Gaia

Cerpen Lyra Langit Timur (Media Indonesia, 16 Januari 2022)

“GUK! Guk! Guk!” gonggongan anjing terdengar beberapa kali. Dengan malas Kisma beranjak dari kasurnya. Rasanya baru semenit ia memejamkan mata, setelah malam panjang ditemani tumpukan buku tugas. Ia berusaha mengumpulkan tenaga untuk berjalan. Tubuhnya lemas sekali untuk diajak ke kamar mandi.

Hari Senin, hari yang menyebalkan bagi Kisma. Ia memulai pagi ini dengan sesuatu yang sangat ingin dihindarinya. Matematika. Materi yang membutuhkan pemikiran ekstra dan waktu yang agak lama untuk memahaminya ketimbang mata pelajaran lain. Kisma bukan termasuk murid yang cepat dalam memahami sesuatu. Ia perlu waktu lebih lama dari teman-temannya. Pembelajaran daring terasa lebih melelahkan dan membosankan. Otak harus dipaksa belajar lebih keras karena minimnya penjelasan dari guru.

“Aduh, capek banget!” gerutu Kisma sambil memijat bahunya. Empat jam sudah ia sibuk dengan tugas yang menumpuk. Kertas tak lagi tertata rapi dan berserakan di lantai kamar. “Sampai kapan ini akan bertahan? Akan seperti apa masa depan setelah ini? Apakah virus ini bisa hilang?” Alam pikirnya berbicara. Timbul tenggelam berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya. Kepala Kisma terasa pusing. Direbahkan badannya ke kasur kemudian menatap dinding kamar dengan tatapan kosong. “Apa yang sebenarnya Tuhan kehendaki dengan pandemi ini?” pikirnya sebelum kesadarannya perlahan menghilang.

***

Kisma membuka mata perlahan dan mengamati tempat itu dengan teliti. “Di mana aku?” batinnya heran. Ia mencoba melihat sekelilingnya. Tidak ada seorang pun.

Tempatnya berada terasa sangat asing, tapi indah. Dipenuhi dengan bermacam bentuk tumbuhan. Bunga-bunga beraneka warna bermekaran dan air terjun mengalir deras. Indah sekali.

Kisma mencoba mendekati salah satu rumpun mawar kuning yang menarik perhatiannya. Banyak kupu-kupu dengan sayap warna-warni terbang menggerombol, membentuk sebuah lingkaran. Semakin diamati, semakin banyak kupu-kupu yang beterbangan. Selagi asyik mengagumi pemandangan di hadapannya, Kisma dikejutkan seorang perempuan cantik yang tiba-tiba berdiri di dekatnya. Perempuan itu berpakaian serbaputih berhiaskan berbagai bunga, termasuk mahkota bunga di kepalanya. Mirip seperti peri dalam buku-buku dongeng yang pernah ia baca. Mata Kisma membelalak, mulutnya menganga.

“Halo, anak manis!” sapa perempuan itu sambil tersenyum. Kisma mengerutkan alisnya bingung. “Perkenalkan, namaku Gaia.” Ia memperkenalkan diri sambil berputar anggun memperlihatkan busananya.

“Namamu Kisma, bukan?” tanyanya seolah memastikan. Kisma menjawab dengan anggukan dan bertanya balik dengan suara pelan, “Bagaimana aku bisa di sini?”

Gaia menatap lembut Kisma sambil berkata, “Kau adalah orang yang dipilih untuk ikut bertualang bersamaku, Kisma. Melihat apa yang sedang terjadi di dunia.”

“Apakah masih ada hal yang menakjubkan untuk bisa dilihat saat pandemi seperti ini? Bukankah semua orang hanya di rumah?” tanya Kisma sedikit tak percaya.

“Memang, kita akan melihat sepinya kota. Namun, ada hal luar biasa yang ingin kutunjukkan padamu,” kata Gaia meyakinkan. “Sebuah perubahan yang menakjubkan,” bisiknya pada Kisma sambil tersenyum.

Kisma terkejut dengan kalimat terakhirnya. Sebuah perubahan?

Gaia menggandeng tangan Kisma yang mungil sambil berkata, “Sudahkah kau siap Kisma? Mari bertualang!” lanjutnya tanpa menunggu jawaban Kisma.

Kisma hanya tersenyum kebingungan dan penasaran apa yang akan ditunjukkan perempuan cantik itu. Mereka terbang dengan menaiki awan putih empuk yang entah dari mana tiba-tiba sudah ada di belakang Kisma.

“Tugas mengawasi Bumi ini, terkadang membuat hatiku geram. Banyak manusia yang terlalu ceroboh untuk menjaga buminya sendiri. Manusia tak memberi kesempatan Bumi untuk memperbaiki dirinya. Kebanyakan manusia hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Sampah berserakan di mana-mana, mesin pabrik dijalankan tanpa henti membuat udara panas dan asapnya menyebabkan udara semakin buruk. Akibat sifat manusia yang mulai malas menggerakkan tubuh, mobil dan motor menjadi andalan pergerakan mereka. Hutan mulai dibabat habis, laut dipenuhi sampah dan mesin kapal yang meraung tanpa henti,” terang Gaia panjang lebar. Nada suaranya terdengar sedikit jengkel.

“Oh, jadi dia itu dewi pengawas alam?” gumam Kisma dalam hati.

Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di sebuah kota. Jalanan lengang dan hanya aparat yang berseliweran menjaga jalanan. Di kejauhan, Kisma melihat pemandangan pucuk-pucuk gunung yang tertutup salju dengan rasa takjub.

“Sekarang, kita sedang di Distrik Jalandhar Punjab, India,” tutur Gaia menjelaskan.

“Panorama yang menakjubkan ini sempat tidak dapat dilihat selama 30 tahun terakhir,” ujar Gaia sedikit kecewa.

“Ada apa dengan 30 tahun terakhir?” sahut Kisma ingin tahu.

“Kualitas udara buruk yang disebabkan oleh aktivitas manusia menyebabkan hal-hal indah seperti ini tertutupi oleh udara kotor. Saat pandemi seperti ini, pemberlakuan karantina wilayah berimbas pada perbaikan kualitas udara. Udara menjadi lebih bersih dan penampakan pegunungan Himalaya menjadi salah satu dampak positif dari pandemi ini.”

“Lihatlah penduduk yang ada di sana Kisma, mereka sangat senang bisa melihat pemandangan langka ini!” dengan gembira Gaia menunjuk ke arah suatu rumah berwarna biru. Di berandanya, tampak sejumlah orang dewasa dan anak-anak kecil bercengkerama menikmati pemandangan langka tersebut.

“Ayo,” Gaia menggamit pundak Kisma.

Beberapa saat kemudian, Gaia dan Kisma sudah berada di tempat berbeda. Mereka berdiri di salah satu bibir pantai yang tenang.

“Tahukah Kisma, kehidupan makhluk laut jauh lebih tenang saat pandemi seperti ini. Kesibukan transportasi laut juga berkurang. Ini menjadi berkah bagi berbagai hewan di laut,” tutur Gaia sambil menikmati angin pantai.

“Berkah apa yang kau maksudkan, Gaia?” tanya Kisma bingung.

“Kisma, manusia tak mengerti bahwa aktivitas mereka sudah membuat kehidupan laut menjadi terganggu. Liahatlah paus yang sedang menyembul di permukaan laut itu, mereka sangat menikmati suasana rumah mereka yang baru,” jelas Gaia menunjuk ke tengah laut.

“Paus adalah hewan laut yang berkomunikasi dan mencari makan dengan bantuan gelombang suara. Pada saat transportasi laut ramai lalu-lalang di tengah laut, itu sangat mengganggu Paus. Paus dapat menangkap kebisingan itu dengan jelas walau dari jarak yang jauh,” lanjut Gaia.

“Sampah plastik di pantai menurun drastis karena tak ada pengunjung yang datang. Hewan seperti penguin juga menjadi lebih mudah untuk memberikan makan anaknya yang ada di bibir pantai karena tak ada keramaian manusia yang mengusik mereka,” Kisma tersenyum dan mulai mengerti ke mana arah pembicaraan Gaia.

“Ada satu tempat lagi yang ingin kutunjukkan padamu, Kisma. Yuk!” dengan senyum lembut, Gaia menggandeng Kisma. Sekejap saja mereka sudah berada di sebuah padang rumput yang sangat luas. “Selamat datang di padang rumput Maasai Marai, Kenya,” kata Gaia.

