Cerpen Midadwathief (Radar Banyuwangi, 04 Desember 2021)
TAKDIR tidak dapat dipesan. Mereka tidak pernah menyangka akan bertemu kembali. Di tempat mereka terakhir kali berjumpa, takdir sekali lagi menuntun mereka untuk bersua.
Andi tidak dapat mengalihkan tatapan matanya dari Dinda yang berdiri sejauh empat meter darinya. Begitu juga dengan Dinda yang terdiam dan terpaku menatap Andi. Meskipun Stasiun Lempuyangan riuh oleh suara orang-orang berlalu-lalang, keheningan tiba-tiba memeluk pikiran mereka, menghentikan putaran waktu.
Pikiran Andi dan Dinda melayang ke sebuah memori tiga tahun silam, hari di mana mereka berdua terakhir kali bertemu di tempat yang sama, dengan keriuhan yang sama, dan lengkingan panjang suara kereta api yang juga sama.
“Apa alasan sebenarnya kau melakukan itu?” tanya Dinda.
Andi hanya menjawab dengan pandangan tertunduk. Sementara kereta api Sri Tanjung yang akan dinaikinya hendak berangkat sesaat lagi.
***
“Permisi, saya nomor 12 A.” Sembari menunjukkan tiket, Andi meminta ruang kepada seorang gadis muda yang duduk di kursi 12 B kereta api Bima jurusan Yogyakarta- Jakarta.
“Ah, iya. Silakan.” Gadis muda bermasker itu tampak tidak siap didatangi oleh seseorang. Namun, ia segera bertindak cepat dengan memberi ruang yang cukup untuk Andi lewati.
Setelah meletakkan koper dan tas di bagasi atas, Andi menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia berharap dapat tidur lebih cepat. Hari sudah malam, sementara perjalanan masih panjang. Dari jendela kereta, ia melihat tempias lampu di luar bersahutan-sahutan.
“Masnya mau ke Jakarta?” Pertanyaan gadis itu membuyarkan lamunan sekaligus rasa kantuk yang mulai menggelayuti Andi.
“Iya. Sebenarnya tujuan saya Depok, tapi turun di Stasiun Gambir,” tukas Andi dengan cepat. “Mbak juga ke Jakarta? Atau…”
“Iya. Sebenarnya tujuan saya Bekasi…,” potong gadis itu.
“Tapi turun di Stasiun Gambir…,” sahut Andi. Kali ini ia balas memotong ucapan gadis itu. Mata si gadis menyipit malu.
Gadis itu membuka masker yang menutupi separuh wajahnya. Sembari tersenyum, ia sedikit mengibaskan rambut panjangnya yang bergelombang. “Namaku Dinda. Salam kenal, Andi.”
Andi terhenyak. “Bagaimana kau tahu namaku?”
Dinda tersenyum tipis, “Kata Sherlock Holmes, banyak orang yang mampu melihat, tapi hanya sedikit orang yang mampu memperhatikan. Saat kau menunjukkan tiketmu tadi, aku memperhatikan dan membaca namamu. Aku tidak memperhatikan yang lain selain namamu. Sebab semua informasi dalam tiketmu, hanya nama dan nomor kartu tanda pengenalmu yang tidak kuketahui. Selain itu, aku tahu semua. Karena aku sedang berada di dalam kereta yang sama denganmu. Baiklah, mungkin aku pada awalnya tidak tahu di mana tempatmu duduk. Tapi rupanya kau datang kemari dan memberikan informasi itu secara gratis kepadaku.”
Andi tersenyum. Diam-diam ia mulai mengagumi Dinda. Entah karena apa. Barangkali rambut panjang bergelombangnya. Mungkin juga cara Dinda berbicara yang blak-blakan. Atau senyum tipisnya yang memesona. Ah, itu senyum perempuan paling manis yang pernah Andi temui.
“Baiklah. Aku kalah,” kata Andi sembari mengangkat tangan. “Satu kosong. Permulaan yang tidak buruk bagi seorang gadis muda yang melakukan perjalanan jauh seorang diri sepertimu.”
Dinda tersenyum penuh kemenangan. Bagaimanapun, pujian seorang lelaki selalu meninggalkan jejak di dalam hati seorang gadis. Diam-diam, Dinda juga terkesan kepada Andi. Tapi ia perempuan. Ia lebih pandai menyembunyikan perasaan ketimbang lelaki mana pun.
“Kau mulai menyukaiku, Andi?” tanya Dinda.
Andi sedikit salah tingkah dengan pertanyaan menohok yang tiba-tiba dilontarkan Dinda. “Su-ka? Kepadamu? A-ku?” jawabnya, terbata.
“Aku seorang detektif, Andi. Aku sudah memberimu sedikit teaser tentang kemampuanku. Asal kau tahu saja, aku juga mempunyai kemampuan tajam untuk menganalisis perasaan seseorang. Jangan coba-coba berbohong di hadapanku, ya.” Dinda menggerak-gerakkan jari telunjuknya di hadapan Andi sembari, sekali lagi, melepaskan senyum tipis yang manis.
“Oke, Ibu Detektif. Aku kalah lagi,” kata Andi sembari menghela napas.
“Hitung skornya!”
