Cerpen Finka Novitasari (Pontianak Post, 05 Desember 2021)
RUWET memutuskan untuk berhenti berjualan. Padahal hanya dengan itu ia bisa menyambung hidup. Anaknya, Rohali, sudah waktunya untuk membayar uang sekolah. Maemunah, istrinya juga sudah berkali-kali ditagih atas utang-utangnya di warung. Lebih-lebih setiap hari perut anggota keluarganya harus tetap diisi.
Saban hari Maemunah ketar-ketir. Ia hanya bisa menelan ludah, tenggorokannya terasa getir. Maemunah juga tidak habis pikir, bagaimana mungkin suaminya memutuskan untuk berhenti bekerja, sementara beras tinggal seliter, gas habis, listrik nunggak, dan Rohali butuh biaya untuk sekolah?
***
“Kau ini seorang pembunuh. Pembunuh berdarah dingin tepatnya.”
Demikianlah bualan Bajul tempo lalu yang membuat Ruwet memutuskan untuk berhenti berjualan. Lelaki berkulit legam itu memang pandai membual. Ia sering memengaruhi orang-orang dengan ucapannya. Bajul juga gemar menasihati dan terlihat bijaksana. Akan tetapi, ya, Bajul tetaplah Bajul. Si pembual itu.
Pertemuan Ruwet dan Bajul bermula saat bersama-sama ngopi di warung Mak Wiji. Parjo sedang bersama Bajul dan menyapa Ruwet yang duduk sendirian. Ruwet pun diperkenalkan dengan Bajul oleh Parjo.
“Wet, perkenalkan ini Bajul, kawanku,” Parjo membetulkan posisi duduknya, “Dia ini penasihat di RT kita. Barangkali kamu belum mengenalnya.”
Bajul menyeruput kopi hitam yang baru saja disajikan Mak Wiji. Manggut-manggut setelahnya dan berbangga hati atas pujiannya.
Mentari sedikit bergeser dan bayang-bayang mulai memanjang. Sementara kopi berkurang setelah beberapa kali ditenggak. Di sisi lain, Bajul diam-diam menamati wajah Ruwet.
“Kau ini sehari-hari berjualan obat pembasmi semut, bukan?” Bajul membuka obrolan.
Ruwet terperangah. Membalas tatapan Bajul dengan heran dan ia membatin: dari mana orang yang baru saja dikenalnya beberapa menit yang lalu itu tahu akan pekerjaannya? Bajul terus menatap Ruwet dengan penuh selidik. Lalu menerka-nerka seolah orang yang berilmu tinggi dan tahu segalanya. Ruwet risi ditatap Bajul seperti itu. Sejurus dengan tatapan misteriusnya, Bajul berbicara lagi.
“Berarti kau ini seorang pembunuh,” Bajul manggut-manggut. Melirik Ruwet sekilas, lalu tersenyum menyeringai, “Pembunuh berdarah dingin tepatnya.”
Mendadak Ruwet tercekat. Bibirnya tergagap dan matanya memelotot tajam. Mencoba mencerna ujaran Bajul tentang dirinya. Tentunya ia tidak terima bila dikatakan sebagai pembunuh berdarah dingin.
“Apa maksudmu!” Ruwet sedikit menaikkan nada bicaranya. Wajahnya memerah.
“Tenang sebentar, Sobat. Jangan marah-marah dulu, biarkan aku menyelesaikan ucapanku,” Bajul berusaha bersikap bijaksana.
Ruwet menahan kecamuk di dadanya.
“Pekerjaanmu selama ini telah melanggar hak hidup seekor makhluk,” Bajul menjeda ucapannya. Menyeruput kopi lalu berdeham yang dibuat-buat. “Coba pikirkan, kau selama ini menjual racun pembasmi semut. Apakah kau tidak memikirkan bagaimana nasib jutaan semut yang mati akibat obat yang kau jual itu? Semut juga memiliki hak untuk hidup. Tapi kau malah menjadi perantara atas kematiannya.”
Ruwet bergeming. Hatinya sedikit melunak dari yang semula penuh amarah. Sedangkan Bajul tetap berlagak mengetahui segalanya, dan Parjo hanya sebagai mustamik saja. Ada sedikit rasa penyesalan yang dirasakan Parjo karena telah mengenalkan Bajul kepada Ruwet. Sudah pasti Ruwet yang notabenenya pendiam dan sedikit tertutup itu akan jadi objek bualan Bajul.
“Raga semut-semut yang mati akibat racun pembasmi semut yang kau jual itu, memang sudah tiada. Namun, rohnya masih tetap ada dan gentayangan ke sana ke mari. Mereka tentunya menyimpan dendam kepadamu,” Bajul berbicara penuh keyakinan, “Belum lagi semut-semut yang masih hidup, pastinya merasakan kesedihan akibat ditinggal mati oleh keluarganya. Lalu, apakah salah bila aku menyebutmu sebagai pembunuh berdarah dingin?” imbuhnya.
