Cerpen Muna Masyari (Jawa Pos, 01 Januari 2022)
DI MATAKU, tiba-tiba ia bagai monster raksasa pengisap darah yang lepas dari kandangnya. Kukuh menjulang penuh keangkuhan. Jari-jari gaibnya menggurita. Mencengkeram ke seluruh penjuru. Melilit mangsa. Lalu diam-diam menancapkan kuku penuh racun ke tubuh mereka.
Akan tetapi, di mata keluargaku ia dianggap sebagai menara emas!
***
“Jadi?” aku tercekat kaget.
Ibu dan Pa’lung justru menukar senyum usai gantian bercerita. Bahagia sekaligus bangga berpijar di mata keduanya, seperti ibu-ibu yang berebut memaparkan keunggulan mengocok dadu di meja arisan. Tidak ada kecemasan sebagaimana yang mulai mengonak di kepalaku. Mereka serupa anak kecil, tidak memahami perbedaan alunan biola dengan kidung petaka.
Tadi, ketika Pa’lung menjemputku ke Terminal Ronggosukowati menggunakan sepeda motor berpelat dasar putih dengan tulisan merah, aku memang sempat bertanya, sepeda motor siapa yang dibawa? Dia hanya cengengesan, lalu membawaku seperti orang yang lari dari kejaran polisi. Tiga kali kupukul pundaknya agar tidak menyetir ugal-ugalan, namun dia abai seolah hendak memamerkan kegesitan sepeda baru dan kemahirannya dalam menguasai jalan. Salip kanan, salip kiri. Meneriakkan klakson seenaknya. Kadang menikung tajam di depan kendaraan yang sama-sama melaju kencang. Untung tidak kucekik lehernya ketika nyaris mencium pantat bus mini jurusan Kamal yang berhenti mendadak menurunkan penumpang.
Anak itu baru mengurangi kecepatan ketika memasuki kampung halaman yang jalannya mirip pantat bisulan. Begitu sepeda motor berhenti di sebuah halaman rumah, aku sempat pangling. Rasa asing menyusup diam-diam seolah terdampar di tempat yang tak kukenal. Perlahan aku turun dari jok seraya pandangan menyapu sekeliling.
Rumah sudah direnovasi dan dindingnya dicat kuning berpadu hitam bagai pepaya matang. Kobhung gedek di sebelah barat halaman diganti musala berkubah mirip masjid minimalis. Halaman juga dipagari tembok bertumpang teralis besi. Pohon keres yang sejak aku kecil sudah meneduhi halaman ikut tersingkir oleh atap kanopi.
“Tak hanya itu! Aku dan eppa’-mu juga sudah nyetor ongkos haji!” ibu menambahi ceritanya dengan senyum serekah bunga matahari di pagi hari.
“Dan nanti akan dipanggil abah-umi oleh orang-orang!” timpal Pa’lung tertawa. Entah dia sedang melucu atau meledek. Yang jelas, tawanya membuat perutku mual.
Berhaji memang menjadi impian orang-orang di sini. Naik haji sama halnya dengan menaiki tangga kemuliaan untuk mencapai martabat. Tidak hanya martabat di hadapan Guste Pangeran, juga di mata masyarakat. Gelar “Haji” sudah dianggap sebagai simbol keteladanan, ketaatan, kemapanan dalam status sosial, yang senantiasa diidam-idamkan.
“Kami menggelar maulid sekaligus selamatan,” papar ibu dengan kesan yang kutangkap bahwa bentuk selamatan yang dimaksud sekadar mengumumkan bahwa dirinya dan ayah sudah menyetor ongkos haji. Tak peduli berangkatnya masih menunggu sekian tahun, yang penting orang-orang mengetahuinya lebih dulu. Anggap saja meniti tangga kemuliaan pertama.
Aku terdiam kalut. Resah dan rusuh seperti mata-mata duri menusuk.
Pa’lung urung menyambung paparan ibu gara-gara ponsel yang menyembul di saku kausnya berbunyi lagi. Sejak tadi, entah sudah berapa kali terdengar notifikasi. Kali ini ada panggilan masuk. Buru-buru dia mengeluarkan benda yang melebihi panjangnya telapak tangan dan kutaksir harga segelnya di atas 3 juta.
Dia melihat layar sekilas, lalu menempelkannya ke telinga.
“Iya, ada apa?”
“…”
“Aku masih menjemput kakak tadi ke terminal.”
“…”
“Video yang mana?” suaranya mulai dikecilkan. Perlahan dia bangkit dan agak menjauh seolah pembicaraannya takut terdengar orang lain.