“Siap. Dua kosong,” jawab Andi. “Baiklah, aku akan jujur bahwa aku mulai terkesan kepadamu. Bahwa aku mulai tertarik dan tersanjung kepadamu. Ada semacam lindu atau guncangan kecil di dalam tubuhku yang tiba-tiba merusak ritme detak jantungku saat aku melihatmu…”
“Laki-laki…,” potong Dinda, “Selalu saja berbelit-belit dan tidak berterus terang.”
“Ya, ya, ya. Aku jatuh cinta kepadamu, Dinda,” ucap Andi sembari membuang muka ke jendela, menyembunyikan rona merah di mukanya. “Tapi, apa kau juga mencintaiku?”
“Ya.” Dinda menjawab dengan singkat. Andi mengalihkan pandangannya ke arah Dinda.
“Sungguh?” Andi mencoba meyakinkan.
“Iya. Aku adalah salah satu orang yang percaya bahwa cinta bukan soal waktu. Cinta, dengan caranya sendiri, dapat datang dan pergi dengan tiba-tiba. Cinta adalah momentum. Jika kau kehilangan momentum itu, akan susah bagimu untuk menemukannya kembali. Dan aku tidak akan melewatkannya kali ini,” jelas Dinda.
***
Sejak pertemuan yang ‘diatur’ oleh kereta api itulah, Andi dan Dinda mulai saling mencintai. Andi asli Banyuwangi, sementara Dinda adalah gadis Ibu Kota. Keduanya kuliah di Yogyakarta. Meski berbeda kampus, keduanya kerap membuat janji untuk bertemu. Sebab kata Dinda, cinta akan layu jika tidak dipupuk oleh perjumpaan.
Andi mendaku dirinya sebagai seorang pakar pengepul senyum dan ia selalu memuji Dinda sebagai seorang wanita pemilik senyum termanis di dunia. Dinda selalu mengaku sebagai detektif dan ia sering berkata bahwa ia tidak akan pernah gagal mengatasi kerumitan yang mungkin timbul dalam hubungan mereka berdua.
Tanpa terasa, pertautan hati keduanya telah memasuki tahun keempat. Hari ini Dinda wisuda. Setelah perayaan wisuda, Andi memintanya untuk datang ke Stasiun Lempuyangan. Ketika Dinda bertanya apakah Andi akan memberinya kejutan, Andi hanya menjawab singkat: datang saja.
“Selamat atas wisudamu, Dinda. Kelak mungkin kau benar-benar akan menjadi seorang detektif. Namun bagiku, kau adalah stasiun dan aku adalah kereta. Dan hari ini aku harus setuju dengan ucapan Marianne Williamson, ‘Jika kereta tidak berhenti di stasiunmu, maka itu bukan keretamu’. Dan aku, Dinda, rupanya bukan keretamu,” ucap Andi di tengah riuh calon penumpang kereta api di Lempuyangan.
Dinda memperhatikan Andi. Ia paham sekali bahwa Andi sedang tidak berbohong. “Kenapa, Andi? Katakan apa yang sedang terjadi! Jangan membuatku seperti ini…”
“Maafkan aku, Dinda.” Andi berlalu tepat setelah pengeras suara mengumumkan bahwa kereta api Sri Tanjung jurusan Yogyakarta-Banyuwangi akan berangkat sesaat lagi. Ia pergi begitu saja. Naik ke atas kereta. Dari luar, Dinda hanya melihat siluet lelaki yang dicintainya lenyap perlahan bersama lengkingan bel kereta api.
***
Di Lempuyangan, setelah tiga tahun berpisah, Andi dan Dinda kembali bertemu. Seperti perjumpaan mereka pertama kali, pertemuan kali ini tidak pernah mereka rencanakan.
“Apa alasan sebenarnya kau melakukan itu?” tanya Dinda untuk kedua kalinya.
“Aku menikah. Tepatnya, dinikahkan oleh wanita pilihan ayahku,” suara Andi terdengar serak dan berat. “Kau masih ingat ucapanku bahwa aku adalah kereta api dan kau stasiun? Barangkali kereta api telah jatuh cinta kepada stasiun, tapi kau tentu tahu, kereta api selalu pergi dan tak pernah menganggap stasiun sebagai tujuan terakhir.”
“Kenapa kau tidak berbicara tentang hal itu kepadaku? Kenapa kau tega membiarkanku melewatkan tiga puluh enam purnama tanpa pernah sekalipun tersenyum…,” air mata Dinda jatuh.
“Maafkan aku, Dinda. Sebagai kereta api, aku bukan apa-apa tanpa masinis,” jawab Andi, lirih.
Hari itu Dinda menyadari, bahwa menjadi detektif tak pernah membuatnya mampu untuk menerawang takdir. ***
.
.
Midadwathief, lahir di Banyuwangi. Aktif menulis puisi, cerpen, dan esai sejak SMA. Beberapa tulisannya pernah dimuat di berbagai media, baik cetak maupun digital. Ia juga menulis beberapa antologi cerpen. Novelnya yang berjudul Pasir yang Sama akan terbit tahun ini.
.
Stasiun Terakhir. Stasiun Terakhir. Stasiun Terakhir. Stasiun Terakhir.