Cerpen Hary B Kori’un (Koran Tempo, 12 Desember 2021)
KAU masih belajar dengan nyaman di kota itu ketika mendengar berita pertikaian yang terus terjadi antara perusahaan dan penduduk kampung yang semakin memanas. Perselisihan antara penduduk kampung dan karyawan perusahaan, baik yang bekerja di kebun maupun di pabrik pengolahan minyaknya, terus terjadi.
Perselisihan yang sudah ada sejak kebun itu mendapat izin dari pemerintah dengan mengambil tanah-tanah orang kampung yang menurut peta yang diberikan pemerintah kepada perusahaan itu, di lokasi itu tak ada perkampungan. Semuanya hutan belantara.
Meski bukan pucuk pimpinan atau ninik mamak di kampung itu, abahmu dan beberapa penduduk lainnya sangat marah dan aktif mengumpulkan penduduk yang tak setuju dengan pembukaan ribuan hektare lahan untuk kebun perusahaan dan pembangunan pabrik pengolahannya. Tanah yang dikuasai perusahaan itu tanah adat, tanah kaum, tanah komunal, yang tak bisa dengan mudah dipindahtangankan.
“Para tetua adat kita, para ninik mamak kita, sudah makan uang haram dari perusahaan itu. Makanya mereka tak melakukan apa pun. Mereka sudah nyaman,” kata abahmu kepada para penduduk yang tak setuju.
Abahmu tahu, para ninik mamak dan sesepuh adat itulah yang memberikan surat rekomendasi kepada perusahaan, yang meyakinkan pemerintah bahwa memang di hutan itu tak ada perkampungan. Bahwa itu adalah hutan belantara yang bisa diserahkan kepada negara untuk tujuan produktif. Bahwa hutan itu bukan tanah ulayat atau tanah kaum. Para penduduk sudah tahu bahwa ninik mamak tetua adat sebenarnya sudah menjual tanah itu kepada perusahaan meskipun mereka mengimingi penduduk akan mendapatkan bagian kebun masing-masing dua hektare dari program plasma mereka.
“Mereka sudah menjual harta pusaka kita,” kata abahmu.
“Lalu apa yang harus kita lakukan,” kata penduduk yang lain.
“Kita harus melawan!”
“Melawan bagaimana? Mereka punya izin dari pemerintah…,” kata yang lain.
“Tanah adat adalah harta pusaka kaum. Tak sembarangan bisa dikuasai oleh pihak lain. Kalian lupa aturan adat kita?”
Semua orang yang berkumpul itu mengangguk-angguk.
“Bukankah perusahaan akan membagikan kebun kepada kita secara adil?” kata salah seorang lagi.
“Membagikan kepada kita? Itu tanah kaum kita, mereka bahkan tak punya hak apa pun di tanah itu…,” kata abahmu.
Sejak itu, abahmu dan penduduk kampung yang tak setuju, terus melakukan upaya perlawanan. Mereka mendatangi kantor camat hingga ke kabupaten untuk menggagalkan pembukaan hutan untuk lahan kebun perusahaan dan pabrik yang akan dibangun di sana. Pihak pemerintah kabupaten tak bisa berbuat apa-apa karena proses perizinan berada di provinsi atau pusat.
Namun itu tak menghentikan upaya yang dilakukan abahmu dan penduduk kampung. Jumlah penduduk yang ikut di belakang abahmu semakin banyak. Jika sebelumnya hanya dari kampung tempat keluargamu tinggal, kini kampung-kampung lainnya juga bergabung.
Namun, pelan tapi pasti, setelah hutan ditebang dan kebun sawit itu jadi, jumlah penduduk yang ikut abahmu mulai berkurang. Itu setelah perusahaan memberikan jatah dua hektare kebun kepada setiap kepala keluarga yang tinggal di sekitar kebun perusahaan sebagai bagian dari program plasma. Penduduk tak perlu capek kerja. Mereka setiap bulan akan mendapatkan bagi hasil dengan perusahaan dari setiap dua hektare kebun mereka.
Namun abahmu dan beberapa penduduk dari beberapa kampung yang tak setuju, tak mau menerima pembagian kebun plasma tersebut. Mereka terus berjuang. Bolak-balik sampai ke provinsi, meski selalu gagal.
“Jumlah kita sudah tak banyak, apakah tidak lebih baik kita hentikan ini dan menerima kebun itu seperti yang lainnya?” kata salah seorang pengikut setia abahmu.
“Kita bukan bagian dari mereka yang menjual harta pusaka adat kita….”
“Lalu apa yang akan kita lakukan?”
“Kita akan melakukan sesuatu….”
Beberapa hari setelah itu, beberapa base camp pekerja perkebunan terbakar saat dini hari. Lalu ada beberapa bagian dari pabrik yang terbakar. Secara acak, banyak bagian sawit muda yang ditebas. Dan yang terakhir, secara terang-terangan abahmu dan orang-orang kampung menyerbu masuk ke pabrik dengan maksud membakar bangunan yang hampir selesai itu. Terjadi bentrokan dengan pekerja. Banyak orang yang terluka, termasuk abahmu. Mereka diangkut oleh polisi dan dibawa ke kota kabupaten.
Luka-luka yang diderita abahmu cukup parah. Setelah beberapa hari dirawat, dokter tak bisa menyelamatkan nyawa abahmu. Kau berada di sana ketika itu, saat tahu abahmu dirawat di rumah sakit kabupaten dan dalam penjagaan ketat polisi. Kau pulang, meninggalkan universitas tempatmu belajar. Dan ketika abahmu meninggal di hadapanmu, kau marah, dan memutuskan untuk tak kembali ke universitasmu.
***
SEJAK peristiwa itu, tak ada lagi perlawanan yang dilakukan penduduk. Pohon-pohon sawit itu tumbuh dengan daun-daun hijau yang segar. Di penjuru mata angin terlihat hamparan pohon-pohon muda yang kini sudah berbuah pasir. Di tengah-tengahnya terlihat bangunan besar dengan cerobong asap yang mengepul di udara, yang sudah mulai berproduksi.
Para ninik mamak pucuk pimpinan adat dan kampung hidup dengan tenang. Mereka kini banyak yang membangun rumah besar dan membeli mobil keluaran terbaru. Para penduduk yang mendapat jatah kebun plasma juga terlihat hidup berbahagia. Banyak dari mereka yang membangun rumah dan membelikan motor untuk anak-anak mereka. Penduduk yang sebelumnya menjadi pengikut abahmu, bahkan yang pernah ikut terluka saat bentrokan, akhirnya memilih menerima jatah plasma dari perusahaan dan hidup lebih tenang.
Tapi kau dan keluargamu tak mau menerima jatah plasma itu. Emakmu berkali-kali mengatakan padamu, sebaiknya kau mengalah dan menerima jatah plasma itu seperti penduduk lainnya. Namun sebagai lelaki dan kini menjadi kepala keluarga setelah abahmu meninggal, kau berkukuh tak mau menerima itu. Kau tetap bekerja menakik getah karet di kebun peninggalan abahmu, meski kadang hasilnya tak terlalu banyak. Namun itu cukup untuk makan dan mengirim adikmu kuliah di ibu kota provinsi.
“Kita tak akan meminum darah abah…,” katamu kepada emakmu.
“Maksudmu?”
“Dengan menerima kebun plasma yang merupakan tanah kaum kita yang dijual oleh ninik mamak itu, berarti kita telah meminum darah abah….”
Emakmu menangis mendengar itu dan mengatakan agar kamu melupakan rasa sakit hati dan membuang jauh-jauh dendam itu.
“Ini bukan masalah dendam, Mak. Ada banyak hal yang tak bisa ditukar dengan harta dan uang. Kita tak berhak mendapatkan pembagian dari tanah ulayat itu. Itu tanah pusaka yang akan dimiliki kaum kita secara bersama-sama, bukan harus diserahkan kepada perusahaan dan kita mendapatkan bagian secara pribadi. Biarlah mereka yang meminum darah abah. Kita jangan….”
Kau berusaha menghentikan air matamu yang tiba-tiba keluar ke pipimu ketika mengatakan itu. Emakmu melihat itu. Dia lalu mendekat dan mendekapmu. Kau menangis di pelukan emakmu.
***
BEBERAPA waktu kemudian kau pergi meninggalkan kampungmu setelah emakmu meninggal karena demam berdarah. Ketika adikmu berkabar kalau dia sudah mendapatkan pekerjaan setelah tamat kuliah, hatimu tenang. Kau tak punya beban lagi. Katamu kepada adikmu, kau ingin pergi mengembara, menyeberangi lautan, ke arah timur. Sebenarnya itu arah entah, karena kau memang tak punya tujuan. Kau hanya ingin meninggalkan kampungmu karena tak kuat menahan rasa sakitmu akibat kematian abahmu. Kematian yang menurutmu tragis dan tidak adil karena abahmu dicap perusuh, sementara mereka yang membuat abahmu meninggal, tidak diproses hukum.