Ketika memunggungi kami, barulah kulihat ada tulisan “V. Rossi” di punggung kaus Pa’lung. Namanya, Fahrurrosi, rupanya sengaja dimiripkan dengan “Valentino Rossi”, dan itu mengingatkanku saat dia ngebut di jalan tadi.
“…”
“Oh, yang itu? Sepertinya masih ada. Sebentar lagi kukirim,” setengah berbisik.
Panggilan diputus. Tangan Pa’lung beralih ke layar ponsel.
Kusadari bahwa sinyal sudah bukan barang langka lagi di kampung ini. Tidak seperti sebelumnya, jangankan video, mengirim pesan teks saja masih harus mengangkat ponsel tinggi-tinggi demi mencari lokasi paling peka. Mirip dalam film Parasite.
“Waktu kami merayakan maulid, kenapa kau tak pulang?” pertanyaan ibu mengusik perhatianku.
“Banyak tugas,” kujawab sekenanya tanpa mengalihkan mata dari punggung Pa’lung. Ada kecurigaan menyusup diam-diam pada anak itu.
“Kami menggelar maulid besar. Mengundang banyak tetangga dan kiai penceramah!” nada suara ibu mengesankan penyesalan akan ketidakpulanganku. Ceritanya yang penuh semangat membuat perhatianku tercuri juga.
“Dari mana kiainya?” tatapanku beralih ke wajah ibu yang masih menyiratkan kebahagiaan.
“Dari Sampang. Mau ngundang K. Musleh Adnan, tidak bisa. Penuh katanya.”
Memoriku berputar sebentar seperti perangkat lunak mencari sambungan sinyal. Mengembalikan ingatan pada suatu malam. Di saat sibuk bergelut dengan tumpukan kertas, laptop menyala, pikiran yang sesak, buku berserak, Pa’lung mengirim sebuah video lewat pesan WhatsApp.
Video kiriman Pa’lung berupa ceramah seorang kiai dengan durasi pendek-pendek. Disusul kiriman video lainnya, menayangkan pesta maulid yang meriah. Para undangan berdiri, berbaris rapi mirip saf salat. Khusyuk membaca salawat. Melewati sela-sela barisan, dua orang berjalan beriringan. Yang satu memegang anak pohon pisang. Daunnya sudah diganti lembar-lembar uang 50 ribuan yang direkatkan pada sebatang lidi, lalu ditancapkan pada setiap batang daun mirip bendera Merah Putih di hari kemerdekaan. Setiap undangan mendapatkan satu lembar.
Sementara yang seorang lagi memegang mangkuk berisi kelopak-kelopak kembang. Setiap orang yang dilewati mendapat sodoran mangkuk, sebagai isyarat untuk mengambil sejumput isinya. Biasanya, di dasar mangkuk itu diletakkan koin-koin yang nantinya bisa disimpan dalam dompet sebagai simbol doa agar rezeki berkah.
Sedangkan berkat-berkat berwadah keranjang rotan berjajar di depan kaki para undangan. Mirip parsel lamaran. Isinya berupa beras 3 kg, 1 liter minyak goreng, gula pasir 1 kg, 1 botol kecap Sedap, dua bungkus mi instan, dan entah apa lagi. Hanya sebagian yang berhasil disorot kamera.
Oleh sebab lokasi perayaan yang belum kukenal, kiriman video-video Pa’lung tak kutanggapi. Bisa jadi sekadar dapat kiriman dari temannya, pikirku kala itu.
Di kampung ini, aroma kemeriahan bulan maulid memang sudah akrab sejak aku baru belajar mengingat. Bunyi sound system bersahutan seolah menyambut kepulangan perantau yang biasa mudik demi merayakan kelahiran Sang Junjungan. Kantong baju anak-anak tak pernah kosong karena selalu mendapat uang dari orang-orang yang merayakan maulid. Entah itu kerabat dekat atau tetangga. Semacam angpao di hari Lebaran.
Gantian merayakan maulid untuk setiap rumah bagai suatu keharusan. Khusus keluarga perantau dan pedagang-pedagang kaya biasanya merayakannya dengan besar-besaran. Dan ternyata, keluargaku sudah berhasil merayakan maulid semacam itu dengan bangganya. Tentu menggunakan tumpukan uang yang diperoleh dari penyewa tanah untuk pendirian menara sebagaimana yang dipaparkan tadi.
