Cerpen Sigit Widiantoro (Republika, 16 Januari 2022)
SIMBOK ingin ia jadi orang besar. Membawa harum diri dan keluarga, mengangkat tinggi Merah Putih dan nama negara di luar negeri. Tetapi, Simbok ragu dengan keinginannya itu. Mana ada orang besar bernama Panjul. Begitu pikir Simbok. Mustahil.
Simbok tak tahu kenapa: anak satu-satunya itu dipanggil Panjul. Selentingan, ia punya kepala menonjol, tetapi Simbok merasa tidak ada yang aneh dengan kepalanya. Normal-normal saja. Ada pula yang bercerita nama Panjul muncul karena hormat teman-temannya melihat kecerdikan dan kepintarannya. Namun, Simbok keberatan nama Panjul dijadikan sebagai lambang penghormatan bagi anaknya.
Simbok justru khawatir panggilan Panjul akan menutup nama asli anaknya yang tercatat di akte kelahiran dan tertera di kartu keluarga, tertulis di kartu tanda penduduk (KTP), dan terekam di ingatan orang. Panggilan Panjul menjelajahi dan menyelusup ke telinga dan otak, sudut-sudut kamar, dan langit-langit rumah.
Simbok bertambah khawatir karena anaknya itu tak pernah tersinggung, jengkel, marah, terhina, atau dihinakan dengan panggilan Panjul. Ia asyik-asyik saja, malah terkesan senang, bahagia. Ke mana-mana nama Panjul dibawa. Panjul, begitu ia menyebut apabila berkenalan dengan seseorang.
Ia mengaku beruntung dengan nama panggilan itu. Dengan panggilan Panjul, tak ada orang yang tidak mengenalnya. Dan, ia tidak perlu keluar biaya banyak demi dikenal atau terkenal, sedangkan di luar sana banyak orang rela keluar biaya mahal agar menjadi terkenal.
Tentu Simbok jadi jengah. Simbok tak ragu melabrak siapa saja yang memanggil Panjul kepada anaknya. Tak percaya? Tanya pengalaman Kasbi, teman Panjul saat SMA dulu. Lelaki yang belum lama menikah itu pernah mengalami kejadian yang membuatnya tak mau lagi berurusan dengan nama Panjul. Kasbi menyesal, Kasbi tobat. Begini kisahnya.
Suatu hari, Kasbi ingin menemui Panjul, entah untuk urusan apa. Tanpa uluk salam terlebih dahulu, Kasbi sudah berteriak-teriak di depan rumah dengan suara membelah langit.
“Njul! Panjul! Panjul!”
Tak lama, Panjul muncul. Mereka masuk dan mengobrol. Saat hendak pulang, betapa terkejutnya Kasbi mengetahui kondisi sepeda motor miliknya. Motor itu tidak mungkin bisa dinaiki. Ban belakang dan ban depannya kempes, pentilnya hilang. Kasbi marah, Kasbi ingin menghukum pelaku dengan kepalan tangannya.
“Njul, siapa orang yang tega berbuat ini kepadaku?” tanya Kasbi geram.
Belum lagi dijawab, dari belakang muncul suara keras Simbok.
“Aku! Aku yang melakukan itu! Kenapa?”
Kasbi kaget bukan main. Ia tidak menyangka Simbok Panjul tega berbuat itu. Dengan perasaan campur aduk; marah, sedih, kecewa, juga takut, Kasbi bertanya.
“Kenapa motor saya digembosi?”
Jawaban Simbok membuat Kasbi tak berdaya.
“Mau kamu aku panggil Pitak seperti lubang di kepalamu yang tidak ditumbuhi rambut itu? Mau? Mau tidak?”
Kasbi diam, tak menjawab. Kasbi hanya mengelu-elus bulatan di kepalanya yang memang tidak ditumbuhi rambut.
“Aku berbuat ini karena aku tak rela anakku dipanggil Panjul. Paham?”
Kasbi ngeloyor pergi sembari diiringi suara Simbok memberikan ancaman jika berani memanggil lagi anaknya dengan sebutan Panjul. Melihat Simbok yang garang dan Kasbi yang lunglai, Panjul hanya tersenyum kecut.
***
Sepeninggal suaminya yang tewas dalam tugas di daerah konflik, Simbok menempatkan Panjul sebagai yang segalanya baginya. Panjul serupa berlian. Sejak duduk di bangku SD sampai kini kuliah di semester akhir sebuah universitas di Yogya, Panjul tidak pernah tidak jadi juara. Jadi, tak bisa orang merendahkannya.
Simbok paham kadar kerendahan nama Panjul. Panggilan Panjul setara dengan pang gilan Penjol, Peyang, Bawor, Tompel, atau Dobleh. Di telinga saja tidak terdengar indah, apalagi sampai disematkan sebagai tanda seseorang. Betapa terpukulnya orang tua andai mereka tahu anak-anak mereka mendapat panggilan yang tidak semestinya.
Simbok ingat, dirinya dan suaminya mengasuh Panjul dengan cinta yang penuh. Sejak dalam kandungan, mereka merawat benih Panjul seperti benih padi yang mereka tanam dengan hati dan hati-hati. Makan makanan bergizi, doa dilangitkan, menjauhi berbuat buruk dan jahat; semua dilakukan agar bayi selamat.
Panjul menjadi curahan kasih sayang Simbok. Simbok menyisihkan kebutuhan demi seragam, pensil, tas, buku, sepatu, dan uang jajan di sekolah. Simbok juga rela menggenjot sepedanya dan memboncengkan Panjul hanya untuk berburu buku di perpustakaan desa bagi dahaga Panjul akan bacaan.
Sayang, ketika semua usaha dilakukan, di tubuh Panjul seakan tidak tumbuh rasa penghargaan terhadap diri. Simbok tak habis pikir, bagaimana ia bisa seperti itu. Bukankah, makin tinggi tingkat pendidikan seseorang justru makin tinggi ia menghargai diri? Pasti ada yang salah. Demikian Simbok membatin.
Panjul memang sudah sering bilang ke Simbok bila dirinya tak masalah dipanggil Panjul. Nama bukanlah sesuatu yang penting-penting amat, apalagi diagungkan segala. Keberadaan nama tak lebih dari penanda tubuh. Begitu ia berucap. Betapa banyak orang yang punya nama keren, indah, dan bermakna baik, kenyataannya perilaku dan sikapnya jauh dari namanya itu.
Simbok tentu menolak pendapat Panjul. Bagi Simbok, nama adalah doa, harapan, dan penunjuk diri. Orang tua ingin anaknya sehat, jauh dari sakit dan penyakit, mereka tak ragu menamainya Rahayu. Sugih atau Hartanti menjadi harapan agar anaknya kaya. Ahmad penunjuk kalau seorang Muslim, Ketut pasti Hindu-Bali, Yosef mungkin Kristen, Sitompul tentu Batak, dan Asep jelas Sunda.
Simbok tak kuasa membayangkan, bagaimana anaknya itu hendak menata diri bila jadi orang besar nanti. Apalagi, Simbok kerap direndam mimpi Panjul naik kereta kencana berlapis emas. Bagi Simbok, kereta kencana adalah lambang kekuasaan, sedangkan emas pertanda kekayaan. Panjul kelak pasti jadi penguasa yang kaya. Tapi, bagaimana mungkin penguasa yang kaya raya dipanggil Panjul?
***
“Pokoknya, nama Panjul harus kamu hapus!” pinta Simbok tegas di suatu hari.
“Ada apa sebenarnya dengan panggilan Panjul, Mbok?” tanya Panjul jengah.
“Panggilan itu akan jadi beban hidupmu!”
Panjul! Ah! Meski sekadar panggilan, nama Panjul telah merasuk ke benak orang. Simbok tidak tahu, bagaimana cara menghilangkannya. Pasti sulit. Simbok ingat, betapa orang ramai berucap, “Panjul hebat, Panjul mantap,” ketika anaknya itu berdebat dengan seorang pejabat tinggi dalam acara di televisi. Ada bangga menempel di dada, tetapi ada sakit menyelusup di hati.
“Sudahlah, Mbok. Nama Panjul nanti juga hilang dengan sendirinya,” ujar Panjul santai.
“Hilang bagaimana?!” Simbok geram. “Semua orang memanggil kamu Panjul.”
“Kan hanya di kampung aku dipanggil Panjul, di kampus tidak.”
Simbok kaget. Benarkah? Bibir Simbok mengukir senyum. Wajahnya cerah dan matanya berbinar terang.
“Lalu, kamu dipanggil apa di kampus?”
Panjul terdiam, sesaat. Ia tak langsung menjawab. Mulutnya malah bergerak naik turun, seperti komat-kamit tanpa suara. Jawab Panjul kemudian, singkat.
“Che Gu.”
“Che Gu?” ulang Simbok.
Panjul mengangguk seraya benaknya menangkap sosok dokter, pemimpin gerilyawan, pejuang, penulis, diplomat, dan tokoh revolusioner Amerika Latin, Che Guevara yang sama sekali tak ada kemiripan dengannya. Tetapi, begitulah teman-teman memang gil, sebagai penghormatan atas kecakapan dalam memimpin organisasi mahasiswa, sebagai penghargaan atas keberanian saat membela nasib rakyat kecil.
“Che Gu! Cek gu!! Cikgu!!!” Simbok mengulang-ulang kata itu.
Tapi, makin sering terulang, makin lekat benak Simbok pada film kartun dua anak berkepala plontos karya wong seberang yang pernah ia tonton? Pikiran Simbok mengendus. Kenapa ia dipanggil dengan nama itu? Apa ia sebenarnya tidak suka dengan nama sendiri? Terbayang di Simbok bagaimana suaminya yang prajurit TNI mengukir nama.
“Jawari, aku namai anak ini.” Begitu sang suami berpesan kepada dirinya sesaat ia melahirkan bayi laki-laki. “Jawari, Jawa dan RI. Jawa adalah tanah Jawa, tempat kita lahir, hidup, dan menjalani kehidupan. RI adalah Republik Indonesia, negeri yang kita diami dan cintai.”
Simbok bahagia, mengenang, tapi dulu. Kini, ia sedih. Ia tak bisa membayangkan bila Panjul benar-benar mengenakan baju safari atau jas dan dasi nanti. ***
.
.
Taman Pagelaran, Bogor, 12/2021
Sigit Widiantoro lahir di Banjarnegara dan mukim di Bogor. Cerpennya dimuat di berbagai media.
.
Lelaki yang Bahagia Dipanggil Panjul. Lelaki yang Bahagia Dipanggil Panjul. Lelaki yang Bahagia Dipanggil Panjul.
.