Bertahun-tahun kabarmu tak pernah didengar lagi oleh penduduk di kampungmu, termasuk saudara-saudara dari pihak abah dan emakmu. Hanya adikmu yang selalu tahu di mana kau berada. Baik ketika berada di pedalaman Sumba, di perkampungan adat Namata yang misterius di Pulau Sabu, atau ketika kau seperti seorang pertapa di sebuah hutan lebat di Piru. Kau telah melupakan semua duniamu, tetapi hatimu selalu ingat abahmu yang mati secara mengenaskan itu.
Lalu, tiba-tiba penduduk kampung terkejut dengan kehadiranmu, saat lampu di rumah orangtuamu menyala. Saudara dari pihak abah dan emakmu berdatangan malam itu. Mereka senang kamu pulang dan menetap di kampung lagi.
Tapi, mereka menemukan keanehan-keanehan dalam tingkah-laku dan cara bicaramu. Keanehan-keanehan yang membuat kadang mereka merasa takut dan bulu-bulu mereka merinding ketika menatap matamu. Mata yang masih penuh amarah dan dendam
***
“YANG ada dalam tangki-tangki di atas truk itu darah,” katamu sambil menunjuk beberapa truk tangki yang lewat di depan rumahmu.
“Tak mungkin,” kata temanmu. “Dari mana kau tahu?”
Matamu tajam menatap truk-truk yang setiap hari datang dan pergi, keluar dan masuk, ke pabrik pengolahan sawit itu.
“Pabrik itu kini memproduksi darah yang diangkut truk-truk tangki itu. Biji-biji sawit itu mengeluarkan darah, bukan minyak lagi,” katamu tak menghiraukan pertanyaan temanmu itu.
Lalu kau berjalan ke tengah jalan tanah yang berdebu itu. Kau melihat tetesan-tetesan yang membasahi jalan tanah itu, yang berasal dari beberapa truk tangki yang lewat tadi. Warnanya merah. Berbau amis.
“Lihatlah,” katamu kepada temanmu. “Ini tetesan darah, bukan minyak….”
Penasaran, temanmu mendekat dan memegang tanah berdebu yang sedikit basah itu. Dia lalu mencium jari yang tadi memegang tanah itu. “Benar. Baunya amis. Ini memang darah,” ujar temanmu.
Lalu, katamu, “Itu darah para penduduk yang mati mempertahankan tanah leluhur kita yang dirampas pemilik perkebunan dan pabrik itu!” Suaramu terdengar dalam, seperti menyimpan amarah. “Itu darah ayahku, ayahmu, dan ayah teman-teman kita!”
“Ini tak masuk akal,” kata temanmu, terlihat butir-butir keringat keluar dari dahinya. Wajahnya kini sudah basah. “Tak mungkin biji sawit itu mengeluarkan darah dan truk-truk tangki itu mengangkut cairan darah,” katanya lagi.
“Kau sudah membuktikannya sendiri, kan?” katamu dengan senyum dingin.
“Tapi ini tak mungkin….”
“Leluhur kita marah atas apa yang mereka lakukan kepada orang-orang di kampung kita,” katamu lagi, kali ini dengan suara berat dan tatapan mata tetap dingin. “Mungkin ini hukuman untuk mereka….”
“Tapi, bagaimana bisa? Darah itu….”
“Jika mau, alam bisa mengubah segalanya….”
Tak lama kemudian, kehebohan terjadi. Seluruh pekerja pabrik pengolahan itu keluar dan berteriak-teriak.
“Darah… Darah… Pabrik kita menghasilkan darah. Bukan minyak….”
Para sopir truk tangki juga banyak yang turun memeriksa muatan mereka. Mereka terkejut.
“Iya, ini darah, bukan minyak. Oh Tuhan, mengapa bisa begini?” kata salah seorang sopir setelah membuka penutup tangki di bagian atas.
Dari kejauhan, matamu terlihat tajam dan nanar melihat semua itu. Dan perlahan, sebuah senyuman aneh menghiasi kedua bibirmu. ***
.
.
Pekanbaru, Januari 2021
HARY B KORI’UN lahir di Pati, Jawa Tengah, pada 1974. Sejak 1992 belajar menulis cerpen dan puisi, dimuat di beberapa media, dan beberapa buku antologi bersama maupun pribadi. Ia juga menulis novel. Novelnya yang sudah terbit, antara lain, Nyanyi Sunyi dari Indragiri (2006), Malam, Hujan (2007), Mandiangin (2008), Nyanyian Kemarau (2010), dan Luka Tanah (2014). Kini ia tinggal di Pekanbaru, Riau.
.
Pabrik Darah. Pabrik Darah. Pabrik Darah.