai malam. Dia kerja dari pagi sampai malam juga. Sampai rumah apa iya sanggup meladeni suami dan anak? Paling juga diurus sama ibunya. Dia tinggal makan, tidur, besoknya kerja lagi,” ucap salah seorang tetangga.
“Betul. Tiap hari begitu terus, kok Mas Jamal bisa betah, ya?”
“Jangan-jangan di luar ada main sama perempuan lain!”
Sumi berusaha meredam amarah. Walau sebenarnya dugaan mereka soal perempuan lain itu memang benar adanya. Dia segera merampungkan pekerjaan, lalu beringsut masuk ke dalam rumah. Sementara, dia tidak tahu kalau ketiga tetangganya itu justru kini tengah menertawakannya.
Besoknya, seperti kebiasaannya sebelum berangkat bekerja, Sumi menyempatkan diri untuk memandikan anak dan menyiapkan sarapan. Termasuk secangkir kopi untuk Jamal. Entah ada sesuatu apa yang menyebabkan dia mendadak telah berdamai dengan Jamal. Padahal baru semalam dia merasa sangat kecewa atas perlakuan Jamal padanya. Bahkan, matanya tak lagi terlihat sembab. Senyum ikhlas tersungging di bibirnya. Jamal terlihat senang dengan perubahan itu meski dalam hati seperti ada yang aneh dengan diri istrinya itu.
Setelah selesai mengurus anak dan menyerahkan pada sang ibu, kini giliran Jamal yang harus diurus oleh Sumi. Sumi dengan senang hati memberikan secangkir kopi buatannya langsung pada Jamal. Padahal, biasanya Jamal langsung mengambil sendiri. Lagi-lagi dia merasa aneh. Namun, dia tetap menerima dengan senang hati dan menyeruputnya perlahan. Satu, dua, hingga tiga teguk. Mula-mula dia biasa saja. Sampai tiba-tiba tenggorokannya terasa panas. Sumi sengaja membiarkan walau Jamal berulang kali meminta air putih.
“Itulah akibatnya jika coba-coba bermain api denganku!” ***
.
Semarang, Juli 2021
.