Cerita Anak Anonim (Lampung Post, 26 Desember 2021)
BANYAK sekali kejadian dalam dunia hewan yang bisa menjadi contoh bagi kita dalam berkehidupan sosial. Karakter hewan yang dibuat, kadang seperti identik dengan hewan itu dalam kehidupannya. Salah satunya Kancil yang cerdik, Buaya yang lambat, atau Bangau yang angkuh.
Dengan tinggi badan dan paruh besarnya, Burung Bangau sangat wajar jika angkuh. Sebab, saat berdiri di tepi sungai, jangkauannya untuk makan mampu luas.
Nah… suatu pagi yang indah, seekor burung bangau sedang berdiri di pinggiran sungai. Dia melihat ke sungai dan memperhatikan ikan-ikan yang berenang di pinggiran sungai.
Saat itu, dia berkata dengan angkuhnya.
“Aku tidak ingin memakan ikan-ikan yang kecil pagi ini. Ikan yang kecil tidak pantas untukku bangau yang anggun,” ujar Bangau.
Sehingga dia tidak bergerak. Saat ikan-ikan kecil lewat, Bangau tidak mau mengambilnya. Ia menunggu hingga ikan-ikan yang lebih besar berenang di pinggiran sungai.
“Harusnya ikan yang lebih besar.”
Hingga akhirnya, seekor ikan besar lewat. Ikan yang lewat kali ini besar dan bahkan melebihi besarnya paruh bangau.
Bukannya mengambil, ia justru kembali berkata, “Aku tidak mau makan ikan sebesar itu. Itu terlalu besar untukku,” kata Bangau sambil mulai berpikir menyesal tidak menangkap ikan-ikan yang kecil tadi.
Hingga akhirnya, Bangau menunggu lagi di sana.
Matahari mulai naik dan hari sudah mulai panas. Air menyurut dan para ikan berenang ke tengah sungai. Bangau berusaha mengejar mereka, tapi ia tidak bisa berenang ke tengah sungai.
Akhirnya, dia hanya bisa memakan siput-siput yang tertinggal di pinggiran sungai dan sama sekali tidak mendapatkan ikan.
“Yah… dari pada tidak makan hari ini, jadilah makan siput,” kata Bangau.
Tapi menyesal tidak berguna. ***
.