Cerpen Eko Darmoko (Koran Tempo, 02 Januari 2022)
SATU bulan setelah menerima kabar kematian Suzu Sugihara, aku terbang menuju Prefektur Fukuoka. Di pesawat kepalaku terasa pening. Kudapan dan jus jeruk dari pramugari, beberapa jam setelah pesawat mangkat dari Singapura, belum kusentuh. Pikiranku melayang-layang; menggerayangi Surabaya masa silam.
Pramugari berseliwer menyuguhkan menu makan malam kepada penumpang. Meja kecil di hadapanku bertambah sesak. Sama seperti kudapan dan jus jeruk, nasi goreng udang juga belum kusentuh, walau sejumput. Mataku menembusi jendela pesawat. Di kejauhan, di bawah sana, terlihat gemerlap lampu dunia dan gulungan awan tipis.
“Apakah Tuan mau saya ambilkan wine?” kata pramugari berwajah Tionghoa berbahasa Melayu.
“Tidak. Terima kasih!”
“Siapa tahu Tuan bisa tidur setelah minum wine.”
Aku menggelengkan kepala beberapa kali. Mataku kembali menusuk ke arah jendela. Sedangkan perempuan di sebelahku, penumpang berwajah Jepang yang tak kukenal, terlihat lahap menyantap daging sapi panggang, kentang rebus, dan salad.
“Kalau Tuan butuh apa-apa, silakan, jangan sungkan,” si pramugari mengakhiri dengan senyum ceria.
Tenggorokan kering menuntunku meraih gelas dan menenggak habis jus jeruk. Aku memicingkan mata menahan rasa kecut di lidah. Ketika hendak meraih mangkuk puding, penumpang di sebelahku bersuara, awalnya kukira cuma basa-basi.
“Kecut?” tanyanya.
“Iya!” balasku, kaget, ternyata ia bisa bahasa Indonesia. Aku sedikit menengok. Kulihat wajahnya sebentar. Tak ada kerutan. Aku tebak usianya belum mencapai kepala tiga. Perempuan muda, batinku. Rambutnya sebahu. Bibirnya tipis, bagian atas agak tertarik ke atas, sehingga giginya yang indah bisa kulihat jelas.
“Ada perlu apa ke Fukuoka?”
“Urusan pekerjaan.”
Ia tak menimpali atau mengajukan pertanyaan lain. Barangkali tersihir oleh enaknya puding pencuci mulut, batinku. Ia terlihat sangat lapar. Makan malam dengan porsi sangat banyak untuk tubuhnya yang kecil dan ramping, mungkin sekitar 40 kilogram.
“Aku memang sangat lapar,” katanya, mengejutkanku. Seakan-akan ia bisa membaca pikiranku. “Sejak dari Juanda Surabaya, aku belum mengunyah apa pun. Belum berselera. Bahkan saat transit di Changi Singapura, aku hanya minum air kemasan,” sambungnya.
Sebenarnya aku tak tertarik ngobrol dengannya. Namun, aku rasakan peningku lenyap semenjak ia bicara ke arahku. Tak ada pilihan lain, aku memilih melanjutkan obrolan ini ketimbang diserang pening lagi. Baru mengambil ancang-ancang untuk melontarkan pertanyaan, ia sudah nyerocos terlebih dahulu.
“Memang, kadang kabar kematian bisa membuat seseorang merasa bersalah. Meskipun kematian itu bukan salahnya.”
Sialan, umpatku dalam hati. Aku merasa ia sudah lancang menelanjangi alam pikiranku. Jangan-jangan ia tahu kalau aku bohong tentang urusan pekerjaan di Fukuoka.
“Kamu pernah menerima kabar kematian yang membuatmu menyesal, atau apalah?”
Aku hanya mengangguk. Pertanyaan yang sudah kususun tiba-tiba hancur berkeping-keping. Mulutku seperti terkunci rapat. Mendengarnya menyebut kata “kematian”, aku jadi teringat Suzu Sugihara.
