Cerpen Siti Maulid Dina (Waspada, 16 Januari 2022)
AH, sial betul. Sudah pertengahan akhir November, masih juga tak kutemukan senja di pelupukmu. Ada apa gerangan? Ini bukan cerita Seno Gumira Ajidarma dalam Sepotong Senja untuk Pacarku. Namun, tak kutemui senja dalam dirimu? Di mana kau sembunyikan semburat jingga bercampur kehitamana pada mega?
Lama kuperhatikan retinamu yang dulu legam, menjelma keemasan. Hah, benarkah senja sudah kau pindahkan ke retina? Bukan lagi di balik pelupukmu. Baiklah, sekarang kau boleh saja menyimpannya di bagian mata. Namun, sekali lagi. Jangan kau simpan dalam bilik yang sering disebut hati. Karena, aku khawatir ada orang terlalu mencintai senja, kemudian mencarinya dan mencuri senja di hatimu. Aku bisa marah besar. Bukan, bukan karena aku cemburu. Bukan pula karena ingin mendominasimu, namun aku cemas kalau kau harus kehilangan senja.
“Esok, temani aku ke gunung, ya.”
Apalagi kalau bukan menyerap keemasan di ufuk barat, tepat di atas gunung. Dasar, penggila senja. Batinku. Tapi, biar begitu, aku pun selalu mengiyakan ajakanmu selagi bisa mengatur jadwal kepergian.
“Mau ngapain di gunung?”
“Biasa.”
Kau tersenyum simpul. Aku membalas senyumanmu yang menampilkan lesung di pipi. Usilku mulai hadir untuk mengganggu. Aku ingin melihat betapa banyak karakter topeng yang kau suguhkan untukku. Mulai dari senyum, marah, merajuk, hingga menangis. Aku menyukai itu.
“Biasa apa?” Godaku.
Benar saja. Seketika wajah teduhmu berubah masam. Kau melirikku dengan tajam, seperti elang kelaparan yang siap menerkam dan mencabikku. Aku malah membalasmu dengan tawa lebar seolah meledek.
“Lah, aku ndak tahu apa kebiasaanmu di gunung. Kita juga tidak pernah ke gunung berduaan. Kau lebih sering ke gunung bersama adikmu.” Celetukku.
Kau malah membuang wajah. Jangan, dengan membuang wajah, aku merasa redup kehilangan senja yang kau simpan dalam retina. Kumohon, kembalikan tatapan teduhmu untuk kuperoleh keindahan emas yang kau simpan di daerah mata. Kirimkan gelombang kehangatan senja pada dirimu untukku. Lagi, kumohon.
“Isssshhhh kau inilah. Aku merindukan senja di gunung.”
“Senja, senja dan senja. Apa kau tidak takut menginap di atas gunung bersamaku?”
Kau mengatup pelupuk, kemudian membukanya dan memainkan bola mata ke kanan kiri, lalu berputar-putar, akhirnya menutup kembali. Tak berapa lama, membuka dan berujar.
“Kau kan orang baik. Tak mungkin merusakku.”
Inilah yang paling kusuka padamu. Kepercayaan yang kau tempah padaku, membuatku semakin ingin dan ingin menjagamu mencari senja dari berbagai daerah. Andai kau tahu, saban malam aku selalu menyebut namamu di sepertiga malam, kelak agar bisa memeluk senja dalam dirimu. Dengan begitu, kau dan aku selalu mampu mencairkan suasana.
“Kalau aku berubah jadi jahat, lalu merusakmu. Bagaimana?” Godaku lagi.
“Aku tidak percaya. Bagiku, kau itu sama seperti senjaku. Selalu menawarkan keindahan dengan megahnya keemasan.”
“Hahaha. Kau, delusi. Aku ini manusia, bukan senja.”
“Isssshhhh.”
Kau memunggungiku, dan aku mulai meredup seperti cakrawala saat ini yang berwarna abu rokok. Perlahan, rinai datang, berubah jadi rintik dan deras. Kau, gelisah. Sebab, kau sangat takut pada hujan. Ya, kau khawatir bahwa hujan akan menyapu semua kenangan tanpa tersisa. Itu sebabnya kau membenci hujan dan memilih senja karena keemasan yang megah.
Wajahmu tak lagi teduh. Tanganmu masih memutar pipet pada gelas, seolah batu es itu adalah gula yang hendak kau habiskan dalam minuman. Kegelisahan terbaca jelas dari gerakmu yang mengajak pulang.
“Ini musim bulan ember, lebih baik tidak usah ke gunung.” Ujarku.
Kau membalikkan tubuh. Menatapku tajam, seakan ingin mencabik mulutku. Walau begitu, aku tetap mengagumimu. Aku tahu betul, kepergianmu mencari senja untuk mencuri keemasannya, lalu kau jadikan tinta untuk bahan tulisan yang akan kau kirim ke media. Dasar licik. Pantas saja tulisanmu sering terbit saat fajar menyongsong setiap akhir pekan. Ternyata, kau menulis dengan tinta emas. Lihat saja, esok akan kucuri senja dalam dirimu. Agar kau berhenti menulis dan melihat aku sebagai manusia bukan senja.
