Pohon Beringin untuk Kakek

Cerpen Indarka PP (Suara Merdeka, 09 Januari 2022)

TIADA seorang pun mengira, pohon beringin di bukit, perbatasan antara kampung Jerami dengan kampung Randu, itu tumbang. Terlebih tak ada kejelasan terkait penyebabnya, semisal hujan atau angin lebat. Suatu malam, dentuman robohnya pohon itu mengejutkanku dan Kakek yang baru selesai menunaikan shalat Isya di langgar. Dengan tergopoh-gopoh, aku menemani Kakek yang bersikeras ingin ke bukit. Di sana kami menyaksikan pohon berumur ratusan tahun itu telah terjungkal, akarnya tampak ke permukaan.

Hari-hari setelahnya, di sudut-sudut kampung tiada topik pembicaraan selain tumbangnya pohon beringin. Warga seolah-olah larut dalam ketidakpercayaan lantaran pohon itu tumbang secara tiba-tiba. Dan tampaknya hal tersebut juga dirasakan Kakek. Sebab beberapa hari kemudian, aku mulai menyadari keganjilan pada kakek, ada yang berubah dari sikapnya. Kakek jadi gemar menyendiri dan melamun. Ia juga seperti tidak punya keinginan untuk melakukan kegiatan apa-apa sekalipun hanya sederhana. Padahal setahuku Kakek dulu termasuk orang yang tidak tahan kalau diam terlalu lama.

Lantaran sudah satu bulan Kakek bersikap demikian, aku bertanya pada Ibu. Dan ternyata Ibu juga sepakat dengan apa yang kupikirkan tentang sikap aneh Kakek. Aku lantas bertanya apa yang terjadi pada Kakek, namun jawaban Ibu tidak membuatku puas.

“Masa tua menjadi masa-masa perenungan atas hidup yang sudah dilampaui,” kata Ibu.

“Bukankah perenungan bisa dilakukan kapan saja dan tidak perlu menunggu tua, Bu?”

“Sudahlah, yang penting kakekmu masih sehat.”

Aku sebenarnya heran. Dari mana Ibu bisa menilai orang yang sering menyendiri dan melamun seharian itu sehat?

“Apa semua itu ada hubungannya dengan pohon beringin, Bu?” tanyaku lagi.

Ibu melengos. Ia kemudian berlalu tanpa menjawab pertanyaan terakhirku. Sementara aku masih bertahan duduk di pelataran rumah sisi barat, memandangi Kakek yang duduk bertopang dagu, melamun di sisi timur.

Aku hanya khawatir kalau sikap Kakek tersebut pertanda hal buruk. Bisa berkaitan dengan kesehatan jiwa atau raganya. Oleh sebab itu, kuberanikan diri mendekati Kakek. Aku ingin mencoba mengajak Kakek berbincang tentang apa pun yang sekiranya bisa membuatnya berhenti melamun. Namun ketika aku sudah persis berada di sebelahnya, Kakek cepat-cepat menanjakkan tongkat. Ia berdiri, kemudian berjalan pelan masuk ke rumah lagi.

Jujur, aku jadi terenyuh melihat keadaan Kakek. Bagaimana tidak. Dahulu, kedekatanku dengan Kakek melebihi kedekatanku dengan Bapak dan Ibu. Aku sering ikut Kakek tiap kali ia pergi ke sawah. Saat itulah Kakek menunjukkan padaku nama-nama pohon di sepanjang jalan yang kami lalui. Dan sepulang dari sawah—ini yang paling menyenangkan, Kakek selalu memberiku uang dua ribu. Katanya itu imbalan karena sudah menemaninya.

Aku sangat yakin Kakek menyanyangiku, sebagaimana aku menyayanginya. Salah satu buktinya, ketika dulu Ibu memarahiku dan hampir melempariku sapu, Kakek tiba-tiba muncul mencegah. Lantas Kakek balik memarahi Ibu.

“Kau pikir kekerasan bisa menyelesaikan segalanya?” bela Kakek, kala itu.

Malam ini aku sengaja menyendiri menikmati sebatang rokok dan segelas kopi di ruang tengah, sembari merenungkan cara supaya Kakek kembali seperti semula. Selang beberapa menit, aku terkejut mendengar teriakan Ibu.

“Kakek hilang!” seru Ibu, gugup.