“Oh ya, panggil saja aku Yuma,” ia mengulurkan tangannya, kemudian aku meraihnya dan menyebutkan nama panggilanku.
“Kamu pasti heran, aku begitu mahir berbahasa Indonesia,” aku menganggukkan kepala. Setan, batinku, ia benar-benar bisa membaca pikiranku. “Memang, sih,” ia melanjutkan, “Aku tidak memiliki darah Indonesia, kedua orang tuaku asli Tokyo, aku hanya numpang lahir dan tumbuh di Surabaya.”
Aku menusuk-nusukkan garpu ke permukaan puding. Lumeran toping cokelat pada garpu kujilat-jilat. Pramugari kembali berseliwer, membereskan perangkat makan penumpang.
“Tuan mau jus jeruk lagi? Kulihat hanya itu yang habis.”
“Air putih saja!” jawabku, lalu ia mengganti gelas jus jeruk dengan gelas berisi air. “Yang ini, biarkan di sini saja,” sambungku sambil melihat kudapan dan nasi goreng udang. Pramugari pindah melayani penumpang lainnya.
“Betapa pun manis puding dan cokelat, mereka tak sanggup menghilangkan pahit dalam gelombang kematian,” Yuma berkata agak berat, aku sedikit melirik. Ia memandang wajahku sangat lama.
Ketimbang aku terus-terusan ditelanjangi oleh ucapannya, aku memberanikan diri untuk bertanya, siapa tahu aku bisa mengendalikan tema obrolan.
“Di Fukuoka, apa yang kamu lakukan?” tanyaku, standar.
“Menemui tunanganku. Selanjutnya kami terbang ke Tokyo.”
Ketika ia menoleh ke arah kiri, aku yang di sebelah kanannya, memiliki kesempatan untuk melihat lehernya. Putih berkilau. Ada tato deretan huruf Jepang. Aku tak tahu artinya. Tato serupa juga ada di lengan Suzu Sugihara.
“Artinya Angin Kering Kitakyushu kalau diterjemahkan ke Indonesia,” kata Suzu Sugihara, tentunya ketika ia masih hidup, ketika duduk-duduk bersamaku di trotoar Jalan Tunjungan.
“Kamu suka tatoku?” kata Yuma membongkar lamunanku. “Kamu pasti penasaran dengan artinya? Iya, kan?”
Sialan, umpatku dalam hati untuk kesekian kalinya, perempuan jenis apa yang ada di sampingku ini. Ia sudah terlalu jauh mengendus pedalaman alam pikiranku.
“Artinya ini,” katanya sambil mengelus lehernya, “Nama tunanganku, tak perlu aku sebutkan namanya, toh tidak penting buatmu juga, kan.”
Aku mengangguk. Kemudian meliriknya ketika ia melipat meja kecil di hadapannya. Paha yang sejak tadi terhalang meja kecil, kini bisa kulihat sempurna. Pahanya membuat mataku silau. Mulus berkilau seperti batu kapur disepuh sinar matahari tropis. Rok mininya barangkali 15 sentimeter di atas lutut.
“Dia sama sepertimu, asli Surabaya,” katanya sambil mengelus ujung rok mini.
“Dia siapa?”
“Tunanganku. Dia asli Surabaya. Kebetulan ada dinas di Jepang, di beberapa kota. Tahun depan kami akan menikah di Surabaya. Eh, tahun depan artinya tinggal satu bulan lagi, ya.”
“Iya.” Mendadak kurasakan waktu begitu cepat berlalu. Satu bulan lagi tahun berganti. Kemudian aku menggeledah kenanganku. Tiga atau empat bulan yang lalu, aku tidur bersama Suzu Sugihara di apartemennya di selatan Surabaya.