“Tapi, aku yakin pasti ada senja di bulan ember, walaupun cuma sekali.”
“Tidak ada.” Tegasku.
“Ada. Bukannya cuaca saat ini tidak bisa ditebak. Karena adanya perubahan iklim akibat penaikan emisi gas rumah kaca. Sama seperti manusia, juga tidak bisa ditebak saat keadaan menjepit perekonomian.”
Sungguh. Aku ingin sekali menghabiskan waktu bersamamu sampai waktu menutup usia. Pikirmu yang kritis, sulit untuk kutemui dari perempuan lain. Kau, memang pantas kujadikan sekolah pertama buat anak-anakku, nanti. Sialnya, kau masih saja belum membuka hati. Trauma yang menyelimuti, membuat kau hilang arah jalani hidup untuk pulang.
“Baiklah. Kalaupun senja ada, ia tidak seperti yang kau harapkan. Tidak ada keemasan. Dan belum tentu ada di gunung. Perjalanan kita akan sia-sia.”
Kau malah menunduk. Aku merasa bersalah sudah mematahkan semangatmu. Tapi, aku berkata yang sebenarnya. Kau akan kecewa setiba di atas gunung pada musim hujan. Kau benar, cuaca memang tidak bisa ditebak, namun manusia sudah terlalu canggih untuk menciptakan prediksi cuaca di ponsel. Bahkan, kita bisa mengetahui cuaca hari esok, walaupun belum dilalui. Hanya senja saja yang belum bisa diprediksi manusia. Itu sebabnya kau berkutat untuk mengejar senja dari sudut mana saja.
Kau mengangkat kepala sedikit, kulihat ada bekas aliran air dari sudut matamu. Benarkah kau menangis? Jangan, kau boleh menangis, namun jangan saat rintik membasahi bumi. Aku khawatir rintikan dari matamu akan menghapus senja pada tulisan-tulisanmu.
“Eh, kok menangis?” Tanyaku.
Kau membisu. Menatapku dengan hampa, di mana letak keemasan yang kau sembunyikan dalam retina? Jangan katakan bahwa kau sedang menikamnya saat ini. Bila itu terjadi, kau akan berhenti mencari keemasan di ufuk barat, dan aku tidak memiliki peluang untuk terus bersamamu.
Hujan masih menderas. Kecemasan bercampur kesedihan terlukis jelas di retinamu. Senja yang kau tunggu di kota malah bersembunyi di balik awan hitam. Kesedihanmu lantaran kenangan-kenangan yang dibawa arus akan tergenang di hilir, entah diserap pori-pori bumi atau malah teronggok di selokan, serupa limbah. Entahlah!
“Kita pulang saja, ya.” Katamu.
Apakah aku tidak salah mendengar ajakanmu. Bukankah kau membenci hujan, malah ingin menghadapinya. Ada apa denganmu? Apakah kau sudah siap mengikhlaskan perihal yang membuatmu semakin sakit?
“Sekarang?”
“Tahun depan.” Jawab kesalmu.
“Tenang. Waktu kita tinggal sebulan lagi untuk menyambut tahun baru.”
“Aku serius. Ayo pulang!”
“Tunggu. Kita tidak mungkin pulang kalau minuman kita tidak dibayar.”
“Ya sudah, biar aku saja yang bayar.”
“Aku saja.”
“Aku saja. Aku tidak mau berhutang budi.”
“Labil,” bisikku.
“Apa?” Tanya nada tajammu.
Aku menggeleng, segera bergegas ke meja kasir. Kau sempat mengangkat tubuh, tapi aku lebih mendahuluimu mengejar meja kasir.
Hujan masih saja betah membasahi bumi, walaupun tidak sederas sebelum aku membayar minuman. Aku terus memandang wajahmu dari samping. Benar. Kau masih ragu untuk berjalan di bawah hujan, terbukti kau masih menunggu hujan reda di depan kafe.
“Yakin mau pulang? Mobilku terpakir jauh dari sini.”
Kau berlari kecil meninggalkan beranda kafe menuju parkiran sembari berteriak, “Suka atau tidak, masalah harus dihadapi termasuk hujan.”
Aku hanya tersenyum simpul sambil mengejar lari kecilmu. Semoga senja mendukungku untuk merayu Sang Pencipta yang menciptakan cinta dalam dirimu.
Kini kutahu hanya ada keemasan senja dalam retinamu. Senja yang berwarna perpaduan merah, emas dan hitam sudah kau telan. ***
.
.
Siti Maulid Dina. Alumni Pendidikan Matematika UINSU Medan.
.
Menulis Senja. Menulis Senja. Menulis Senja. Menulis Senja.
.