Kami langsung mencari Kakek. Memeriksa pelataran rumah, pekarangan, sampai bertanya ke para tetangga. Tetapi Kakek tidak ada. Setelah setengah jam pencarian, kami menemukan Kakek di bukit, tempat pohon beringin yang sudah tumbang itu berada. Lantas kami mengajak Kakek pulang. Ketika tiba di rumah dan kutanyai perihal maksudnya pergi ke tempat itu, Kakek hanya diam. Tak lama Kakek pun terlelap.

Aku yang tak habis pikir tentang perbuatan Kakek, kembali duduk di ruang tengah. Kusesap sisa kopiku tadi. Aku lantas memejamkan mata, kepalaku sedikit pening.

Seperti sengaja melintas dalam benak, aku mendadak ingat suatu hal. Pikiranku mengembara ke masa lalu, tepatnya saat aku menemani Kakek berbincang dengan Mbah Tirto. Kala itu mereka membicarakan perihal rasulan. Tentu aku tak ingat isi perbincangan itu secara terperinci, kendati demikian ada satu hal yang masih tertinggal jelas di otakku hingga saat ini. Mbah Tirto meminta Kakek untuk mengantar sesajen ke pohon beringin lagi. Ketika mendengar hal tersebut, kulihat Kakek hanya tersenyum. Sesaat kemudian dengan halus Kakek menolak permintaan Mbah Tirto, seraya berkata bahwa ia tak pantas lagi melakukannya.

Setelah mengingat peristiwa silam itu, timbullah keinginan dalam diriku untuk menemui Mbah Tirto. Mumpung belum terlalu larut, aku bergegas ke rumahnya. Ketika tiba di sana, aku langsung mengutarakan semua yang terjadi pada Kakek akhir-akhir ini, termasuk peristiwa yang baru saja terjadi.

“Kakekmu belum cerita tentang peristiwa pohon beringin, Nang?” tanya Mbah Tirto setelah aku selesai berbicara.

Aku menggeleng. Sementara Mbah Tirto menghela napas panjang sehingga peyot di pipinya semakin kentara.

Mbah Tirto mulai bercerita. Katanya, dahulu Kakek adalah kuncen kampung Jerami, yang salah satu tugasnya mengantar sesajen ke pohon beringin setiap hendak melaksanakan rasulan. Ketika Kakek sedang mengantar sesajen ke tempat itu, tiba-tiba sekelompok orang dari kampung Randu mendatangi Kakek sambil memekikkan takbir dan mengacung-acungkan pedang. Itu puncak dari perbedaan antara warga kampung Jerami dan kampung Randu karena sebelumnya seorang dari kampung Randu telah menemui kakek. Ia meminta Kakek berhenti melakukan perbuatan yang dianggapnya syirik.

“Kakekmu tidak goyah. Ia kukuh ingin melestarikan adat sebagaimana yang leluhur ajarkan.”

Mbah Tirto berhenti sejenak. Meski suaranya tak begitu jelas, aku berusaha sebaik mungkin menangkap apa yang sedang ia kisahkan.

Saat peristiwa itu terjadi, kebetulan ada seseorang yang tak sengaja melihat, dan langsung memberi tahu Mbah Tirto. Mbah Tirto lekas mengajak beberapa warga menyusul Kakek. Kedatangan Mbah Tirto pun menyulut adu mulut. Situasi kian menegang, sementara pekikan takbir tak henti-hentinya menggema dari sorai kelompok kampung Randu.

“Tetapi sungguh Tuhan Mahabaik, Nang.”

Mbah Tirto lanjut menerangkan. Katanya, ia merasa Tuhan enggan melihat pertumpahan darah, karena tak lama, awan yang kala itu pucat, pecah jadi hujan sangat deras disertai petir. “Kau tahu apa yang terjadi? Seorang dari kampung Randu tersambar petir,” terangnya dengan suara parau.

Aku spontan memegang lutut Mbah Tirto. Namun Mbah Tirto tak bereaksi apa pun, ia masih berbicara. Bahwa setelah satu orang tergeletak tak berdaya, semua orang akhirnya berlindung di bawah rimbunnya pohon beringin. Melayangnya satu nyawa itu, semacam jadi cambuk bagi kelompok kampung Randu maupun kampung Jerami. Saat itulah, Kakek sebagai wakil kampung Jerami membuat kesepakatan dengan pimpinan kelompok kampung Randu untuk menyudahi pertikaian, serta saling berjanji untuk hidup berdampingan tanpa mengusik satu sama lain.

Aku meresapi cerita Mbah Tirto. Dan yang paling membuncahkan emosiku adalah ketika mengetahui Kakek dikata-katai sebagai orang musyrik. Sungguh, aku bisa merasakan betapa pedih hati kakek kala itu.

“Mungkin…,” ucap Mbah Tirto sembari menepuk pundakku, membuat lamunanku buyar, “Kakekmu teringat masa itu, Nang. Ketika kenyataannya pohon beringin itu telah tumbang, kakekmu serasa kehilangan simbol perdamaiannya,” jelas Mbah Tirto.

Aku lantas mengucap terima kasih pada Mbah Tirto atas kesediaannya bercerita. Setelah itu aku pamit untuk kembali ke rumah. Namun ketika langkahku sampai di ambang pagar, Mbah Tirto memanggilku. Aku pun menoleh.

“Mungkin sekarang giliranmu.” Senyum Mbah Tirto mengambang di antara gurat matanya.

Setiba di rumah, sewaktu aku hendak tidur, pesan Mbah Tirto itu masih berputar-putar di kepalaku. Aku belum begitu paham giliran apa yang seharusnya kuemban. Bahkan aku tak merasa memiliki suatu hal yang layak untuk kuperjuangkan. Dalam bayang-bayang kebingunganku sendiri, di bawah temaram lampu malam yang diselimuti keganjilan, aku terlelap beberapa saat kemudian.

Aku mengerjap. Cahaya telah mengintip lewat jendela. Kontan pikiranku tertuju pada Kakek lagi. Aku mendadak teringat, Kakek pernah menunjukkan padaku pohon beringin kecil yang tumbuh di sebuah jalan menuju sawah. Maka tak menunggu lama, aku pun bergegas ke sana. Ketika tiba di tempat yang kumaksud dan berhasil menemukan pohon beringin itu, aku sangat takjub. Ternyata di sekitarnya tumbuh pula pohon beringin-pohon beringin lain yang ukurannya lebih kecil. Kemudian aku mencabut beberapa pohon beringin kecil itu sampai ke akar. Setelah berhasil, aku gegas melangkah pulang.

Dari kejauhan, aku melihat Kakek sudah duduk melamun di pelataran rumah, persis yang biasa ia lakukan. Seperti yang pernah kubilang, setiap kali melihat Kakek menyendiri dan melamun, hatiku jadi terenyuh. Karena itu, aku berharap Kakek akan senang atas pohon beringin yang sudah kubawa ini.

Jarak antara aku dengan Kakek sekarang tinggal dua depa. Namun, saat aku mengambil jarak lebih dekat lagi, Kakek malah bangkit dari duduknya, dan selangkah demi selangkah ia pun menjauh.

Sementara aku mematung dan pasrah. Semangat dalam tubuhku seketika luruh. Pohon beringin yang kupegang lolos dari genggaman. Aku tertunduk dan memejamkan mata, menanti kenanganku bersama Kakek hadir untuk terakhir kalinya. Di tengah perasaanku yang semakin tak keruan, aku terkejut mendengar sebuah pertanyaan.

“Dari mana kau mendapat pohon ini?”

Spontan aku membuka mata. Rupanya Kakek sudah berdiri persis di hadapanku. Kami pun saling bertaut pandang. Aku yang tak kuasa menahan gejolak rindu pada Kakek, seketika memeluknya erat. Dalam dekapan Kakek, kehangatan mulai menjalar ke sekujur tubuhku. Kehangatan yang hanya bisa kuperoleh dari seorang dengan kelembutan hati, kebersihan jiwa, dan kearifan sikapnya, seperti kakekku ini. ***

.

.

Indarka PP, lahir di Wonogiri. Alumnus Fakultas Syariah IAIN Surakarta ini bermukim di telatah Kartasura dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.

.

.

Publikasikan karya terbaik Anda (puisi atau cerpen) di Suara Merdeka. Naskah dikirim ke email sastrasuaramerdeka@gmail.com. Jangan lupa sertakan nomer ponsel Anda. Panjang naskah sekitar 7.000 karakter. Ditunggu. Terima kasih. (Redaksi)

.

Pohon Beringin untuk Kakek. Pohon Beringin untuk Kakek. Pohon Beringin untuk Kakek.

Arsip Cerpen di Indonesia