Cinta Kasih Nenek

Cerpen Siska Dewi (Waspada, 09 Januari 2022)

SUDAH hampir seminggu ayah tak pulang ke rumah. Aku bertanya kepada mama, ia bilang ayah tak akan pernah kembali lagi. Ia sudah bahagia dengan orang lain. Sekarang saatnya kita yang mencari kebahagiaan sendiri.

“Besok kita akan pindah ke rumah nenek di kampung,” ucap mama kepadaku.

“Ma, tapi kenapa pindah?” Tanyaku.

“Rumah ini akan dijual dan mama akan pergi ke Malaysia untuk bekerja minggu depan. Kau mama titipkan ke nenek,” sahutnya.

“Ma, Difa gak mau tinggal sama nenek. Difa mau ikut mama,” rengekku pada mama. Bagaimana bisa aku hidup dan tinggal dengan orang tua rentah, seperti nenek.

“Tidak Difa. Mama tidak bisa membawamu,” jawabnya.

Aku terdiam. Tak ada yang peduli kepadaku, bahkan ibu kandungku sendiri. Tak ada yang ingin dilahirkan dalam keadaan seperti ini, punya dua orang tua, tetapi mendapat perlakuan layaknya yatim piatu. Mereka sibuk dengan masalahnya masing-masing. Tak pernah memikirkan perasaan anak yang masih kecil dan butuh kasih sayang. Tetapi, semarah apapun terhadap takdir, tetap saja mereka adalah orang tuaku. Jika hanya melihat kesalahan pastilah ada. Tapi setitik saja lihatlah pada kenangan bahagia, maka akan ada kelapangan hati dan penghormatan. Mungkin, keputusan ayah dan mama, terbaik untuk mereka berdua. Aku berusaha ikhlas menerima kenyataan walau harus menahan penderitaaan.

***

Pagi ini matahari malu-malu menampakkan sinarnya. Tak lama rintik hujan turun membasahi tanah kering. Aku berjalan melewati lereng gunung dengan mama. Ia membawaku ke suatu tempat yaitu rumah nenek. Jalannya terjal dan curam. Bahkan jaringan internet saja tidak sampai di sana.

Setelah berjalan beberapa menit sampailah kami di sebuah gubuk tua. Aku memperhatikan sekeliling, banyak ditumbuhi rumput liar dan rontokkan dedaunan. Terdapat seorang nenek yang tengah menunggu kehadiran kami di teras rumah. Nenek tersenyum menyambut kedatanganku dan mama. Ia berjalan menghampiri kami menggunakan bantuan tongkat.

Mama memegang pundakku dan berkata, “Difa, dengar! Kamu tinggal dengan nenek. Untuk saat ini mama belum bisa membawamu, bersabarlah, jika mama sudah punya uang untuk membeli rumah, kita akan kembali ke kota,” ucap mama padaku.

“Mama … Difa ga suka di sini,” sahutku.

“Difa, kau harus sabar.”

Aku mengecup punggung tangan mama. Ia pamit untuk pergi dan meninggalkan aku dengan nenek. Air mata mengalir, seakan mengaliri kesedihan mendalam.

“Difa, ayo masuk,” ucap nenek sambil menggandeng tanganku.

Aku masuk ke gubuk reotnya. Kayunya sudah lapuk dan berdebu. Tempat tidurnya hanya beralaskan tikar saja. Hanya ada satu bantal. Bagaimana bisa aku tinggal di tempat seperti ini bersama nenek tua rentah yang berjalan saja sudah susah?

“Difa mau makan?” Tanya nenek sembari menyodorkan singkong rebus.

“Tidak. Aku masih punya makanan yang tadi kubeli. Lagi pula aku juga tidak suka dengan makanan seperti ini,” jawabku.

Aku sama sekali tidak nafsu makan melihat masakan nenek. Hanya singkong yang direbus saja.

***

Aku duduk termenung di teras rumah. Melamuni nasib yang entah sampai kapan akan berakhir. Tinggal bersama nenek di pinggir hutan tanpa teman dengan makan seadanya.

“Difa …,” panggil nenek yang memecah lamunanku.

“Nenek akan ke kota nanti, kamu mau ikut?” Tanyanya.

“Ya,” sahutku datar.

Kami berjalan jauh untuk mendapat angkutan umum. Melewati jalan terjal dan menanjak agar dapat ke luar desa. Kulihat nenek begitu kesusahan berjalan. Tongkatnya tersangkut di akar pohon.