Kini, Ara, begitu Suzu Sugihara minta kupanggil, sudah meninggalkan dunia yang absurd ini. Kabar kematiannya sungguh membuatku pahit. Benar kata Yuma, bahwa betapa pun manis puding dan cokelat, mereka tak sanggup menghilangkan pahit dalam gelombang kematian.
“Aku mendapatkan kalimat itu dari sebuah novel. Aku lupa judul dan nama pengarangnya,” Yuma berdesis, lirih, seolah-olah diucapkan untuk dirinya sendiri. Tapi aku mendengarnya. Aku megap-megap. Aku mendadak takut. Semua yang kupikirkan bisa terdengar transparan di telinganya.
“Maaf, Yuma, aku…”
“Semua orang pasti pada akhirnya merasa risih ketika ngobrol denganku,” ia memotong dengan kalimat yang sebenarnya akan aku lontarkan. “Harusnya aku yang meminta maaf.”
Aku bingung. Harus dengan kalimat apa aku menimpalinya. Tapi apa pun yang akan kusampaikan, ia sebenarnya sudah tahu. Jangankan yang bersuara, yang belum kusuarakan, ia sudah tahu. Jancuk, batinku, ah ia pasti mendengarnya.
“Bila tak dimakan, boleh aku memakannya?” kata Yuma sambil dagunya menunjuk ke arah makanan yang ada di mejaku. Aku sangat bersenang hati memberikannya. Ketimbang menyumpeki ruang gerakku.
Ia membuka meja di hadapannya. Pahanya kembali terhalang. Memindahkan makanan dari mejaku ke mejanya. Selanjutnya ia melahap makanan-makanan itu, termasuk sisa pudingku, hingga bersih tak ada sisa. Ia memanggil pramugari untuk memunguti perangkat makan. Meja di depannya kembali dilipat, dan paha mulusnya kembali bikin silau mataku.
“Normal sih, lelaki memang suka melihat pahaku. Salahku juga karena sering memakai rok mini.”
Aku menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Ia malah menggoyang-goyangkan pahanya, membuat rok mininya makin terangkat ke atas. Aku risih. Ia pasti tahu dengan pikiranku. Biarin!
“Jadi, mengapa dia bunuh diri?” ucapnya enteng.
Sekali ini aku tidak kaget atau heran. Lama-lama sudah terbiasa ketika ia membaca pikiranku. Aku paham, “dia” yang dimaksud Yuma adalah Ara. Tapi, sayang sekali, aku pun tak tahu penyebab Ara gantung diri di rumahnya di pinggiran Kitakyushu, Prefektur Fukuoka.
“Aku tak tahu,” desisku. Tapi percuma, Yuma pasti sudah tahu tentang apa yang kuucapkan, dengan suara atau masih tertahan dalam hati.
“Dia pasti sangat berarti bagimu. Meskipun kalian belum bersatu oleh ikatan resmi, tapi setidaknya kalian pernah tidur bareng, bahkan sering.”
Aku menelan ludah. Ia melirik ke wajahku, kemudian secepat kilat memindahkannya ke sudut jendela. Aku mengikuti arah pandangnya. Kulihat bintik-bintik cahaya di bawah sana.
“Kita di atas negara mana, ya?” tanyaku spontan.
“Mungkin Myanmar, Thailand, atau Laos. Ah entahlah, pemahamanku tentang geografi sangat kacau. Tapi yang jelas bukan Filipina.”
“Sudah tiga jam kita meninggalkan Singapura, kira-kira.”
“Kutebak ini penerbangan keduamu ke Fukuoka?”
“Tumben menebak?” kataku, agak meledek.
“Soalnya kamu belum membatinkannya.”
“Iya, benar, ini kedua kalinya aku ke Fukuoka. Tahun lalu aku ke sana untuk pertama kalinya. Benar-benar untuk urusan kerja.”
“Untuk yang sekarang aku tahu, kamu ke sana karena kabar kematian Ara.”
