SEPASANG KEMBANG

Puisi Esha Tegar Putra dan Ruhan Wahyudi (Koran Tempo, 19 Desember 2021)

KEPADA JUNED

.

Pada gelombang pasang gelombang surut

sebagaimana dalam lagu

nasib akan terus dibetulkan, Juned.

.

Aku ingin gairah itu lagi, gairah kuda-kuda muda

padang sabana pada musim kawin

dengan ringkik membikin malam-malam berbulan

serasa ditarik ke pangkal paha

gairah sepasang siamang rimba Sumatera

bersorak-sorai dari batang Banio

mengimbau-imbau pagi lekas tiba.

.

Musim sedang begini, tapi nasib akan

terus dibetulkan, Juned.

sebagaimana dalam lagu dan melulu dalam lagu

gelombang pasang-gelombang surut sampan-sampan

terhalau kian-kemari, tapi gairah pada perjalanan

terus membumbung dan meninggi.

.

Dan aku ingin gairah itu lagi

gairah segala binatang berbulu-berambut panjang

berlarian kian-kemari di padang sabana

bergayut-bergelantungan di rimba raya

meringkik dan bersorak-sorai sampai habis suara.

.

2021

.

.

.

Esha Tegar Putra kelahiran Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Ia kini bekerja sebagai peneliti di Komisi Arsip dan Koleksi Dewan Kesenian Jakarta.

.

.

.

SEPASANG KEMBANG

_Gunawan Maryanto

1/

sepasang anak perempuan

adalah sepasang kembang *)

kupungut kembang di halaman

nenek moyang

kupu-kupu kecil itu menikmati

tarian angin dipipihkan

di antara kelahiran sepasang pengantin

yang sejak lama menjadi isyarat

bagi semesta

bagiku yang tertunda

tentang kehadiranmu

dengan sabitan puisinya

2/

tidak ada yang bisa menolak

kelahiran sepasang kembang itu

yah..! sebagian yang terlahir

adalah buih-buih doa

yang setiap kali

kurestui dalam sepi

benarkah! anak perempuan itu sepasang kembang

bisa jadi, karena keelokan aromanya

selalu jadi saksi

di antara mata yang sunyi.

.

Cabeyan, 2021

.

*) Kutipan Puisi Gunawan Maryanto dalam bukunya Kembang Sepasang

.

.

.

Ruhan Wahyudi bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakata (LSKY). Karyanya sudah dimuat di berbagai media, seperti puisi tunggal Menjalari Tubuhmu di Pundak Waktu (2019).

.

Arsip Cerpen di Indonesia