“Nek, cepat, dong. Difa sudah capek nih,” ucapku kesal.

Tetap saja nenek berjalan dengan lambat. Tibalah kami di pinggir jalan raya untuk menunggu angkutan umum yang akan membawa kami ke pasar. Setelah tiba di pasar. Aku melihat sebuah brosur promo ayam kentuki yang tergeletak di tanah. Kuambil dan perlihatkan brosur itu kepada nenek agar mau membelikan makanan seperti ini. Ia mengambil brosur itu dan menyuruhku untuk menunggunya di sini sampai dia kembali. Tak lama nenek kembali dengan membawa beberapa belanjaan. Kulihat ia membawa ayam yang masih hidup bukan ayam kentuki. Ternyata ia tidak paham dengan maksudku tadi.

***

Nenek sudah memasak ayam yang ia beli tadi. Ia memanggilku untuk makan ayam yang telah dimasaknya. Ini benar-benar di luar dugaanku. Ayamnya sangat berbeda jauh seperti yang ada di gambar.

“Ini ayam apa, Nek? Buruk sekali,” teriakku sambil melempar ayam di hadapan nenek dan langsung pergi meninggalkannya.

Ia begitu sabar dan tidak pernah marah. Seburuk apapun perlakuanku, hanya sabar yang luas di dadanya. Aku sedih bahkan hari ini untuk makan ayam sesuai keinginanku saja begitu sulit didapatkan. Tidak seperti sebelumnya.

***

Keesokan harinya, aku meminta nenek membeli boneka beruang yang besar agar aku tidak kesepian. Ia menganggukkan kepala pertanda setuju. Pagi-pagi, nenek sudah pergi entah ke mana. Tak kudapat dia di kamar, di dapur dan sekeliling rumah. Dari pagi hingga ke sore, tak kunjung ia pulang ke rumah. Aku tetap menunggunya di teras rumah.

Sore itu, seorang nenek tanpa payung dan telanjang kaki, menembus hujan yang lumayan deras sembari membawa boneka beruang besar dibungkus plastik transparan. Bajunya kuyup. Ia kesusahan berjalan, sebab tongkatnya tersangkut akar-akan pohon. Baru kali ini hatiku merasa iba melihat perjuangan nenek. Betapa baik dirinya. Padahal, jika diingat perlakuanku kepadanya sangatlah kasar dan buruk.

Nenek tiba dengan nafas terengah-engah.

“Difa… Ayo ambil bonekamu,” ucap nenek sambil menyodorkan bonekanya kepadaku.

“Terima kasih, Nek,” sahutku.

Ia langsung masuk ke rumah untuk membersihkan dirinya. Kakinya berdarah, badannya kuyup dan tubuhnya menggigil sebab diguyur hujan sore itu. Aku benar-benar merasa kasian dengan nenek. Malamnya ia berselimut kain dan menggigil. Kutempelkan tangan di keningnya. Suhu badannya tinggi.

“Nenek sakit? Biar Difa ambil obat ya,” tanyaku.

Ia hanya terdiam dan senyum. Tak habis pikir, saat sakitpun nenek masih bisa tersenyum. Padahal, ia sakit sebab pagi hingga ke sore hari pergi mencari boneka. Aku benar-benar bersalah terhadap nenek. Aku menyuruhnya meminum obat demam pemberian mama waktu itu sebagai ungkapan balas budiku yang memang tak seberapa nilainya dibanding pengorbanan dan ketulusan nenek. Kutatap wajahnya penuh keriput di pipi dan dahi sambil memijat kakinya yang tinggal tulang dan kulit saja.

“Nenek istirahat, ya.” Aku memeluknya. “Maafkan Difa,” lanjutku.

Nenek membalas pelukanku. Ia masih dengan senyum yang sama. Pelukannya menjelma asmaraloka seorang nenek terhadap cucunya. Tak bisa kuucapkan, betapa bersyukurnya aku. Walaupun perih ditinggal seorang ayah dan ibu, tetapi Tuhan gantikan sosok malaikat yang melebarkan sayap ketulusan dan sayang kepadaku. ***

.

.

Rumah Diksi, 02 Agustus 2021

.

Cinta Kasih Nenek. Cinta Kasih Nenek. Cinta Kasih Nenek.

Arsip Cerpen di Indonesia