Cerpen Riki Utomi (Tanjungpinang Pos, 16 Oktober 2021)
SETIDAKNYA saya yakin bahwa ia telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Lihatlah, kini ia masih bertahan, seperti di kursi pesakitan dalam sebuah persidangan. Matanya seolah telah terasah, begitu tajam menatap saya. Mata yang seperti tidak mengajak kompromi. Mata yang membicarakan tentang apapun pada sekelumit rasa yang melekat di lubuk hati. Saya masih membiarkan ia diam. Lalu sambil mengambil napas, ia berkata lagi, seolah menggempur apapun dari bicaranya yang tak kunjung henti itu.
Tubuhnya tampak gemetar, oh juga suaranya terdengar juga demikian. Seperti ada sesuatu yang tetap ditahannya—barangkali sedikit mencoba untuk dikendalikan—agar tidak terlalu terlepas menjadi gumpalan amuk. Tapi sungguh dengan begitu ia semakin terlihat rapuh. Tapi saya tidak ingin mengacaukan segala kisruh hatinya yang meluap itu. Lihatlah, betapa laju bagai air bah ia berbicara. Segala hal yang berkaitan tentang anaknya diluahkannya dengan penuh hasrat, lebih tepat kebencian. Betapa semua itu telah membuatnya hilang kendali untuk melakukan tujuan awalnya ke sini.
Memang, saya sudah menebak. Ketika awal ia masuk ke ruangan ini, tanpa basa-basi ia langsung datang dengan hati seremuk kertas. Suaranya kencang melebihi angin. Saya yakin segala pikirannya tidak lagi terkendali. Sambil membusung dan menatap tajam ke saya, sambil berkata-kata keras dan laju ke saya, membuat suasana hening dalam ruangan berubah menjadi panas. Tapi anehnya, saya tetap dingin.
“Bukan anak saya tidak mau mengerjakan. Tapi mereka yang tidak ada mengirimkan tugas-tugas itu kepadanya. Jadi, siapa dalam hal ini yang harus dipersalahkan? Jangan mengatakan anak saya tidak mau mengerjakan! Bapak dan ibu-ibu saja yang tidak mau mengirimkannya!” suaranya terdengar bergetar.
Saya masih menatap matanya yang tajam. Sungguh mata yang begitu lelah dan menyimpan begitu banyak persoalan hidup.
“Tolong jangan menyalahkan anak saya. Sebaliknya juga, bukankah bapak sendiri yang tidak mau meminjamkan buku-buku. Jadi bagaimana anak saya mau belajar!”
Kali ini saya tersenyum, lalu menggelengkan kepala. Setidaknya saya cukup terkejut. Saya tarik napas dalam-dalam. Saya lihat lagi ia. Matanya masih menusuk. Oh, saya baru teringat, kapankah saya mengatakan akan meminjamkan buku-buku untuk anaknya? Apakah saya lupa? Apakah ia hanya mengarang? Tapi sungguh, tidak pernah saya menyebutkan untuk meminjamkan buku-buku bagi anaknya nun jauh pulau seberang sana. Tentu itu sebuah hal gila.
Saya hanya mengajaknya untuk bersabar setelah ia semakin tampak rapuh. Sungguh ia sangat letih dengan pikiran yang kusut dan hati yang berguncang itu. Saya ajak pula ia mengucap istighfar. Ah, betapa kasihan ia yang semakin tampak tua dengan gurat-gurat di sekujur wajah.
“Segala penugasan telah dikirimkan ke anak ibu,” terang saya tenang.
Ia tak bergeming.
“Pun segala hal berkaitan dengan tugas itu tinggal dikerjakan saja, karena pada umumnya berbentuk catatan untuk meringkas.”
Ia menunduk.
Saya tersenyum, tapi lebih tepat aneh. Agak lama ia menunduk, ia dongakkan lagi kepala dan kembali mengeluarkan deras ucapan yang tak kunjung reda, tentang segala hal anaknya. Anaknya yang sungguh-sungguh telah merapuhkan tubuhnya hingga kini. Anaknya yang telah memberikannya beban begitu beratnya dalam hidup ini. Anaknya yang—selalu ia katakan pada saya—menyesal ia melahirkannya. Benar-benar membuatnya, sekali lagi, tampak semakin tua.
“Sebaiknya anak ibu pulang,” jawab saya yang nyaris tidak menanggapi segala banjir ceritanya itu.
Ia menggeleng trenyuh. Raut wajahnya begitu kusut seperti benang. Matanya memejam erat seperti menahan kesakitan luar biasa.
“Tidak semudah itu,” jawabnya pelan dan berat. “Ada sesuatu yang tidak bapak ketahui. Saya tidak bisa mengatakannya di sini.” Kembali ia berucap dengan wajah sekusut benang.
“Saya sudah tahu,” jawab saya tenang.
Ia terdiam. Menatap saya agak lama seolah tidak percaya. Saya biarkan demikian, barangkali ia sedang membaca pikiran saya, bahwa segala hal tentang anaknya yang menyusahkan itu bukan sebuah rahasia lagi. Bukan pula hal yang harus ditutup-tutupi lagi. Tentu ini berkaitan dengan kelancaran studi anaknya bila ingin berhasil dan lulus kelak dengan baik. Tapi anehnya, ia banyak berkilah.
“Itu lebih baik,” tambah saya.
“Lebih baik?”
“Ya.”
“Mengapa?”
“Karena begitulah hendaknya.”
Ia terdiam. Kali ini memandang saya aneh.
Tapi saya yakin ia mengerti bahwa kondisi anaknya yang berada di lain daerah itu tidak akan dapat belajar dengan baik. Bukankah begitu? Lihatlah anak-anak lain yang masih berada di sini saja banyak yang tidak peduli akan segala penugasan, apalagi anaknya yang jelas tidak barada di sini. Ini benar-benar tidak masuk akal.
“Bapak tidak mengerti semuanya,” ucapnya dingin.
Saya hanya tertawa. Saya ajak lagi ia mengucap istighfar. Sungguh ia memang sudah tampak aneh. Tidak lagi seperti perempuan biasa. Lihatlah, betapa lantang ia mengucapkan dengan kata-kata keras dan perasaan gusar kepada para guru yang menurutnya salah. Hingga jantungnya tampak menggelegak, membuat kepalanya berasap.
Saya hanya mengajaknya bersabar.
“Ini hanya ujian,” kata saya pelan dan tenang.
Aneh, kali ini matanya tidak lagi menusuk. Tapi ada gumpalan air yang kian menggenang. Ia tutup wajahnya dengan jilbab. Badannya kini telah berguncang dan kepalanya tertunduk. Ia tersedu-sedu.
Ia menyapu wajahnya yang telah basah oleh air mata itu. Saya tahu ia begitu terguncang, begitu tidak terkira penderitaan dari anaknya yang jauh itu. Bibirnya yang pucat tampak bergetar ingin berkata-kata kembali, namun tak terucap oleh deras air matanya yang tak terbendung. Ia terisak-isak, dengan hidung berair yang membuatnya sedikit sulit bernapas.
Saya membiarkannya tanpa berucap sekian menit. Setidaknya ia sedang meluapkan segala kepedihan melewati deru air mata itu. Tapi syukurlah ia menangis, setidaknya mampu sedikit memberikan leluasa kepalanya yang—menurutnya sendiri—selalu ingin pecah. Bayangkan, betapa sungguh-sungguh ia mengucapkan itu berkali-kali setiap menghadap saya. Bayangkan, betapa sekira segala ucapnya itu menjadi kenyataan! Saya tentu akan melihat secara langsung bagaimana kepalanya yang tiba-tiba pecah atau meledak seperti bom atau setidaknya seperti buah semangka yang hancur luluh setelah digilas ban! Sangatlah ngeri untuk membayangkan.
Ya, begitu saja semuanya terjadi pada perempuan rapuh ini. Hadir ke sini dengan segala kemaruk hati seperti semak belukar dalam rimbun ilalang. Pikirannya begitu keruh bagai pasang keling di pesisir Selatpanjang. Tubuhnya kering seolah pohon meranggas kurang siraman hujan. Sungguh betapa sengsaranya. Betapa sebenarnya saya kasihan melihatnya. Seorang perempuan yang hidup di tengah-tengah keterpurukan ekonomi juga tanpa laki-laki yang diharap dapat memberi curahan hati. Sebaliknya segala keguncangan hatinya selalu muncul dari beberapa orang anaknya yang tak henti-henti; kini anaknya itu yang masih di pulau seberang semakin meremukkan hatinya—hingga membuatnya makin tua.
Ia berusaha menghentikan tangisnya. Mencoba untuk berusaha berbicara. Ia mendongakkan lagi kepala, mencoba memandang saya. Matanya tidak lagi tajam, namun telah berubah seperti buah saga; merah kelat, seolah sangat sarat dengan beban yang telah tak mampu dipikulnya. Semakin dipejam mata itu semakin bertambah merah. Memang tidak lagi tajam, namun masih terasa seperti mempertahankan sesuatu.
“Bapak tidak akan paham…,” ucapnya dingin.
Saya hanya bergeming.
“Mungkin bisa kita bicarakan di luar.”
Ia sedikit kisruh dan kasak-kusuk membenahi diri. Menarik napas sambil masih berusaha membenahi pipinya yang belepotan sisa air mata. Ia tampak tidak ingin berbasa-basi lagi, seolah segala kata telah tuntas ia lepaskan. Ia tarik napas sekali lagi untuk mencoba bangkit dari kursi. Ia bangit dan berjalan lemah keluar ruangan ini.
Sampai ia menghilang dari balik pintu. Langkah kakinya terdengar menyedihkan. Begitu terasa beban batin yang, sangat mungkin, tidak terhingga untuk ditanggungnya. Saya hanya beristighfar dalam hati. Sungguh saya sangat merasakan bahwa ada berpuluh-puluh ton batu di punggungnya. ***
.
.
RIKI UTOMI, menghabiskan masa sekolahnya di Dabosingkep dan Daiklingga, Kepri. Buku terbarunya Menjaring Kata, Menyelam Makna (esai, 2021). Saat ini bekerja dan bermukim di Selatpanjang, Riau.
.
Mata yang Menusuk. Mata yang Menusuk. Mata yang Menusuk. Mata yang Menusuk.