Kata ibu, menara itu didirikan tepat di belakang rumah. Menggeser kandang ternak dan merobohkan tiga pohon kelapa. Padahal, berdirinya Base Transceiver Station harus jauh dari permukiman agar radiasinya tidak berdampak buruk pada kesehatan warga. Namun yang pasti, itu di luar pengetahuan ayah dan ibu. Tapi Pa’lung? Anak itu sudah kelas 1 SMA!
Memang banyak BTS didirikan di tempat permukiman. Hal itu juga yang menjadi pusat perhatian dan kujadikan bahan skripsi, menyoroti masalah pencemaran lingkungan dan pelanggaran peraturan pemerintah yang mengikuti tata laksana WHO.
Bahkan, sewaktu KKN ke daerah pedalaman, sebagian petani mengeluhkan menurunnya produktivitas tanaman sejak BTS berdiri di dekat lahan pertanian mereka. Benarkah ada dampak pengaruhnya ke sana, masih dalam riset penelitian.
Hft! Aku mendesah berat. Tiba-tiba merasa seperti pemburu maling yang sok gagah, namun justru rumah sendiri yang berhasil disatroni! Dadaku bergemuruh. Merasa kalah.
Kesibukanku merampungkan skripsi mengabaikan chat-chat Pa’lung belakangan ini hingga tidak tahu perkembangan di sini.
“Lihat adikmu! Sejak punya sepeda dan HP baru jadi jarang ada di rumah!” ibu menunjuk Pa’lung dengan dagunya, diikuti oleh tatapanku.
Sepertinya anak itu tidak mendengar perkataan ibu. Tetap sibuk dengan layar ponselnya.
“Tidurnya?” selidikku, beralih menatap ibu.
“Tidak tahu tidur di mana. Dia bilang menginap di rumah temannya.”
Aku terdiam sejenak. Kembali mengamati Pa’lung yang tak terusik sama sekali oleh pembicaraan kami.
Dengan pikiran buruk yang terus membelukar di kepala, perlahan aku bangkit dan diam-diam mendekati Pa’lung dari belakang. Mengintip layar ponselnya dari balik punggung.
Di antara jari-jarinya yang menari, apa yang kulihat di ponsel Pa’lung sungguh membuat darahku naik ke ubun-ubun. Beberapa video menampilkan dua pasang manusia, serupa bayi besar yang baru dilahirkan. Di antara video-video tersebut malah kucurigai ada dirinya.
Tanpa ba-bi-bu kuseret dia ke belakang rumah sebagaimana menyeret karung sampah. Di bawah menara yang menjulang kuhantamkan kepalan tangan ke wajahnya bagai pahlawan membantai pecundang. Tubuhnya terhuyung hampir mencium tanah mirip ayam sakit parah.
Gigiku gemeretak. Geram. Hantaman pertama tidak membuat rusuh di dadaku meredam.
Sebelum sempat berdiri tegak, Android di tangannya kurampas, lalu kubanting keras membentur batu, dan hancur berantakan menimbulkan bunyi yang sempat kucemaskan akan didengar ibu di dalam. Matanya terbelalak. Kaget dan protes.
“Apa otakmu hanya isi video mesum itu?” desisku berang, merasa ditantang.
Kucengkeram kerah kausnya. Hendak kulayangkan bogeman sekali lagi, namun kepalan tanganku terhenti dan hanya bergetar di udara. Gagal mendarat demi melihat tubuhnya mengerut ketakutan mirip kucing tertangkap basah mencuri ikan.
Berengsek!
Kuempaskan tubuhnya kasar dengan perasaan kalah, sebenar-benarnya kalah.
Ketika tubuh Pa’lung terjengkang ke belakang, kulihat ada tangan-tangan gurita raksasa menangkap. Mencengkeram kuat. Melilit hingga dia tak bisa berkutik. Kemudian ujung-ujung jari raksasa itu menancap menembus kulitnya. Tubuh ringkih Pa’lung perlahan membiru. Kulai seperti karung basah. ***
.
.
Madura, akhir November 2021
MUNA MASYARI. Bertempat di Pamekasan, Madura. Kumpulan cerpennya, Martabat Kematian, mendapat anugerah Sutasoma sebagai Sastra Indonesia Terbaik 2020. Kumpulan cerpennya, Rokat Tase’, meraih Penghargaaan Sastra dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2021 sebagai buku cerpen terbaik 2021. Sementara novelnya, Damar Kambang, nomine Kusala Sastra Khatulistiwa ke-21.
.
Menara Emas. Menara Emas. Menara Emas. Menara Emas. Menara Emas.
.