Aku menarik napas panjang. Kuikat rambut gondrongku agar tidak semburat ke mana-mana. Kusandarkan kepalaku. Kupejamkan mataku. Kuingat-ingat suara ibu Ara ketika meneleponku satu bulan yang lalu. Suaranya serak. Dari suara itu, aku menebak usianya sudah kepala enam. Aku belum pernah bertemu dengannya, meskipun ia pernah mengunjungi Ara ketika dinas di Surabaya.
“Saya ibunya Ara,” katanya waktu itu dengan bahasa Indonesia compang-camping. “Kuharap kabar ini tidak mengejutkanmu. Tapi ada sesuatu yang harus aku sampaikan. Ini permintaan Ara.”
“Mengapa tidak Ara sendiri yang menyampaikannya?” aku diselimuti penasaran.
“Begini,” suaranya melirih, terpotong sejenak, “Ara memilih jalan lain. Ia mengakhiri hidupnya,” ia menangis sesenggukan, sedangkan aku seperti ditikam ribuan pisau, tanganku bergetar saat memegang telepon genggam. “Ia gantung diri.”
Aku tak mampu melontarkan sehuruf pun. Keringat bermunculan di jidatku. Suasana ruang kerjaku mendadak panas, meskipun ada AC bersuhu 20 derajat.
“Kalau bisa dan ada waktu, datanglah ke sini. Ada sesuatu dari Ara. Bukan benda penting, tapi Ara ingin kamu mengambilnya.”
“Apa?”
“Tidak pantas disampaikan melalui telepon.”
Sambungan telepon terputus. Entah siapa yang memutuskannya, aku atau ibu Ara, aku susah mengingatnya. Yang jelas, setelah percakapan itu, ia mengirim alamat rumahnya di Kitakyushu melalui pesan teks.
“Usahakan datang ke sini, mengambil barang peninggalan Ara. Kapan pun kamu datang, kami akan menunggumu,” begitu teks yang kubaca setelah deretan huruf tentang alamat rumah.
Kubuka mataku. Napas panjang kembali kutarik. Mengembuskannya perlahan. Kulihat jendela. Masih gelap. Di bawah masih berjajar bintik-bintik lampu peradaban. Tiba-tiba Yuma memegang tanganku. Sangat lama. Aku pasrah, tak ada pilihan selain diam.
“Pekerjaanmu di Fukuoka sungguh berat,” kata Yuma sambil melihat mataku sangat dalam. “Kematian memang pahit. Aku pernah mengalaminya. Tunanganku sebenarnya sudah meninggal; tadi aku bohong. Satu bulan yang lalu dia bunuh diri.”
Kepalaku serasa terbelah. Satu sisi memikirkan Ara, sisi lainnya berusaha memecahkan teka-teki Yuma.
“Maaf, Yuma, kamu sebenarnya perempuan macam apa?”
“Seperti yang kamu pikirkan!” katanya agak keras, sehingga beberapa penumpang menengok ke arah kami.
Yuma spontan menarik wajahku. Menenggelamkan wajahnya ke wajahku. Aku tak bisa berkata-kata ketika lidahnya menjilat bibirku, lembut dan hangat. Kami berciuman sangat lama hingga pesawat mendarat di Bandara Fukuoka. ***
.
.
Kitakyushu-Surabaya, 2021
Eko Darmoko, prosais kelahiran Surabaya. Cerpen-cerpennya dimuat di sejumlah media massa. Buku kumpulan cerpennya, Revolusi Nuklir (BasaBasi, 2021), masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021. Kumpulan cerpen lainnya adalah Ladang Pembantaian (Pagan Press, 2015). Bergiat di Komunitas Sastra Cak Die Rezim Surabaya. Instagram @ekodarmoko.
.
Bandara Fukuoka. Bandara Fukuoka. Bandara Fukuoka. Bandara Fukuoka. Bandara Fukuoka. Bandara Fukuoka.
.