Tiba-tiba, ada makhluk yang melesat di depan mereka. Kisma terkejut dan melangkah mundur tanpa sadar. Mata makhluk itu melotot tajam melihat Kisma bagai mangsa yang ingin diterkam. Kisma segera bersembunyi di belakang tubuh Gaia, berupaya melindungi diri. Gaia hanya tertawa sambil mengusir makhluk itu untuk menjauh.

“Tak apa Kisma, ia hanya penasaran denganmu,” kata Gaia menenangkan.

“Kau tahu itu apa, Kisma?” tanya Gaia kepada Kisma yang masih terkejut.

“Apa tadi cheetah?” jawab Kisma sedikit ragu.

“Benar Kisma, tadi adalah cheetah. Mamalia tercepat di bumi,” sahut Gaia.

“Pada saat ibu cheetah berburu, mereka meninggalkan anaknya di tengah padang rumput. Karena pada waktu berburu, banyak musuh yang juga ingin memiliki hasil buruan induk cheetah. Jika setiap saat anak cheetah selalu mengikuti langkah induknya, itu akan sangat berbahaya untuk anak cheetah karena mereka bisa menjadi incaran musuh induknya. Seperti harimau dan hyena, mereka tak akan ragu membunuh anak cheetah untuk dijadikan santapan lezat.”

“Apakah ini juga ada kaitannya dengan manusia?” tanya Kisma mencoba mengikuti alur cerita Gaia.

Sambil tersenyum Gaia menjawab, “Akan selalu ada kaitannya dengan manusia. Ternyata kau sudah mulai mengerti Kisma,” tangan Gaia menepuk-nepuk bahu Kisma seperti teman dekat.

“Pada saat cheetah sudah berhasil menangkap hasil buruannya, ia harus memanggil anak-anaknya yang berjarak ratusan meter darinya dengan panggilan lembut dan panggilan itu tak boleh sering-sering dikeluarkan agar musuh tak mengetahui keberadaan anak-anaknya,” jelas Gaia.

“Sebelum karantina wilayah diterapkan, perburuan cheetah menjadi sesuatu yang paling ingin dilihat para turis. Sekarang, hampir tak ada gangguan manusia yang membuat kebisingan itu. Induk cheetah dapat memanggil anaknya dengan panggilan lembut tanpa mengulang dan anaknya dapat mendengar suara induknya dengan jelas,” Gaia mengakhiri penjelasannya.

“Kisma, pertualangan kita sampai di sini saja. Namun, ada satu pesan yang ingin kusampaikan kepadamu. Manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam. Mereka harus mengerti bahwa alam juga ingin dijaga, dilestarikan, dan memperbaiki dirinya. Bijaklah saat menggunakan hasil alam. Sampaikan pesan baik ini kepada orang-orang di sekitarmu, juga untuk dirimu sendiri,” Gaia berkata sambil berjalan lurus ke depan dan perlahan menghilang.

***

“Kisma, sudah sore ini, ayo mandi!” Seruan ibu membangunkan Kisma.

Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, sesaat bingung apa yang sedang terjadi. Perlahan Kisma berdiri dan membuka jendelanya lebih lebar. Ia menghirup udara segar dari luar. Bunga tidur itu telah membuka mata hatinya.

Alam sangat berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Pandemi ini memberi kesempatan bumi untuk memperbaiki dirinya. Adanya karantina wilayah, tanpa disadari telah membantu alam semesta untuk bernapas dan memperbaiki dirinya. Ini menakjubkan. Jika kita dapat menjaga dan lebih mencintai alam ini, alam pun akan mencintai manusia. Dengan itu, kita akan hidup di masa depan dengan keadaan bumi yang lebih baik.

Kisma tersenyum, ia telah menemukan jawaban yang selama ini ia cari. ***

.

.

Radin Arundati Rasendriya Priartono, empunya nama pena Lyra Langit Timur, ialah pelajar kelas IX SMPN 3 Surakarta. Cerpennya ini ialah Pemenang I kategori pelajar Sayembara Cerpen Media Indonesia 2021.

.

.

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia