BAGAI HUJAN

Puisi Mustofa W Hasyim & Ach Faroid (Koran Tempo, 07 November 2021)

BAGAI HUJAN

.

Bagai hujan

harapan melarutkan

kotoran jiwa

membasuh racun hati

memanggil cahaya

yang bersembunyi di balik batu

taman.

.

Bagai hujan

persahabatan meredam perang

menyejukkan ruang perundingan

mengawal perjalanan damai

menuju Ruang Pertemuan Agung

segala zaman.

/

Bagai hujan

tangis embun rindu

begitu banyak dan rapat

memunahkan segala kering

pada pecakapan

antar bayi-bayi

yang baru dilahirkan.

.

2021.

.

.

Mustofa W Hasyim, lahir dan tinggal di Yogyakarta. Buku puisinya antara lain Dompet dan Boneka: Sebuah Kitab Anomali dan Burung Itu Mengejarku.

.

.

.

SEBUAH DIALOG

: Untuk Harriet Tubman

.

Harriet,

Atas nama padi yang perutmu menyengkar

Demi rusuk setumpuk dahaga dan mata yang hilang cahaya

Aku bersumpah,

Setiap gemilang cahaya tumbuh permata

Dan dadamu tetap saja menyala.

.

Sepertinya, darahmu harum!

“Kau akan ku lahirkan kembali Harriet,

bersama Kessiah,

serta ku lepas bajumu, Araminta.”

Kata tanah Maryland dalam gorong-gorong yang gelap

.

Hutan curam.

Seperti lenggam, tebas rambai

Bahwa mataku setajam runjing

Matamu melebar seluruh semesta

.

Suatu pagi,

Dari jauh kulihat, Tuhan sedang duduk,

Menyeruput kopi,

Dalam sayap burung-burung di Philadelphia.

Seketika tanganku berbulu, bersayap

.

“Apakah aku bagian dari burung-burung itu?”

.

Tuhan hanya tersenyum, sambil menyeruput kopi lagi di tangannya.

.

Yogyakarta, 2021

.

.

Ach Faroid, lahir di Sumenep, Madura. Mahasiswa Universitas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini ia bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta.

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia