Purnama Merindu

Cerpen Khalil El Rachman (Fajar Makassar, 28 November 2021)

IA Manusia yang aneh. Manusia yang selalu menangisi bulan kelima belas. Setiap purnama bersandar pada pundak malam, ia tak pernah alpa dengan ritual sunyinya, ia akan datang ke suatu tempat, menabur bunga sembari melangitkan rindu. Anehnya lagi, laki-laki itu tak pernah lagi jatuh cinta.

***

Minggu pertama, Landscape pantai sore hanya datang memberi harapan palsu, tak ada spot foto pun yang bagus, padahal banyak duri yang menghujamiku hari ini. Mulai dari nilai kuliah yang error, uang SPP yang ternyata belum cukup tapi sudah mau deadline, cicilan motor juga sudah menagih. Ditambah lagi dengan senja sore ini yang kuharapkan dapat menyeka jiwaku yang nelangsa dan mencabut segala sembilu dalam dada malah ikut-ikutan megutukku. Bulan purnama malam ini setidaknya menjadi penawar segala keluhku hari ini.

Aku kemudian kembali memandangi isi kameraku yang belum sempat kuhapus, memang tak ada satu pun yang menarik, namun ada satu bagian yang sejenak membuat waktu berhenti, mataku yang kemudian berusaha menangkap setiap puzzle secara sempurna. Setelah aku zoom baswara rupa jelita yang binarnya menjelajah angkasa ruang, manis dan sederhana sedang mengukir senyum di garis bibirnya.

Baru kali ini mataku terpedaya oleh sebuah sketsa rupa jelita, hatiku yang kemudian bersujud pasrah. Seketika itu juga seluruh sembilu yang membuatku nelangsa tiba-tiba hilang entah kemana, potret itu telah menenggelamkanku dengan tujuan hidup yang baru.

***

Minggu kedua, Senja adalah lukisan terindah dari Tuhan yang selalu diperlihatkannya padaku agar aku tidak bosan menunggu datangnya malam, seperti dirinya yang selalu akan datang dengan segenggam senyum di bibirnya kepada semua orang. Ia gadis istimewa hingga berhari-hari pun semua orang akan rela dan pasrah berbicara dengannya. Kali ini ia akan sampai di tempatku. Lama-kelamaan jantungku sudah mulai jadi bom yang siap meledak di detik terakhirnya, detik saat aku pertama kali berpapasan wajah.

“Kak, minumannya.”

“Oh iya namanya siapa, Dek? Rajin banget jualan di sini.”

“Oh namaku, lihatlah sunset di sore ini dan kamu akan temukan aku dalam sepertiga malammu.”

“Indah kan?”

“Lah kok tahu, Kak?”

Nur Indah anak dari desa beringin, tinggal dan hidup sendiri. Ayah dan ibunya hanya menitipkannya di pesantren kemudian benar-benar meninggalkannya sendiri. Selalu rangking satu. Pernah juara dalam berbagai lomba, tapi sayang tidak melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomi. Belum tahu dia rupanya sedang berhadapan dengan seorang stalker sejati.

“Oh iya dek kamu juga suka sunset ya? Sampai-sampai mau tau namamu mesti melihat sunset dulu.”

“Iyalah, Kak, siapa sih yang nggak suka sunset.”

***

Minggu ketiga, Gelap kemudian datang menjemput malam, seperti dua minggu sebelumnya tak ada sunset sore ini.

“Loh kok belum pulang, Kak?”

“Iya nih nunggu sunset untuk menghilangkan segala penat, tapi kok nggak datang-datang.”

“Kalau sedang ada masalah, jangan bersandar pada sunset, senja atau apapun namanya, Kak, tapi bersandarlah kepada pemiliknya, langitkan doa padanya.”

Hatiku kemudian terenyuh, Masyaallah, ini saja ya Allah, sudah cantik, madiri, salehah lagi.

“Bukan Sholehah kak, tapi berusaha salehah,” ucapnya padaku kemudian.

“Loh kok,” mataku terbelalak, tapi ah mustahil ia tahu isi hatiku dan menurutku itu cuma kebetulan.

“Ets… Kak jangan pandangi Indah terus, nanti bisa jatuh cinta loh.” Tegurnya sambil menepuk-nepuk tangan, menyadarkanku dari waktu yang berhenti lumayan lama di wajahnya.

Mendengar ucapannya, aku tak bisa mengucap apa-apa selain pikiranku yang piknik ke negeri kayangan, memutar film antara dua sepasang kekasih yang hanya tinggal berdua, pikiran yang membuat hatiku bertanya-tanya ‘Cintakah dia padaku.’ Sangat susah menebaknya karena semua orang ia perlakukan sama. Sampai rumah aku terus terngiang-ngiang ucapannya.

“Ah tidak mungkin.”

***

Minggu keempat ia datang dengan segudang candaannya lagi, tanpa pikir panjang kuungkapkan perasasanku padanya, kabar baiknya ia membalas dengan begitu cepat, secepat rusaknya negeri kayanganku.

“Maaf, Kak, aku belum sampai ke sana, lagian jangan jatuh cinta padaku, Kak!”

“Kenapa emangnya?” Kuberanikan diri untuk menanyakan alasannnya, tetapi ia tak menjawab.

***

Minggu kelima, pantai semakin ramai, seperti biasa aku datang ke pantai hanya untuk mendengarkan perempuan itu berceramah, aku disuruh rajin salatlah, mengaji, bantu orang tua, tahajjud, pokoknya semua yang baik. Walaupun kebanyakan yang aku ingat hanya sketsa wajahnya lengkap dengan photo prawedding dan ijab kabul di depan penghulu sambil menimang anak sampai menimang cucu eh, nampaknya aku sudah tidak waras lagi. Entah mengapa aku bisa menyukainya padahal kalau wajahnya sih sangat cantik, oh iya wajar ya kalau aku suka padanya. Bukan kok bukan itu yang membuatku jatuh cinta padanya, tapi karena ia selalu menyemangatiku, ia hadir disaat aku dicampakkan oleh dunia, kemudian ia datang menjelma menjadi oase di tengah padang pasir, tapi lama-kelamaan ia hanya menjadi fatamorgana sampai detik ini aku sedang berada di segitiga bermuda.

***

Minggu keenam, Malam ini aku memandangi bulan yang cahayanya begitu indah seindah dirinya, baru kali ini aku alpa bertemu dengannya. Malam ini aku ikhlaskan hatiku untuk mencintainya meskipun tak berbalas.

Pukul dua belas malam saat mataku masih bisa melihat, namun sudah agak meraba-raba, tiba-tiba tanah di bawahku marah besar, menggoyangkanku ke sana-kemari. Segera semua orang berhamburan keluar rumah.

“Indah….” mulutku yang tiba-tiba berucap memanggil namanya.

Segera kutancap gas menuju kota. Di tengah perjalanan sebelum aku sampai di tepi pantai, air laut telah menyentuh kulitku. Laut begitu ganas malam ini, ia tak memiliki ampun sama sekali. Aku sama sekali tidak menemukan jasadnya sampai detik ini.

Hari ini aku sama sekali tak menyangka akan menjadi seorang pembunuh berdarah dingin, hanya sesal yang mengendap dalam jiwaku, hatiku yang terus merapal sukma,

“Andai saja aku ada di saat semua ini terjadi.” ***

.

.

KHALIL EL RACHMAN merupakan Ketua FLP UIT Makassar.

.

Purnama Merindu. Purnama Merindu. Purnama Merindu. Purnama Merindu.

Arsip Cerpen di Indonesia