Cerpen Endang S Sulistiya (Kedaulatan Rakyat, 12 November 2021)
MENDUNG datang dengan cepat. Hujan menderas dalam sekelebat. Bu Marinah tergopoh-gopoh menuju belakang rumah. Terilhami jemurannya yang belum diangkat.
Terlambat sudah. Seperempat jemuran bajunya telah dibabat kuyup. Begitu pun dengan tubuh dan pakaian Bu Marinah yang turut dipeluk basah. Menghindari sakit, lekas-lekas ia bersalin. Sebelum putrinya Santi menerbitkan protes panjang, lebar, hingga meluas.
Mengikuti instingnya sendiri, ia seduh teh dalam poci. Sementara Santi sukarela menawarkan diri menggoreng nasi kering. Sungguh, itu camilan murah meriah yang akan membuat gigi-gigi meloncat dengan gairah. Keriuk yang pas sehingga sebaskom kecil lekas tandas.
Menunggu cengkaruk matang, Bu Marinah hendak menutup gorden selepas menyalakan lampu teras. Apalagi suasana di luar telah menggelap. Namun sesampainya di jendela, Bu Marinah justru terdiam. Tak bergerak, tidak juga beranjak. Bahkan gorden tak kunjung terjamah. Seperti ada sesuatu di luar sana yang membuatnya terpana.
“Ada apa, Bu?” tanya Santi kebingungan.
“Cengkaruknya sudah siap ini, Bu,” imbuh Santi berupaya mencuri perhatian ibunya. Tak mendapat respons, Santi menghampiri ibunya.
“Kasihan, pasti dingin di luar. Apa kita suruh masuk saja ya?” ucap Bu Marinah kalut.
“Duh, jangan sembarangan begitu, Bu. Kita harus waspada.” Santi memperingatkan. Santi hafal benar tentang watak ibunya yang gampang tersentuh. Sebab itu tak mengherankan ibunya pasti menangis tiap menyaksikan sinetron yang alurnya dramatis.
Parahnya, ibunya beberapa kali dimanfaatkan sampai kena tipu orang lantaran kelembutan hatinya itu. Meski begitu, ibunya yang naif terus saja menganggap setiap orang itu dasarnya adalah orang baik. Hanya saja karena terdesak keadaan, seseorang terpaksa meminggirkan sementara sifat baiknya.
“Kalau seperti ini, Ibu jadi teringat almarhum bapakmu. Sore-sore seperti ini merupakan jam pulang bapakmu dari kantor. Kalauhujan, bapakmu juga berteduh di mana saja. Sedapatnya.”
“Berarti seharusnya Ibu masih mengingat kejadian sewaktu uang gaji Bapak dijambret sewaktu berteduh di teras rumah orang. Empunya rumah yang sama sekali tidak mengulurkan pertolongan selain terus-menerus berucap agar bapak ikhlas,” tukas Santi terbawa jengkel kala mengingat tindak kejahatan yang menimpa bapaknya dahulu. Pula kesal kepada empunya rumah yang membiarkan kejahatan terjadi. Gemasnya lagi, empunya rumah masih sok menasihati.
“Kejahatan orang lain tidak sepatutnya menjadikan kita enggan berbuat kebaikan. Begitu pun ketidakpedulian orang lain, tidak semestinya membuat empati kita redup, San.”
Bu Marinah beranjak menuju meja makan. Ia mengucurkan teh hangat dari poci ke cangkir. Ia kemudian menumpahkan sebagian cengkaruk dalam baskom ke stoples kecil. Lalu keduanya diangkut dengan baki.
“Eh, mau Ibu bawa ke mana itu?” Kalimat Santi menghentikan langkah kaki ibunya.
“Mau Ibu tawarkan ke orang yang berteduh itu. Semoga saja bisa sedikit menghangatkan badannya,” sahut Ibu menyambung langkahnya.
“Sebentar! Tunggu dahulu, Bu. Bolu pandan yang Santi kukus sebentar lagi matang,” Santi melontarkan permintaan sekaligus bergegas menuju dapur. Mengangkat bolu pandannya kemudian mengiris-irisnya.
Tak berselang lama, ia menjajari langkah ibunya. Menawarkan sekedar pereda hawa dingin kepada seorang bapak tua yang berteduh di teras rumah mereka. ***
.
.
Endang Sri Sulistiya, menetap di Boyolali, Alumnus FISIP UNS jurusan Administrasi Negara, tergabung dalam Grup Diskusi Sahabat Inspirasi.
.
.