Ruwet semakin kacau. Pikirannya mulai terpengaruh dengan ucapan Bajul. Bibirnya bergetar. Membayangkan jutaan roh semut akan menghantuinya. Apalagi sudah puluhan tahun ia berjualan racun pembasmi semut. Tentunya juga sudah jutaan semut mati akibat racun pembasmi semut yang dijualnya.
Sementara matahari semakin menjauh ke ufuk Barat. Dersik angin perlahan merembes ke pori-pori. Namun, tetap saja tak mampu mendinginkan pikiran Ruwet yang sudah terlanjur kalut.
“Bagaimana mungkin roh semut yang sudah mati bisa gentayangan?” Ruwet mencoba menampik ujaran Bajul.
Belum sempat Bajul menanggapi ucapan Ruwet, Parjo lebih dulu nimbrung, “Sudah-sudah, jangan dilanjutkan.”
Namun, Bajul belum mau mengakhiri bualannya, “Kalau tidak percaya, coba tanyakan saja pada Ustaz Rosid, kalau di agama kita dilarang untuk membunuh semut,” Bajul memperhalus kata-katanya dengan membawa dalil, seolah-olah orang yang tahu segala hal dengan berlindung di balik nama ‘Ustaz Rosid’—pimpinan pondok pesantren di kampung sebelah.
Bajul menghabiskan kopinya hingga ke ampas-ampasnya pun ia tenggak. Lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Bahkan, kata seorang ulama besar, bilamana kita melihat semut terpeleset dan jatuh ke dalam air, sebaiknya diangkat dan ditolong. Barangkali itu penyebab ampunan bagimu di akhirat.”
Bajul beranjak meninggalkan Ruwet dan Parjo. Namun, baru dua langkah berjalan, Bajul berhenti. Kemudian, membalikkan badannya. Sepertinya ada yang terlupa.
“Oh ya satu lagi, segala hal di dunia ini, pasti akan mendapat pertanggungjawabannya sendiri-sendiri.”
Usai berbicara, Bajul melanjutkan langkahnya untuk pergi. Sementara Parjo merasa tidak enak hati dengan Ruwet karena sudah mengenalkan Ruwet dengan Parjo.
“Tidak usah dipikirkan. Dia itu memang pandai membual,” Parjo menenangkan.
Tetapi Ruwet sudah telanjur dirundung gelisah. Bagaimana kalau surga dan neraka itu benar adanya? Lalu, semua makhluk akan mendapatkan balasannya sendiri-sendiri atas perbuatan semasa hidupnya? Meski Ruwet tidak begitu mafhum perihal agama, tetapi ceramah agama saat pengajian setahun sekali di kampungnya, samar-samar masih melekat dalam ingatannya.
Setiap hari Ruwet terus memikirkan ucapan Bajul tempo lalu: Raga semut-semut yang mati akibat racun pembasmi semut yang kau jual itu, memang sudah tiada. Namun, rohnya masih tetap ada dan gentayangan ke sana ke mari. Mereka tentunya menyimpan dendam kepadamu.
***
Dua bulan kemudian, kondisi Ruwet semakin tidak karuan. Perasaan bersalahnya benar-benar membuat jiwanya terguncang. Setiap hari ia berjalan tanpa arah. Tujuannya hanya satu: mencari keberadaan semut, barangkali ada yang membutuhkan bantuannya. Ruwet teringat bagaimana kata ulama besar yang pernah dikatakan Bajul tempo lalu: Bilamana kita melihat semut terpeleset dan jatuh ke dalam air, sebaiknya diangkat dan ditolong. Barangkali itu penyebab ampunan bagimu di akhirat.
Semut di dinding-dinding rumah, ranting pohon, hingga got sekalipun ia datangi. Ruwet terus meminta maaf kepada semut-semut tersebut atas perbuatannya selama ini. Tak jarang ia memohon ampun dengan cara berteriak-teriak. Kadang juga menangis sesenggukan di sudut kamar. Dalam pikirannya hanya perasaan bersalah. Roh-roh semut yang dibayangkannya sudah menelusup jauh menguasai seluruh jiwanya.
Bagaimana kalau roh semut yang mati karena racun pembasmi semutnya itu akan membalaskan dendamnya? Kemudian semut-semut itu akan mencekik, bahkan mengerubuti mayatnya? Namun, sebelum itu terjadi, Ruwet lebih dulu menghabisi dirinya sendiri dengan memenggal lehernya sendiri dengan sebilah golok. ***
.
Roh Semut yang Gentayangan. Roh Semut yang Gentayangan.