Dua Garis Merah

Cerpen Tri Aan Agustiansyah (Pontianak Post, 07 November 2021)

EMPAT September; besok pagi jadwalku bertemu Lisa, Epidemiolog Kesehatan Ahli dari Puskesmas yang membidangi surveilans. Perempuan manis berwajah oriental itu akan berkoordinasi dan mengajakku diskusi terkait tracing dan testing Covid 19 di masyarakat Tanjung Bakau Laut, kampung pesisir di kabupaten termuda dekat ibu kota provinsi. Seminggu terakhir terjadi peningkatan kasus harian Covid 19, telah masuk kategori level empat atau zona merah.

Minggu lalu Pak Pong atau kepala kampung meninggal di Rumah Sakit. Sebelumnya Pak Pong baru kembali dari Jakarta mengikuti kegiatan studi banding. Pak Pong yang menderita sakit memanggilku ke rumahnya. Aku pun datang, segera kuperiksa Pak Pong yang mengeluh demam, pilek, menggigil dan sesak napas. Saturasi oksigennya delapan puluh persen, jauh di bawah batas normal seharusnya di atas sembilan puluh lima persen.

“Pak Pong butuh bantuan oksigen,” kataku kepada keluarganya yang berkumpul di ruang tengah dan ruang tamu. Pak Pong kurujuk ke Puskesmas. Di unit gawat darurat Puskesmas ia langsung dipasangkan oksigen tipe kanula. Sebagai pasien baru masuk Pak Pong pun wajib menjalani screening Covid 19. Swab Test Antigen hasilnya Positif. Terdapat dua garis merah pada Antigen Test Kit.

Dia juga memiliki Comorbid. Bronkitis, yaitu radang pada saluran napas bagian bawah hingga ke paru. Pemeriksaan rontgen menunjukkan ada cairan di paru kiri, penyebabnya mungkin karena Pak Pong perokok berat.

Setelah dirawat dua hari keluhannya tak berkurang, kesadarannya menurun. Dokter memutuskan merujuk Pak Pong ke Intensive Care Unit Covid di Rumah Sakit milik pemerintah daerah di ibu kota Kabupaten.

Seminggu dirawat beliau meninggal, berstatus terkonfirmasi Covid 19. Pemulasaran jenazah mesti dengan protokol yang ketat. Pemakaman harus dilakukan oleh beberapa orang saja dengan baju putih berhelem kaca mirip astronot. Tak boleh dihadiri banyak orang. Itu sudah menjadi protokolnya.

Berita meninggalnya Pak Pong cepat tersebar melalui media sosial. Keluarga besarnya di Tanjung Bakau Laut bergegas menjemput jenazah di Rumah Sakit. Berkerumun tanpa menerapkan protokol kesehatan. Hanya beberapa orang saja yang bermasker. Mereka histeris atas kepergian orang yang sangat disegani di Tanjung Bakau Laut. Beberapa keluarga dekat tak terima jika pria berkumis tebal itu divonis Covid 19.

Mereka mengambil paksa jenazah di ruangan Instalasi Jenazah Rumah Sakit. Sempat terjadi adu mulut antara keluarga dan petugas, nyaris terjadi adu jotos. Petugas rumah sakit mengalah, keluarga dengan leluasa membawa jenazah dengan mobil pribadi langsung menuju Tanjung Bakau Laut. Jenazah Pak Pong disemayamkan tanpa menerapkan protokol yang seharusnya.

Sebagaimana kabar kematian Pak Pong, video tentang pengambilan paksa jenazahnya pun cepat tersebar di dunia maya. Satu stasiun televisi lokal juga memberitakannya. Kepolisian sigap turun tangan melakukan investigasi. Beberapa orang yang terlihat jelas di video mulai jemput paksa, dimintai keterangan. Mereka disangkakan melanggar beberapa pasal pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2008 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

***

Lima September; pagi sekali Lisa sudah datang. Sepeda motor plat merah yang biasa dipakainya telah parkir di depan Pustu, di bawah pohon akasia yang rindang. Aku yang baru saja datang langsung menghampirinya setelah lari pagi keliling kampung. Berolahraga sambil menyapa penduduk yang sebagian besar petani kelapa. Kebun kelapa di Tanjung Bakau Laut sangat luas. Saat pagi masyarakat beraktifitas di kebun kelapa. Ada yang memanjat, mengumpulkan buah, mengupas dan menjemur kopra di tanah lapang.

Lisa tersenyum manis melihatku. Berumur dua puluh satu tahun, gadis berambut panjang sebahu itu memiliki gelar sarjana kesehatan masyarakat jurusan epidemiologi dari kampus ternama milik Muhammadiyah di Pontianak. Pagi itu Lisa segar dan cantik, kulit putihnya bersih tanpa noda sedikitpun. Tinggi seratus lima puluh lima centimeter, tubuhnya bohay. Wajah dan bodinya mirip artis yang lagi nge-hits di sinetron Ikatan Cinta.

“Pagi benar sudah datang, Sa?” sapaku.

“Iya, Bang Arif. Kalau siang panas dan berdebu, ndak bagus untuk kulitku padahal perawatan kulit kan mahal, Bang,” candanya.

“Ya, ya! Aku tau itu. Ayo masuk, Sa. Tunggu di klinik ya, aku mandi dulu,” kataku sambil masuk ke Pustu yang menyatu dengan tempat tinggal.

Kubuka semua pintu dan jendela. Kupersilakan dia masuk ke ruangan klinik. Kutunjukkan buku hasil pendataanku terhadap orang-orang yang telah melakukan kontak erat dengan almarhum Pak Pong serta daftar nama-nama orang yang terlibat dalam penjemputan paksa, pemulasaran jenazah dan pemakaman.

Selepas mandi dan berpakaian rapi, kubuat mie instan rebus telur untuk sarapan. Kubuat pula secangkir cokelat panas sachet untuknya. Aku tahu ia belum sarapan pagi. Ia tak menolak kuajak sarapan seadanya. Pustu tempatku bertugas berjarak dua puluh kilometer dari Puskesmas induk kecamatan. Bisa ditempuh dengan jalan darat melewai kebun sawit yang luas milik perusahaan ternama, bisa juga melalui jalur air menggunakan speedboat atau kato.

Setelah sarapan, Lisa ke dapur. Mencuci piring bekas kami sarapan dan piring kotor lainnya yang sengaja kutumpuk karena kemalasanku. Lisa pun mau beres-beres Pustu. Setelah itu barulah kami mulai diskusi tentang rencana tracing dan testing, memutus mata rantai penyebaran Covid 19 di Tanjung Bakau Laut.

Aku membawanya ke kantor desa, berkoordinasi dengan Bang Sadik, Sekretaris Desa Tanjung Bakau. Tak lupa kami juga berkoordinasi dengan beberapa tokoh masyarakat yang kuanggap berpengaruh.

Setelah berdiskusi panjang, diputuskanlah kegiatan akan dilakukan esok hari. Pihak desa melalui ketua RT akan melakukan sosialisasi kepada warga yang telah terdata pada pemeriksaan. Tujuannya agar tak terjadi penolakan dan kegaduhan saat petugas datang. Puskesmas telah menyiapkan seratus Antigen Test Kit. Pukul setengah sepuluh kami berpisah, Lisa kembali ke Puskesmas induk.

***

Enam September; Lisa datang lagi, lebih awal dari kemarin. Dia menggunakan baju batik merah sebagai pakaian dinas Puskesmas. Wangi sekali! Aroma parfumnya tercium dari jarak lima meter.

Ia membawa nasi kuning dan ayam goreng krispi. Katanya, untuk kami sarapan bersama. Selama sarapan, entah berapa kali wajah manisnya selalu tersenyum kepadaku ketika kami saling bersitatap.

Setelah sarapan barulah kami ke balai desa, segera memulai aktivitas. Menggunakan tiga sepeda motor, kami mendatangi rumah warga yang telah terdata sebelumnya. Ditemani Bang Sadik dan Pak RT kami melakukan tracing dan testing. Kami tak memakai baju APD level tiga, seperti pakaian astronot itu agar tak menimbulkan ketakutan pada masyarakat.

Dengan pendekatan yang lebih humanis, tak ada masyarakat yang menolak diperiksa. Pemerintah Desa pun telah berjanji menyiapkan tempat isolasi terpusat di gedung pertemuan desa, gratis. Semua biaya ditanggung. Warga yang memilih isolasi mandiri di rumah pun boleh.

Puskesmas telah menyiapkan bantuan masker, hand sanitaser, dan multivitamin. Untuk yang bergejala, tak perlu datang berobat. Cukup menghubungi petugas kesehatan melalui RT setempat. Petugas kesehatan akan mendatangi rumah siapa saja yang membutuhkan pengobatan.

Dari hasil tracing dan testing, didapati lima puluh warga Tanjung Bakau Laut Positif Covid 19. Sepuluh orang bergejala, hilang penciuman. Tak ada yang memiliki gejala berat, semuanya memutuskan isolasi mandiri di rumah.

Pemerintah Desa segera membuat posko bantuan dan dapur umum untuk warga yang menjalani isolasi mandiri. Setiap hari masyarakat yang menjalani isolasi mandiri wajib absen di WAG yang telah dibuat. Semua masyarakat berjanji akan protokol kesehatan jika berkunjung ke tempat umum.

Aku senang tak ada kendala berarti, penanganan pandemi di Desa Tanjung Bakau Laut berjalan sesuai rencana. Kasus yang menimpa orang-orang yang terlibat pengambilan paksa jenazah Pak Pong sudah cukup menjadi pelajaran. Tak ada lagi masyarakat di Tanjung Bakau Laut yang tak percaya Covid 19.

Rasa senangku jadi bertambah-tambah saat mengetahui Lisa diperbantukan selama satu bulan di Pustu tempatku bertugas. Lisa harus melakukan pemantauan kasus harian Covid 19 bersamaku. Bersyukur aku bisa lebih dekat dengannya.

Waktu sebulan cukuplah untukku mengambil hatinya karena hadirnya sekeping rasa yang menggetarkan jiwa. Aih, Lisa! ***

.

.

Pontianak, 6 September 2021

.

Dua Garis Merah. Dua Garis Merah. Dua Garis Merah.

Arsip Cerpen di Indonesia