Puisi-puisi Irzi (Koran Tempo, 21 November 2021)
ASAYAKE
: Afrizal Malna
.
Bintit di mata terbit
Di Timur Jauh, cintaku
Melawan arah kocokan gitar ikonik Issei Noro
.
Sedangkan di New-York, kota
Yang amat kau benci itu
Sibuk mendayung sampan sendirian ke pulau Manhattan
.
Tetapi jangan kau khawatirkan itu, cintaku
Belum ada hati yang remuk
Paling cuma sumuk sedikit di kedua ketiak
.
Asalkan kata sayang yang kau utarakan
Kemarin malam di Tokyo kala mabuk 3 gelas sake
Masih mengawang di langit kamar Kabukicho Love Hotel
Berarti: belum saatnya aku pamit, lalu seppuku
.
Sebab aku malu cintaku, selulit di perut buncit ini
Mencegah nalar agar tetap tegar segar—serta tak lupa mengingatkan Hachiko—anjing kesayanganmu, sudi menunggu di luar stasiun Shinjuku
.
Tetapi aku kok tetiba ingat penyair Afrizal, cintaku.
Proposalnya itu loh—perihal minum racun massal di Berlin
.
Ternyata ditolak mentah-mentah oleh arwah penyair Rilke
Dan lagipula beliau lebih dulu membuat Elegi Duino
.
Sebelum menulis surat-surat pada penyair muda yang siap
24 jam lamanya bergelut dengan penyiar tua dari negeri kopi sianida
—ala-ala la long yang paru-parunya bolong stadium tiga
Akibat disundut puntung Marlboro bekas Akira Jimbo
.
Matahari terbit
Di barat, cintaku
Pertanda kiamat sudah dekat!
—“Ganti kanal televisi aja cintaku, ngeri banget nih aku”.
.
2021
.
.
.
PUISI CINTA SEORANG ULAMA KEPADA ALMARHUMAH ISTRINYA YANG NYARIS JADI—SEGALA HAL
: Lora M. Faizi
.
Bagaimana aku bisa melupakanmu? Atau bahkan lebih baik
—Aku telah melupakanmu. Merayakan
.
Namamu yang tak lagi ada di lidahku
Tetapi larut seperti gula dalam limun yang kuminum.
.
Bulan telah menghaluskan batu nisan. Matahari telah
Mengeringkan hujan. Tidak ada tanda-tanda keberadaanmu.
.
Ah, kesedihan dari duduk sendirian di tepi ranjang tidur tanpa tangan
di pundakmu yang bukan lagi milikmu.
.
Bulan tak lagi menemukanmu. Mereka tak lagi melihat. Napas yang kamu ambil adalah angin sepoi-sepoi yang mendorong air sampai ke dasar batu.
.
Bayangan beringin adalah kerindangan yang tak bisa lagi kamu dapatkan, namun ketika aku duduk di sini, itu ada, bersamamu.
.
Apakah kamu jadi bunga kemboja ? Apakah itu wangi dirimu?
Katakan padaku
.
Ketika aku melihat ke air, ke garis cakrawala yang goyah, apakah itu ranjang tempatmu berbaring, berjemur di batu besar di sana, rehat sejenak?
.
Kamu sungguh tak ada—ya, dan di mana-mana.
Tetapi ada—pada akhirnya.
.
2021
.
.
.
Irzi. Lahir di Jakarta, 13 November 1985. Puisi-puisinya dimuat di sejumlah media dan antologi bersama. Buku puisinya Ruang Bicara (2019). Ia bergiat di komunitas daring Kelas Puisi Bekasi (KPB) dan Komunitas Budaya Betawi Kita.
.
ASAYAKE.