Sajak-sajak D Zamawi Imron (Jawa Pos, 23 Oktober 2021)
MEMANJAT CAKRAWALA
.
Bagaimana membahasakan musik dan emosi
Kalau kau tak tahu tarian ombak
.
Jauh di timurnya timur
mengintai bisik matahari
.
Bersama derap layar yang patuh pada kemudi
Mau apa lagi? Kita memang nelayan
.
Halaman rumah kita adalah laut
yang gelombangnya menderap di sekujur nadi
.
Dipacu mantra dalam sujud
nenek moyang
.
Karena itu kita tersenyum dengan ketajaman mata elang
Untuk bersiap memanjat cakrawala
.
.
.
AKU PEMULUNG
.
Aku jadi pemulung
Bukan karena tak untung
Tapi lowongan lain memang tak ada
Tak teramat jelas
.
Aku ini mengalah atau memang kalah?
Membolak-balik tumpukan sampah
Seperti mencari mutiara dalam kebusukan
Karena makanan halal bagiku menyimpan
senyum Tuhan
.
Kalau ada yang bilang aku orang melarat
Silakan!
.
Itu tak berarti aku tak bahagia
Bahagia bukan luapan harta
.
Ia sepercik cahaya yang membuat
langkah napas menjadi luapan pesona
.
Aku tidak mencuri tidak merampok seperti koruptor
adalah karena hormatku kepada bangsa
dan kepada para pahlawan
yang mewariskan inti nyawa
Rasa hidup mulia dan mati dalam tebaran bunga
.
Dalam ukuran normal
Aku mengerti
Hidupku hina dan nista
.
Tapi di depan Tuhan,
Aku tak tahu jawabnya
.
Saat aku sembahyang di tepi selokan
Allahu Akbar
Aku tak perlu langit tak peduli bumi
Aku hanya sebutir debu
.
Alam sekitar menjadi tak ada
Yang ada tinggal Allah
Tiba-tiba aku merasa salat di Masjid Makkah
berjamaah bersama arwah orang-orang suci
.
Indonesia tetap tanah airku
Tetap akan bergetar dalam aliran darahku
dan di sela-sela kalimat doaku
.
.
.
SINDIR BURUNG BERKICAU
.
Burung berkicau di dahan-dahan
Langit makin biru
Mengabarkan kebahagiaan
.
Bendera di angkasa
Mengibarkan cinta dan kesetiaan
Hingga ricik air yang mengalir di sungai
tetap mengekalkan zikir
.
Dengarkan lagi getar lembut
kicauan burung
Agar kita tidak mengajak beramal saleh
dengan bahasa kebencian
.
.
.
D Zamawi Imron. Sastrawan dan Budayawan Madura.
.
Dengarkan lagi getar lembut kicauan burung. Agar kita tidak mengajak beramal.